Doraemon
dan Nobita..Pernahkah kamu menonton kisah mereka? Kepribadian sepasang
sahabat itu sangat menarik. Di satu sisi, Doraemon adalah pribadi yang
selalu ceria dan selalu menyemangati Nobita. Dan di sisi lain, Nobita
adalah seorang anak yang selalu merasa bahwa dirinya tidak mampu
melakukan apapun dan selalu mengandalkan orang lain, terutama Doraemon.
Pada
suatu hari, saya sedang bersantai dan melihat tayangan video Doraemon
di YouTube. Dan pada edisi yang saya tonton, ada sebuah pelajaran
menarik yang dapat saya petik dan saya ingin membagikannya melalui
artikel ini.
Edisi
yang saya tonton berjudul "Kacamata Suasana". Dikisahkan bahwa pada
suatu siang, Nobita pulang sekolah dalam keadaan panik karena aka nada
ujian olahraga pada esok harinya. Karena itu, Giant (teman Nobita yang
paling kuat) memaksa teman-temannya untuk melakukan latihan fisik pada
sore harinya. Nobita kemudian mengeluh pada Doraemon bahwa dia pasti
akan menjadi yang paling lamban, yang paling lemah, serta diejek oleh
teman-temannya yang lain karena ia pikir bahwa biasanya memang begitu. Kemudian karena Doraemon kasihan melihat sahabatnya, maka ia pun mengeluarkan sebuah Kacamata Suasana.
Kacamata
Suasana mempunyai 5 tombol yang dapat mengatur suasana hati pemakainya,
yaitu merah (marah), kuning(ceria), hitam(sedih), biru(terharu), serta
putih(netral). Kemudian Nobita memakainya pada latihan fisik di sore
.Ketika latihan lompat jauh, Nobita pun menekan tombol kuning sehingga
suasana hatinya menjadi ceria dan ia dapat melambung tinggi karena
melompat bahagia. Pada saat latihan memukul baseball, Nobita
menekan tombol merah, sehingga suasana hatinya dipenuhi oleh emosi yang
menggebu-gebu ketika akan memukul dan pukulannya ternyata menghasilkan home run. Demikian seterusnya hingga latihan fisik tersebut berakhir. Dan hasilnya adalah.. Nobita ternyata mempunyai potensi luar biasa yang selama ini tidak disadarinya.
Bahkan teman-temannya pun terpana melihat kemampuan Nobita (mereka
tidak mengetahui bahwa ternyata Nobita menggunakan Kacamata Suasana
untuk mengatur mood-nya).
Bagaimana
dengan kamu ?? Apakah kamu selalu merasa bahwa kamu itu tidak PeDe,
lemah, bodoh, payah, dkk? Kemudian kamu menyibukkan pikiran dengan
mengeluh dan mengeluh.. Kamu juga terlalu sibuk mengucapkan "...
seandainya.. seandainya.. "...Bahkan ketika ada tantangan pun, kamu sibuk
berpikir bahwa biasanya memang begitu (sama seperti image
negatif yang selalu dikeluhkan oleh kamu). Kalau begitu, kamu tidak ada
bedanya dengan Nobita donk...Namun bedanya adalah tidak ada robot dari
masa depan seperti Doraemon yang dapat menolong kamu.
Saya
ingin berbagi pengalaman bahwa memang benar apa yang kita pikirkan itu
akan memberikan dampak yang berarti pada apa yang akan dihasilkan. Pada
waktu kompetisi saya yang pertama melalui sebuah Unit Kegiatan
Mahasiswa (UKM) di BiNus, sebenarnya saya nekat saja pada waktu ditanya
apakah mau mencoba ikut kompetisi tersebut atau tidak (storytelling di
sebuah universitas). Pada awalnya saya menyetujui untuk didaftarkan
bukan karena saya PeDe bahwa kemampuan saya dalam bidang bahasa Inggris
itu bagus..., tidak, bukan karena itu. Tapi lebih dikarenakan oleh
dorongan dari beberapa senior saya yang yakin bahwa saya cukup ‘gila'
untuk mengikuti kompetisi tersebut (karena saya adalah tipe orang yang
nekat).
Seminggu sebelum kompetisi (setelah briefing dari pihak panitia), saya langsungD
- O - W - N. Karena apa? Structure grammar, creativity,
pronounciation,dkk.. Semuanya itu dinilai! Ya ampun.. Pikiran saya
mulai dikuasai oleh hal-hal negatif.. Hingga saya sempat menyesali
karena telah mendaftar kompetisi tersebut. Sebagai info, bahwa sebelum
masuk kuliah, saya sangat membenci yang namanya bahasa Inggris...
Sudah menjadi momok banget karena pengalaman saya belajar bahasa
Inggris dengan guru-guru yang bukannya membuat saya termotivasi, malah
membuat saya membenci pelajaran tersebut karena kejadian-kejadian
tertentu.
