Cuma untuk membedakan mana yang penting dan mana yang mendesak,
ternyata makin tidak mudah, termasuk dalam soal membeli barang. Karena jika
Anda mulai memiliki uang, semua barang menjadi kelihatan penting dan mendesak. Karena semakin maju ilmu pemasaran,
para
marketer itu juga makin pintar
mementing-mentingkan dan mendesak-desakkan dagangan mereka. Akhirnya seluruh barang
akan terlihat penting dan mendesak.
Tengoklah almari Anda yang penuh berjejalan itu. Apakah seluruh
pakaian itu selalu Anda kenakan? Ternyata tidak. Barang yang
tersimpan di dalamnya begitu lama, adalah barang yang kadang amat jarang
dimanfaatkan. Inilah ternyata keadaan almari kita itu: ia terlalu sering diisi tetapi amat jarang dikeluarkan.
Sampah di mana-mana di rumah kita, tetapi kita sering menganggapnya sebagai
barang yang berguna. Ini kalau kita setuju
pada definisi sampah berikut ini, yakni: sampah adalah barang yang kita miliki
tetapi sama sekali tidak pernah ada gunanya. Jadi membedakan mana yang penting
dan mendesak adalah panduan yang begitu tua umurnya, tetapi tidak mudah mendapat
kepatuhan begitu saja.
Seperti juga ketika suatu kali aku harus membeli sebuah
kursi bambu. Ini jelas bukan barang penting apalagi mendesak. Apalagi di teras
rumahku telah penuh kursi. Begitu penuhnya sehingga seluruh teras itu isinya
malah cuma kursi melulu. Semua ini gara-gara aku terlalu lama tidak punya
kursi, sehingga siapa saja tetangga yang hendak membuang kursi lamanya, langsung teringat
keadaanku. Akibatnya di teras rumah itu, kini penuh kursi pemberian. Jadi
kesulitanku sekarang bukan lagi bagaimana menambah tetapi sudah berganti
bagaimana mengurangi.
Dari perhitungan ini, membeli sebuah kursi lagi, bukan cuma
tindakan yang tidak penting dan tidak mendesak,
tetapi juga sebuah kekonyolan. Tetapi hidup memang berisi tidak cuma soal yang
penting dan yang mendesak, tetapi juga
berisi rasa iba dan tak enak hati.
Melihat seorang tua, dengan empat kursi bambu panjang di pikulan adalah
pemandangan yang tak mengenakkan. Beban itu pasti berat sekali. Dan cuma empat
kursi itu saja yang sanggup dipikul pedagang tua ini.
Maka kalau jumlah kursinya masih empat senantiasa, pasti belum ada satupun
dagangan itu yang laku.
Melihat beban orang tua ini, aku segera teringat uang Rp 6
milyar yang cuma dibungkus tas plastik untuk bonus seorang oknum jaksa.
Teringat pula aku pada tumpukan uang ratusn ribu, pecahan uang terbesar di
negaraku, yang cuma ditumpuk di dalam ember kamar mandi seorang koruptor, ketika KPK
menggeledah rumahnya. Ada uang berlimpah-limpah
di sebelah sana, tetapi ada kerumitan hidup tak terperi
di sebelah sini. Maka kursi bambu ini, kubeli tak lebih karena perasaan tak
enak hati melihat pendulum sosial yang berat sebelah ini.
Tetapi inlah risikonya, setelah kursi ini terbeli, aku segera
bingung sendiri. Di mana gerangan ia harus diletakkan? Tetapi aku kaget sendiri keitka kursi sepanjang ini ternyata ringan sekali. Karena bobotnya itu,
aku jadi tergerak untuk membawanya ke lantai atas, lantai kosong tanpa atap
yang selama ini sulit diisi perabotan karena tangga menujunya sempit sekali.
Tetapi dengan kursi seringan ini,
meskipun panjang, dengan sedikit manuver,
ia pasti akan sampai ke atas sana. Dan benar akhirnya
sampai juga barang ini di sana.
Sejak itu lantai atas tempat aku
terbiasa menggelar tikar, tiduran sambil membaca itu, telah punya kursi
panjangnya.
Di kursi itulah aku memiliki gaya rebahan yang baru. Membaca sambil
rebahan, merasakan semilir angin,
mengantar matahari terbenam jika sore melihat bintang-bintang jika malam.
Tiduran di kursi bambu ini membuat aku sering tertidur tanpa terasa. Tidur dengan kualitas yang amat
jarang aku rasakan sebelumnya. Dan setiap
kelelahan, aku cukup naik ke lantai
tanpa atap ini untuk rebah d kursi ini dan tidur dengan cepatnya untuk bangun
dengan gembira. Setiap bangun aku memandang kursi bambu jelek itu. Pikiranku
ialah: kursi ini kubeli dengan niat baik.
Pantas saja jika ia ganti membawa kebaikan untukku!
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS
|
 |
Anak Kucing (1)
|
 |
Tiga Hari Untuk Limabelas Menit
|
 |
Hukum Newton Ketiga
|
 |
Soal-soal yangMemang Harus Terjadi
|
 |
Buah Sengsara
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Developing A Good Business Relationship
(Artikel Tetap) -
Senin, 23 Juni 2008
|
 |
Harga Sebuah Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 24 Juni 2008
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu Bagian II
(Artikel Tetap) -
Kamis, 26 Juni 2008
|
 |
Menjadi Seorang Pahlawan
(Artikel Tetap) -
Jumat, 27 Juni 2008
|
 |
Guruku Cantik Sekali
(Artikel Tetap) -
Senin, 30 Juni 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Orang Kreatif Itu Spesies Langka
(Artikel Tetap) -
Kamis, 19 Juni 2008
|
 |
Magnificent Hearts
(Artikel Tetap) -
Rabu, 18 Juni 2008
|
 |
Adakah Waktu Untuk Bersenang-senang?
(Artikel Tetap) -
Selasa, 17 Juni 2008
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu Bagian I
(Artikel Tetap) -
Selasa, 17 Juni 2008
|
 |
To Unlock The Potential Within, To Secure A Brighter Future
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Juni 2008
|
|
|