| Misi : Membangun Kekayaan Mental Manusia Indonesia Demi Kehidupan Yang Lebih Bernilai | ||
| Slogan : Bosan kita menderita ! Saatnya Bersama ! Bangun Indonesia ! | ||
| Kalender Januari 2009 | ||||||
| S | M | T | W | T | F | S |
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |
| • Pitoyo Amrih |
| Jumat, 30-Mei-2008 |
| 09:44:46 WIB |
| Kekerasan Di Sekitar Kita... |
| Keramik Bingkai |
| Ukuran Small |
| Luar Biasa! |
View Shopping Product |
|
Kemajuan Yang Mengasingkan Kita ( 0 Komentar ) - Klik Profil Penulis Rating Artikel : Oleh : Pitoyo Amrih Empat orang perempuan belasan tahun itu duduk dalam satu meja. Mereka pastilah berteman akrab, terbukti mereka saat itu berkumpul bersama di sudut lantai food-court sebuah mall. Untuk remaja pada usia mereka, pastilah mereka hanya akan menghabiskan waktu berjalan-jalan di pusat perbelanjaan hanya dengan teman-teman dekat mereka. Tapi aneh pemandangan siang itu. Karena saya perhatikan mereka berempat tidak saling ngobrol atau bersenda gurau layaknya para remaja yang ngeriung bersama teman-teman mereka. Mereka masing-masing memegang handphone di kedua tangannya di atas meja, sambil pencat-pencet sana-sini. Masing-masing asyik seolah ngobrol sendiri dengan telepon genggam mereka, tertawa sendiri, senyum sendiri. Seperti berada di dunia mereka sendiri masing-masing, tak perduli apa yang terjadi di sekitar mereka. Anda bisa bayangkan, tidak perlu jauh-jauh menengok ke belakang. Andai saja mereka melakukan itu sekitar duapuluh tahun lalu. Bisa jadi setiap orang yang melihat akan heran. Ketika diberitahu tentang mereka, orang tua mereka mungkin buru-buru memeriksakan mereka ke psikiater memeriksakan kesehatan jiwa mereka. Tapi saat ini hal itu menjadi sesuatu yang biasa. Ada lagi yang menarik. Ada seorang pemuda yang tinggal kira-kira beberapa blok dari rumah saya, setiap kali saya melihatnya, selalu memakai ear-phone di kedua telinganya. Suatu kali ketika saya berjalan berpapasan dengannya, coba saya sapa, dia sama sekali tidak mendengar. Saya coba tepuk pundaknya, dia pun terkejut sambil berusaha tersenyum dan seperti terheran bahwa ada seseorang yang menyapanya. Mungkinkah teknologi telah membuat kita seolah hidup dalam dunia kita sendiri masing-masing, dan semakin meminggirkan rasa kepedulian kita terhadap orang lain? Sulit untuk tidak berprasangka bahwa memang hal itulah yang terjadi. Saya pun bukanlah orang yang bersih dari sifat kemandirian atas pengaruh teknologi ini. Saya terkadang asyik berada di dunia saya sendiri sambil menuangkan isi kepala saya ke dalam layar notebook tanpa pernah tahu bisa jadi istri saya pada saat yang sama sungkan ingin mengkomunikasikan sesuatu kepada saya. Atau mungkin ketika di lain kesempatan, giliran anak saya yang berharap cemas kapan bisa melewatkan waktu bersama saya. Sanggupkah kita suatu ketika misalnya sehari penuh meluangkan waktu bersama keluarga, bersama orang-orang dekat disekitar kita, matikan dan simpan handphone kita jauh-jauh, laptop dan organizer masukan dalam laci. Matikan radio dan televisi? Kita memang kebetulan hidup di jaman dimana teknologi seperti berlari. Di jaman seperti ini mungkin susah membayangkan jika kita tidak memiliki telepon genggam, tidak pernah terhubung on-line. Tapi sungguh naif apabila itu semua justru malah merenggut sifat ke-’manusia’-an kita. Membuat kita buta dan tuli terhadap hal-hal yang terjadi pada orang-orang di sekitar kita, terutama keluarga kita. Dengan segala macam teknologi yang mampu kita beli ada di genggaman kita, seolah kita berlari jauh di depan menghadapi segala rintangan kehidupan. Tapi percayalah, ada saatnya kita harus ‘berjalan pelan’ atau mungkin malah ‘berhenti’, menengok kebelakang, dan ‘mengulurkan tangan’ pada orang yang ‘jauh tertinggal’ di belakang kita. Karena logikanya, menurut saya, apalah arti semua prestasi yang kita capai, bila kita justru menjadi terasing dari sifat kepedulian kita terhadap sesama, terutama orang-orang disekitar kita…
6 Juni 2008
|
|||||
![]() | |||||
| Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA Komentar Artikel : | |||||
| Belum Ada Komentar Untuk Artikel Diatas. Posting komentar Anda | |||||
|
|||||
|
( View : 510 | Refer : 1 | Print : 62 | Rate :
8.00 / 1 Votes )
| |||||
| Artikel Selanjutnya | |||||
| Awal Dari Kebahagiaan - Selasa, 10-Juni-2008; 08:48:23 | |||||
| Mengajar Dengan Cinta - Rabu, 11-Juni-2008; 09:41:51 | |||||
| Semua Mengalir Semua Berubah (kreatif Atau Mati) - Kamis, 12-Juni-2008; 09:06:41 | |||||
| Belajar Dari Euro 2008 - Jumat, 13-Juni-2008; 08:48:08 | |||||
| Pathway To Succes (part 1) - Sabtu, 14-Juni-2008; 11:02:54 | |||||
| Artikel Sebelumnya | |||||
| Jatuh Dalam Kesalahan Dan Bangkit Dengan Kebenaran - Sabtu, 07-Juni-2008; 10:12:20 | |||||
| Change Your Question, Change Your Life - Jumat, 06-Juni-2008; 08:32:20 | |||||
| Wealth Series - Kamis, 05-Juni-2008; 09:00:45 | |||||
| Kerja Keras Sampai... - Rabu, 04-Juni-2008; 08:41:18 | |||||
| Ilmu Besi - Selasa, 03-Juni-2008; 08:07:39 | |||||
| Pengunjung Kemarin | 3143 |
| Pengunjung Hari Ini | 44 |
| Online | 22 |