Namun,
ada 2 orang senior saya yang mungkin dapat dikatakan bahwa tingkat
‘nekat dan gila' nya sama dengan saya.. Mereka kemudian memberikan saya
latihan ‘private' yang darurat. Pada hari pertama
dan kedua, saya bahkan hanya dapat menggumam karena saya grogi untuk
tampil di depan umum, padahal ketika face to face saya
bisa ‘lepas' bicara dan bertingkah apa adanya . Hari ketiga, senior
saya memberi saya motivasi yang sangat bagus : "Ketika kamu berada di
depan penonton, jadilah tokoh dalam cerita tersebut. Pada saat itu,
jangan masukkan pikiran dan perasaanmu ke dalam cerita. Tapi kamulah
yang harus dapat masuk ke dalam mood cerita tersebut. Kamu hanya punya 2 pilihan hasil ketika kamu tampil.. Yang pertama, kamu maju ke depan dengan ‘lepas dan PeDe' atau bahkan bertingkah malu-maluin pun tidak apa-apa karena itu akan meninggalkan kesan bagi yang melihatnya.. dan penonton akan bersorak-sorai karena penampilanmu yang luar biasa.. Atau yang kedua, kamu sudah panik dan cemas duluan sehingga ketika di depan kamu terlihat seperti orang bodoh... Kemudian penonton akan berteriak ‘huuu..' pada kamu.. itu malah memalukan.. Semua ending itu, kamu yang menentukan.. ".
Pada saat itu juga saya tersentak. Kalau saya hanya sibuk berpikir bahwa saya panik, cemas, takut, dkk.. Tetap masalah di depan saya tidak akan berubah. Namun, sayalah yang harus berubah
agar saya tidak malu-maluin di depan penonton. Saya segera mengubah
cara berpikir saya.. Setiap kali pikiran negatif saya mulai menggoda,
saya berusaha untuk meyakinkan bahwa diri saya mampu.. Saya mulai
latihan mimik serta gerakan lucu dengan bercermin. Bahkan untuk
menambah kefasihan saya berbahasa inggris lisan, saya sampai latihan
hingga larut malam.. Berulangkali saya yakinkan diri saya kalau bahasa
Inggris itu menarik.. Hingga lama kelamaan tanpa sadar saya sekaligus
belajar hal-hal baru juga, terutama grammar, vocabulary dan
pronounciation. Dan hasilnya... Puji Tuhan, tanpa disangka penampilan
saya menarik perhatian para juri dan penonton hingga membuahkan
prestasi.
Sejak
kejadian itu.. Ketika menghadapi tantangan akan masalah apa pun di
dalam hidup sehari-hari, saya selalu ingat akan pengalaman di atas...
Yakinlah bahwa setiap dari kamu dan saya pada dasarnya mempunyai
potensi yang belum disadari. Dan untuk menyadari hingga potensi
tersebut dapat dikembangkan.., mulailah dari pikiran kita dulu.. Masalah?
Inget Kacamata Suasana Doraemon... Jangan sampai salah tekan tombol untuk
mengatur bagaimana cara kamu melihat masalah itu...
-
Terinspirasi dari pengalaman pribadi. Terimakasih kepada Joni Liu
(BiNusian 2006) dan Angelina Tejaya (BiNusian 2007) yang telah membuat
saya belajar sesuatu yang sangat berharga.-
Salam,
Erika
Jawaban.Com Moderator
Computer Instructor, Graphic & Web Design Freelancer
BiNus University Undergraduate Student (Computer Science - Applied Database)
E-mail : erikauntung@yahoo.com
Blog : http://leoerk.multiply.com/
BIOGRAFI SINGKAT
Leonarda
Katarina Erika Untung lahir di Jakarta, 24 Maret 1987. Sejak 2005 -
sekarang sedang menempuh pendidikan S1 sebagai mahasiswa Universitas
Bina Nusantara jurusan Teknik Informatika. Pada tahun 2005-awal 2007
pernah aktif dan berprestasi sebagai story teller ,scrabble player, dan
tutor di Bina Nusantara English Club ,di samping itu juga aktif
menduduki struktur kepengurusan utama dan berbagai acara terutama
berfokus pada bidang multimedia serta publikasi-dokumentasi.
Kegiatannya sekarang selain kuliah adalah sebagai pengajar lepas
komputer , tenaga lepas proyek desain dan web (freelancer), moderator
di Jawaban.Com, serta aktif menghadiri berbagai macam seminar dan
pelatihan.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Erika
|
 |
Hidup Adalah Djoeang
|
 |
Kacamata Suasana
|
 |
Tipe-tipe Penghambat Kemajuan
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Tipe-tipe Penghambat Kemajuan
(Campus Corner) -
Kamis, 12 Juni 2008
|
 |
Membangun Komunikasi Anak
(Campus Corner) -
Kamis, 17 Juli 2008
|
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
(Campus Corner) -
Selasa, 07 Oktober 2008
|
 |
Ibu Komunikasi Anak
(Campus Corner) -
Rabu, 29 Oktober 2008
|
 |
Kampus Buat Stress Banget?
(Campus Corner) -
Senin, 03 November 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Berani Mengangkat, Berani Meletakkan
(Campus Corner) -
Selasa, 03 Juni 2008
|
 |
Hidup Adalah Djoeang
(Campus Corner) -
Jumat, 23 Mei 2008
|
 |
Jadilah Yang Terbaik Apa Pun Profesi Anda
(Campus Corner) -
Senin, 05 Mei 2008
|
 |
Diberi Tugas, Kok Pusing?
(Campus Corner) -
Selasa, 29 April 2008
|
 |
Pembelajar Kesalahan
(Campus Corner) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
|
|