Kita adalah manusia yang tidak sempurna, yang sedang hidup di tengah dunia yang tidak sempurna. Oke, saya tahu kalimat itu terkesan negatif dan mungkin Anda tidak suka membacanya. Tetapi maaf, suka atau tidak suka, itulah realita hidup kita. Anda dapat berusaha melawannya, tetapi pada akhirnya Anda akan menemukan diri kelelahan dan tidak berdaya.
Saya menyimpulkan bahwa kunci hidup bahagia terletak pada kesediaan menerima ketidaksempurnaan ketimbang melawan atau terus meratapinya.
Menerima Vs. Menyerah
Tentu saja, maksud menerima di sini bukan berarti menyerah pada nasib. Sebaliknya, menerima keadaan seperti apa adanya dapat memberi kekuatan untuk berjuang. Saya akan jelaskan memakai pengalaman pribadi.
Pada saat sekolah di Melbourne, hampir setiap akhir pekan saya bekerja dari jam 11 malam sampai jam 9 pagi. Itu adalah tahun-tahun yang jauh dari sempurna. Saya ingat, malam tahun baru 1998 teman-teman pulang ke negaranya masing-masing. Beberapayang tinggal di Melbourne menikmati malam tahun baru mereka dalam sebuah pesta. Sementara itu saya bekerja kedinginan di dalam "cool-room 7-Eleven" untuk mengatur minuman dan stock barang lainnya.
Selama bertahun-tahun saya melakoni kehidupan seperti demikian. Bekerja di malam hari bukan saja perjuangan menahan ngantuk, lebih dari itu adalah risiko menghadapi sekelompok orang rasis yang sedang dalam keadaan mabuk.
Masih segar di ingatan saya, pada suatu kali kira-kira jam empat pagi sekompok orang masuk ke dalam toko "7-Eleven" yang sedang saya jaga sendirian. Tanpa basa-basi salah seorang dari mereka berteriak "I hate Asian! - Saya benci orang Asia!". Ia kemudian mengambil air mineral dan menumpahkannya di kepala saya hingga membasahi seluruh tubuh.
Tentu saja saya ingin melawan. Tetapi bila Anda menyaksikan situasinya saat itu maka Anda akan setuju bahwa melawan adalah sebuah kebodohan. Akhirnya, saya memutuskan untuk menerima pelecehan itu. Karena tidak memiliki baju dan celana ganti, sayapun harus bertahan menggigil kedinginan hingga pemilik toko tiba pada pukul 9 pagi.
Kenyataan seperti itu sangat tidak menyenangkan, jauh dari sempurna. Saya dapat memilih untuk tidak menerimanya, dan kemudian pulang ke Indonesia. Tetapi hal itu hanya membuat saya gagal mencapai impian, dan mungkin berakhir sebagai pecundang. Jadi, menerima bukan berarti menyerah dan berhenti sekolah, sebaliknya penerimaan terhadap kesulitan yang ada telah memacu saya untuk terus berjuang. Bagaimana dengan Anda?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Eloy Zalukhu - Motivational Speaker & Bussines Trainer
|
 |
Berdamai Dengan Ketidaksempurnaan (1)
|
 |
Memaafkan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Desember 2006
|
 |
Hujan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 21 Januari 2007
|
 |
Hukum Newton Ketiga
(Artikel Tetap) -
Kamis, 08 Februari 2007
|
 |
Iklan Meditasi Itu
(Artikel Tetap) -
Selasa, 13 Maret 2007
|
 |
Meraih Sukses Dengan Melayani
(Artikel Tetap) -
Rabu, 14 Maret 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Manusia Pribadi Yang Unik
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Mei 2007
|
 |
Self-reflection
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Mei 2007
|
 |
The Power Within You
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Maret 2007
|
 |
Elang
(Artikel Tetap) -
Senin, 12 Maret 2007
|
 |
36 Ji (36 Stratetgy) For Happy Life - Strategy #5
(Artikel Tetap) -
Jumat, 09 Maret 2007
|
|
|