Belakangan ini ada banyak kasus perselingkuhan
terjadi di sekitar saya, mulai dari kasus para klien sampai pada istri
tukang ojek dekat rumah. Dalam hal ini kebanyakan para wanita yang
menjadi korban yang diselingkuhi oleh suaminya.
Banyak anggapan
para suami yang selingkuh pasti dikarenakan pelayanan atau perlakuan
sang istri yang kurang memuaskan atau kurang perhatian. Dengan kata
lain, istri yang terlalu dingin atau terlalu galak. Asumsi di atas
ternyata berhasil dipatahkan dengan kisah-kisah nyata perselingkuhan
yang terjadi di sekitar saya.
Seorang ibu berusia empat puluh
tahun bercerita suaminya kepergok bermain wanita beberapa bulan yang
lalu. Yang ternyata, wanita itu telah menjadi simpanan suaminya selama
bertahun-tahun. Berdasarkan asumsi di atas, saya menanyakan berbagai
pertanyaan kepada ibu tersebut seperti pertanyaan, "Bagaimana perlakuan
ibu terhadap suami?", "Bagaimana pelayanan seksual ibu kepada suami?"
Saya berpikir mungkin ada yang salah dengan ibu ini sehingga membuat
suaminya mencari wanita lain. Ternyata si ibu ini seorang istri yang
baik. Setiap pagi ia menyiapkan semua keperluan suaminya. Dalam
hubungan seksual si ibu ini selalu melayani gaya permintaan suaminya.
Bahkan, ketika saya konfirmasikan kepada sang suami, ia pun menyetujui
kalau istrinya adalah istri yang baik. Ketika saya tanyakan apa yang
membuat dia bermain perempuan lain, jawabannya adalah karena rasa
kepingin! Dan kisah di atas bukan hanya terjadi pada satu pasangan.
Banyak kasus perselingkuhan terjadi bukan karena ketidakpuasan dalam
perkawinan itu sendiri. Tapi karena kepingin! Seorang istri yang
kepergok selingkuh oleh suaminya berkata kepada saya kalau suaminya
sangat baik terhadapnya, tapi dia tidak kuasa menahan hasrat untuk
menanggapi godaan lelaki selingkuhannya. Rasanya menantang dan kepingin
bereksplorasi.
Beberapa hari kemudian, istri tukang ojek
dekat rumah terdengar menjadi stress karena suaminya selingkuh melalui
SMS. Ternyata berawal dari SMS iseng seorang wanita berakhir ke
perselingkuhan yang membuat si tukang ojek sering pulang jam dua subuh!
Dan sekarang istri tukang ojek tersebut menjadi agak kurang waras.
Ketika iseng-iseng saya tanya pada si tukang ojek dia menjawab,
"Awalnya cuma iseng. Tapi enak juga sih." Edan kan?
Belum
lama berselang seorang bapak tetangga saya mencoba bunuh diri dengan
meminum obat nyamuk cair. Keluarganya menjadi panik setengah mati.
Istrinya menyangka bapak tersebut putus asa karena penyakit yang
dideritanya. Sang istri setiap malam harus begadang untuk menemani
bapak tersebut jika mau ke WC. Dia juga yang bekerja menggantikan sang
suami. Dan karena kejadian percobaan bunuh diri tersebut si istri
menjadi sangat lebih perhatian kepada suaminya. Usut punya usut,
ternyata bapak tersebut mencoba bunuh diri karena ia mempunyai anak
hasil hubungannya dengan mantan pembantunya. Ia stress karena wanita
itu meminta uang dalam jumlah banyak. Weleh... weleh!
Suatu
sore saya ngobrol dengan seorang ibu yang suaminya terkenal sering
bermain perempuan. Perempuan jablay, ibu tersebut menyebutnya demikian.
Ia tetap bertahan hanya karena memikirkan anak-anaknya. Ia berkata
kepada saya, "Jangankan perempuan yang agak seksi, kentang bolong aja
bisa kali dinikahi oleh suami saya!" Ha??
Fenomena apa ini?
Perselingkuhan yang terjadi bukan lagi permasalahan salah satu pihak
yang tidak melayani, melainkan sudah menjadi masalah kepingin yang
besar. Ini adalah fenomena nafsu keinginan kita telah menjadi menggajah
melampaui kendali kita. Nafsu-nafsu ini telah menjadi jin yang merasuki
dan menyetir pikiran orang-orang yang dirasukinya.
Kita
sangat terbiasa untuk terus mengharapkan dan meminta yang terus lebih
besar. Jika saat ini gaji kita hanya tiga juta rupiah maka kita
mengharapkannya menjadi enam juta rupiah, ketika menjadi enam juta
rupiah kita tembakkan lagi harapan untuk menjadi sepuluh juta dan
begitu seterusnya. Apa yang telah kita dapatkan menjadi telah expired
dalam keinginan kita sehingga kita menembakkan harapan baru yang lebih
fresh dan lebih tinggi. Jika saat ini kita sudah mampu membeli mobil
keluarga maka kita akan tembakkan lagi keinginan untuk membeli mobil
sport. Jika tahun ini kita bisa pergi ke negara Asia maka untuk tahun
depan kita tembakkan lagi untuk pergi keliling Eropa. Kita yang melatih
nafsu keinginan untuk terus menjadi lebih besar dan lebih kuat. Dan
nafsu untuk terus mendapatkan yang lebih besar tersebut telah mengakar
dalam diri kita. Sampai-sampai ketika melihat istri atau suami yang
telah ada di rumah secara otomatis nafsu tersebut menembakkan sendiri
keinginan untuk mendapatkan perempuan atau lelaki lain yang lebih muda,
lebih cantik, lebih ganteng, lebih kuat, lebih kaya. Ya, law of
attachment itu akhirnya menjadi otomatis. Menggerogoti kita dengan
nafsu-nafsu yang terus lebih dasyat. Kita menjadi budaknya dan jeratan
penderitaan mengikat sesak jika hasrat keinginan yang kuat tersebut
gagal terealisir. Dan kita bisa melakukan apapun untuk membuatnya
menjadi terealisir seperti seorang pecandu yang akan melakukan hal di
luar nalar demi mengatasi rasa sakau-nya. Sehingga jangan heran jika
hutan menjadi ludes, alam hancur akibat penambangan liar, biota laut
rusak akibat peledakan penangkapan ikan dan penyakit diabetes, jantung
dan kolesterol menjadi penyakit favorit akibat makan yang sangat
berlebihan.
