Di SMP dulu aku punya guru
yang menurutku cantik sekali. Begitu juga menurut teman-temanku. Dampak
kecantikan Bu Guru ini luar biasa, terutama bagi kegembiraan kami. Jika esok
hari ada pelajarannya, malam hari kami sudah tak sabar ingin menjemput pagi.
Jika pagi sudah tiba, kami tak sabar untuk masuk ke sekolah. Ketika kami sudah di kelas, rasanya tegang sekali menungu
Bu Guru ini masuk ruangan. Suara sepatunya seperti dentaman di jantung kami.
Aku tak mengerti bagaimana tafsir kecantikan itu bagi teman-temanku.
Tetapi bagiku saat itu, rasanya khusus sekali. Rasanya waktu itu, aku malah
telah jatuh cinta pada guruku ini. Diam-diam aku menulis surat cinta. Tak pernah aku kirim itu pasti. Ia
hanya kutulis dan setelah jadi kusobek-sobek
sendiri. Kertas itu memang telah hancur, tetapi perasaanku terpatri dalam sekali. Setiap kali aku membayangkan
wajah guruku itu, aku mendadak suka bernyanyi. Lag-lagu cinta, itu pasti.
Rapat-rapat aku menembunyikan perasaanku ini. Karena bahkan ketika Bu Guru itu
kebetulan berpasan, menatapnya pun aku tak berani. Gemetaran, dari ujung rambut
sampai ujung kaki.
Berbeda dari teman-temanku yang bongsor-bongsor itu, yang entah
karena besar tubuhnya atau karena besar
nyalinya, tiba-tiba jadi jagoan kelas. Mereka, gerombolan anak-anak nakal itu
lebih leluasa mengungkapkan perasaannya.
Bu Guru cantik ini sering digodanya.
Sekali waktu malah dengan kenakalan yang disengaja. Tujuannya jelas, biar
diundang ke ruangan Bu Guru untuk kena marah secara pribadi. ‘'Karena dalam
kemarahan pun dia cantik sekali,'' kata temanku yang preman kelas itu gembira
setengah mati. Sambil dimarahi, temanku ini, bukannya menunduk, melainkan sibuk
menatap seluruh wajah gurunya. ‘'Bibirnya
bagus sekali,'' katanya.
Aku, pada saat semacam itu, sebetulnya dilanda perasaan
yang amat cemburu. Di mata teman-temanku, aku pasti tak lebih dari figuran yang
ada di pinggir. Yang tidak kebagian cinta dan perhatian Bu Guru yang sedang
jadi rebutan. Tetapi teman-temanku itu keliru. Jika soal jatuh cinta kepada Bu
Guru, mereka pasti cuma menang riuh di luaran. Mereka cuma terkenal karena tampil
secara keroyokan dan terus terang. Tetapi mereka tidak tahu, jika cuma soal
keriuhan, aku pasti lebih riuh dari mereka, walau aku riuh di dalam diam. Diam
tapi riuh sekali! Dalam hati, aku sudah
diam-diam melakukan tantangan kepada rival-rivalku itu. Bahwa soal mencintai Bu
Guru cantiknya, model cintaku ini jauh lebih seru, walau cuma aku sendiri yang
tahu.
Aku memang tidak bisa senakal teman-temanku. Di dalam
kompetisi secara terbuka, tampaknya aku tidak kebagian. Jangankan menang,
bahkan dianggap peserta pertandingan pun pasti tidak. Tetapi mereka lupa, bahwa
aku bisa sibuk sekali. Aku bisa menulis segenap perasaanku. Meskipun surat-surat kepada gurku
itu tak ada pun yang tersisia karena selalu aku sobeki pada akhirnya. Tetapi
aku bisa menulis dan menulis seperti orang gila. Berlembar-lembar kertas aku
tulisi. Dari menulis kau bisa menyanyikan perasaanku dengan penuh seluruh. Sementara
teman-temanku saling berebut klaim, bahwa merekalah murid istimewa di mata Bu
Guru cantiknya, aku juga bisa membuat klaim atas diriku
sendiri, bahwa akulah satu-satunya murid yang berani menulis surat cinta kepadanya,
berani jatruh cinta secara intensif dan menyanyi-nyanyi seperti orang gila,
tanpa seorang pun tahu apa yang sebenarnya
terjadi dengan diriku ini.
Sudah tentu, kompetisi ini akhirnya berakhir sia-sia.
Karena betapapun kami jatuh cinta hingga jungkir balik, cinta kami itu tak
lebih cinta kanak-kanak belaka. Cinta monyet saja sudah sebutan yang terlalu tua. Cinta anak monyet
itulah tepatnya. Pada akhirnya, Bu Guru kami itu tetap harus menikah dengan jodoh yang semestinya dan kami harus kembali bersekolah
sebagaimana mestinya. Pada akhirnya, tidak jelas, jatuh cinta model siapa yang
lebih juara, caraku atau cara mereka. Tetapi yang jelas, kompetisi ini mengajarkan
kepadaku tentang pentingnya memiliki jalan pedang sendiri-sendiri. Karena hobiku
jatuh cintai diam-diam inilah yang membuat aku bisa asyik menulis dan berimajinasi. Kebiasaan itulah yang membuatku
jadi wartawan, menulis buku dan berceramah
yang astaga... cuma ngomong saja bisa dibayar banyak sekali. Jadi ada kekuatan yang amat khas di
dalam diri kita ini, yang tak perlu dipertandingkan, tak bisa disaingi, yang
jika setiap kita mau mempercayainya, ia
akan menjadi kekuatan terbaik kita.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Iklan Meditasi Itu
|
 |
Berkah Seorang Penipu
|
 |
Kucing Yang Bertamu
|
 |
Saya Dan Bapak Saya
|
 |
Jaga Kampung
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Harga Bunuh Diri
(Artikel Tetap) -
Senin, 30 Juni 2008
|
 |
Klik, Hidup Anda Telah On
(Artikel Tetap) -
Selasa, 01 Juli 2008
|
 |
Seperti Jenderal Di Medan Perang
(Artikel Tetap) -
Rabu, 02 Juli 2008
|
 |
What Is Success
(Artikel Tetap) -
Jumat, 04 Juli 2008
|
 |
Tindakan Nyata Bukan Hanya Sekedar Kata-kata
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 05 Juli 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Menjadi Seorang Pahlawan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 27 Juni 2008
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu Bagian II
(Artikel Tetap) -
Kamis, 26 Juni 2008
|
 |
Harga Sebuah Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 24 Juni 2008
|
 |
Developing A Good Business Relationship
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juni 2008
|
 |
Kursi Bambu
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juni 2008
|
|
|