|
|||
|
Penulis : Pitoyo Amrih
( Profil Penulis )
Rating Artikel :
Selasa, 17-Juni-2008
Beberapa
kali saya amati, rupanya topik yang saat ini masih relatif hangat -selain
kejuaraan sepakbola piala Eropa- adalah masih seputar kenaikkan harga BBM.
Seperti biasa ada yang pro ada kontra. Yang kontra ada yang berusaha mengerti
kebijakan pemerintah, ada yang masih juga tak henti-henti menghujat. Ada yang sampai sekarang
tak henti-hentinya melakukan demo. Apakah demo mereka memang murni menyuarakan
teriakan rakyat kebanyakan? Entahlah.
Dalam hal ini saya memilih untuk tidak akan larut dengan hanya berkutat pada wilayah -kalau istilahnya 7 Habits- lingkaran kepedulian. Biarlah kenaikkan harga BBM sebagai sebuah keputusan yang harus kita hargai karena diambil oleh penguasa yang mendapat legitimasi rakyat. Sehingga dari sisi manapun, akan sangat kontra produktif bila kita selalu saja menyalahkan pemerintah atas apa yang mereka putuskan. Kritik boleh, tapi alangkah lebih baik bila saja kita juga berusaha untuk mengambil bagian dari solusi. Bukan justru menjadi sumber masalah baru. Itulah mengapa saya ajak anda untuk coba -terhadap kenaikkan harga BBM ini- untuk berkonsentrasi kepada lingkaran pengaruh kita masing-masing. Apa yang bisa kita masing-masing lakukan terhadap kondisi ini? Berulangkali ilmuwan mengatakan bahwa energi mineral ada batasnya. Kalau kita coba sedikit berteori, bila kita coba ingat-ingat jaman SMA dulu, dimana energi itu kekal. Tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, mereka hanya berpindah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Namun jangan lupa, ada sebuah besaran energi yang disebut entropi. Besaran inilah yang ternyata membuktikan bahwa dari hari ke hari, -walaupun energi itu kekal- kita menuju kepada sebuah keadaan dimana energi semakin susah untuk didapat, semakin susah untuk bisa dinikmati secara instan. Pendek kata, lama kelamaan energi itu akan langka! Butuh sebuah inovasi teknologi-teknologi baru untuk membuatnya bisa dimanfaatkan. Loh, apa hubungannya? Sangat berhubungan! Sekian lama manusia hidup dari generasi ke generasi, kita semakin memperoleh kemudahan atas hasil teknologi yang telah diciptakan. Di satu sisi kemudahan bisa membuat efektif, tapi di sisi lain kemudahan bisa mengaburkan penilaian kita. Ambil contoh misal seorang anak yang dilahirkan dari keluarga kaya raya. Mungkin apa yang ada dibenaknya selalu menganggap bahwa kehidupannya begitu mudah. Ingin mainan apa saja selalu saja bisa terwujud. Kita lihat keinginannya selalu terpenuhi -baca: efektif-. Tapi si anak akan semakin jauh dari kesadaran bahwa ‘semuanya ada batasnya'. Inilah yang saya maksud sebagai ‘mengaburkan penilaian' kita. Terbukti bahwa, kita yang lahir tidak pernah mengenyam masa revolusi Industri di Eropa dulu, atau masa resesi ekonomi dunia setelah PD I. Akan selalu dengan mudah menstater mobil untuk pergi ke tempat yang memungkinkan untuk ditempuh dengan jalan kaki. Kita akan dengan ringan membiarkan televisi tetap menyala, walaupun tak ada orang yang menyaksikannnya. Sebuah keadaan yang sudah saatnya kita untuk berubah! Mobil butuh bahan bakar mineral. Televisi menyala butuh tenaga listrik yang sebagian besar masih diperoleh dari pembangkit tenaga berbahan bakar mineral. Tanpa kita saat ini merubah sifat manja kita sebagai manusia yang tanpa sadar telah rakus mengkonsumsi alam jauh di atas kebutuhan hakiki kita sebagai manusia, maka tidak heran bila energi alam akan begitu cepat terkonsumsi meninggalkan laju kemampuan kita mencari alternatif energi baru. Kita mungkin tidak begitu merasakan impak dari hal ini. Tapi bayangkan reaksi berantai itu akan menimpa anak cucu beberapa generasi setelah kita. Bagaimana pun, harga BBM cepat atau lambat memang harus naik. Bukan karena masalah penghapusan subsidi atau apa, tapi ‘big picture'-nya memang energi ini semakin langka. Dan seperti hukum supply-demand. Yang langka akan menjadi mahal. Lihatlah sisi baiknya. Dengan adanya ini kita seolah dipaksa. Dipaksa untuk berbagi sumber daya alam dengan anak cucu kita... (bersambung) 14 Juni 2008 Pitoyo Amrih www.pitoyo.com Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga |
|||
|
|||
| ( View : 8822 | Refer : 0 | Print : 166 | Rate : 8.00 / 1 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Adakah Waktu Untuk Bersenang-senang? (Artikel Tetap) - Selasa, 17-Juni-2008 | ||
| • | Magnificent Hearts (Artikel Tetap) - Rabu, 18-Juni-2008 | ||
| • | Orang Kreatif Itu Spesies Langka (Artikel Tetap) - Kamis, 19-Juni-2008 | ||
| • | Kursi Bambu (Artikel Tetap) - Senin, 23-Juni-2008 | ||
| • | Developing A Good Business Relationship (Artikel Tetap) - Senin, 23-Juni-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | To Unlock The Potential Within, To Secure A Brighter Future (Artikel Tetap) - Senin, 16-Juni-2008 | ||
| • | Di Sebuah Alun-alun (Artikel Tetap) - Senin, 16-Juni-2008 | ||
| • | Jika Tuhan Mengingatkan Kita (Artikel Tetap) - Jumat, 13-Juni-2008 | ||
| • | Jangan Pernah Berkata Aku Tidak Bisa (Artikel Tetap) - Kamis, 12-Juni-2008 | ||
| • | Kentang Bolong (Artikel Tetap) - Rabu, 11-Juni-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