Jika diceritakan secara gamblang memang terkesan
porno. Tapi itulah yang sungguh-sungguh sedang terjadi, bukan hanya di
masyarakat, tapi juga sedang terjadi di dalam diri kita! Sedikit sekali
yang melatih untuk melepaskan keinginan-keinginan. Kebanyakan dari kita
terus menembakkan keinginan-keinginan baru yang lebih besar dan terus
lebih besar sampai akhirnya kita kebelenger sendiri karena dosis
keinginan itu menjadi terlalu besar untuk didapatkan.
Suatu
ketika ada seorang petani yang rajin mengunjungi seorang pertapa di
atas gunung. Pertapa itu selalu menanyakan hal yang sama setiap kali
petani itu datang, "Sampai sebesar mana tanah milikmu yang membuatmu
cukup?" Di kedatangan pertama petani itu menjawab, "Sampai sebesar
sepetak rumah seorang saudagar untuk mencukupi makan istri dan
anak-anakku." Di kedatangan yang kedua, pertanyaan sama dilontarkan
oleh si pertapa. Petani tersebut menjawab, "Ternyata tanah sebesar
rumah saudagar hanya cukup untuk makan. Saya bahagia jika sebesar
tambak ikan milik pak haji. Di kedatangan ketiga, si petani ternyata
belum merasa cukup juga ia menjawab pertanyaan yang sama dengan
jawaban, "Mungkin saya berkecukupan jika tanah saya sebesar komplek
perumahan di kota sebelah." Di kedatangan berikutnya, ternyata si
petani yang telah mendapatkan tanah seluas perumahan di kota belum
merasa cukup juga sehingga ia pun melontarkan balik pertanyaan si
pertapa, "Sebenarnya sampai sebesar mana tanah milikku yang membuatku
cukup?" Si pertapa menjawab dengan santai, "Sampai sebesar kamu tidak
menginginkannya."
Ada perbedaan antara kebahagiaan dan
keinginan yang terus membumbung tinggi. Mereka berada di dua jalur yang
berbeda. Jalur kebahagiaan selalu penuh kedamaian, rasa syukur dan
terima kasih. Jalur keinginan selalu terus dipenuhi rasa kehausan untuk
mendapatkan lebih dan dahaga itu tidak pernah terpuaskan. Tapi banyak
dari kita berdalih justru kita mengejar keinginan-keinginan untuk
mencapai yang namanya kebahagiaan. Selama kita belum bisa membedakan
mana kebahagiaan dan mana yang merupakan nafsu-nafsu keinginan maka
kita akan terus menjual waktu dan hidup kita untuk menggapai
keinginan-keinginan dan kita sangka kita sedang menggapai kebahagiaan!
Justru kebahagiaan mulai tumbuh ketika kita berhenti menginginkan dan
mulai mensyukuri. Aneh kan?
Semua yang ada di dunia ini tidak bisa memuaskan keserakahan seseorang. (Buddha)
The world has enough for everyone but couldn't enough to satisfy one man's greed. (Mahatma Gandhi)
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Nathalia Sunaidi
|
 |
Walking Alone
|
 |
Permennya Lupa Dimakan
|
 |
Dunia Berubah Seketika
|
 |
Dengan Hati
|
 |
Hanya Lara Yang Tahu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Jangan Pernah Berkata Aku Tidak Bisa
(Artikel Tetap) -
Kamis, 12 Juni 2008
|
 |
Jika Tuhan Mengingatkan Kita
(Artikel Tetap) -
Jumat, 13 Juni 2008
|
 |
Di Sebuah Alun-alun
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Juni 2008
|
 |
To Unlock The Potential Within, To Secure A Brighter Future
(Artikel Tetap) -
Senin, 16 Juni 2008
|
 |
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu Bagian I
(Artikel Tetap) -
Selasa, 17 Juni 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Komunikasi Yang Sehat Antara Pemimpin Dan Karyawan
(Artikel Tetap) -
Senin, 09 Juni 2008
|
 |
The Power Of Open Mind
(Artikel Tetap) -
Senin, 09 Juni 2008
|
 |
Seperti Jenderal Di Medan Perang
(Artikel Tetap) -
Kamis, 05 Juni 2008
|
 |
Konsep Diri Positif
(Artikel Tetap) -
Senin, 02 Juni 2008
|
 |
Menjinakkan Orang-orang Sulit
(Artikel Tetap) -
Minggu, 01 Juni 2008
|
|
|