Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan, kita pasti ingin dikenal sebagai orang yang setia atau loyal. Sepintas lalu, kedua kata itu memang terdengar serupa, tapi jika ditilik dari sudut pandang perusahaan, kita akan bisa membuat pemisahan di sana.
Sebagai contoh: jika kita berkata bahwa A adalah karyawan yang setia, biasanya penilaian itu dibuat berdasarkan lama keberadaannya di perusahaan yang bersangkutan dan ia selalu melakukan tugasnya dengan setia, walaupun tidak banyak prestasi yang dihasilkan selama kurun waktu tersebut. Sementara itu, pengertian loyal biasanya dikaitkan dengan prestasi dan kemampuan yang sudah ditunjukkan oleh staf yang bersangkutan.
Di satu sisi, seorang karyawan yang loyal pasti sudah melewati tahun-tahun yang cukup panjang dalam bekerja, namun ia bukan hanya asal bekerja, melainkan telah menunjukkan prestasi yang memuaskan dan menggembirakan. Biasanya, loyalitas tersebut menjadi semakin terbukti ketika ada tawaran ataupun iming-iming yang lebih menggiurkan dari perusahaan lain, namun ia berkeputusan untuk tetap tinggal di perusahaan tempatnya bekerja saat ini. Saat itulah kita bisa berkata: “Ia adalah karyawan yang loyal.” Dengan kata lain, orang yang loyal pasti memiliki nilai kesetiaan tersendiri, tetapi orang yang setia belum tentu loyal.
Seringkali ada orang-orang tertentu yang merasa sudah cukup loyal, tapi oleh perusahaan masih dipandang berada dalam kategori setia. Kadangkala hal itu disebabkan karena orang-orang tersebut merasa sudah melakukan (dan memberi) yang terbaik, namun pengertian ‘terbaik’ mereka belum sejalan dengan yang dimiliki perusahaan. Oleh sebab itu, sangat penting bagi kita untuk membangun komunikasi yang baik, sehingga sebagai pemimpin kita bisa menetapkan standar yang jelas – batasan/standar seperti apa yang dapat dipenuhi oleh karyawan dan kita mengharapkan mereka melakukan lebih dari standar yang sudah dipatok tersebut. Dengan demikian, kita bisa memberikan sebuah ‘bahan’ yang akan menolong karyawan untuk mengevaluasi dan memacu diri.
Faktor penentu kesetiaan
Mau tidak mau, kita harus mengakui bahwa sulit sekali untuk menemukan orang yang berprestasi dan melakukan bagiannya dengan setia, karena biasanya orang yang berprestasi tidak memiliki level kesetiaan seperti yang diharapkan. Salah satu penyebabnya adalah faktor hubungan. Kita bisa melihat faktor hubungan ini dari berbagai sudut yang berbeda, sebagai contoh: hubungan antara pemimpin dan karyawan. Ketika karyawan merasa bahwa apa yang dilakukannya sudah sesuai dengan yang diharapkan pemimpin, dan di sisi lain pemimpin juga memberikan
reward seperti yang sepatutnya, biasanya secara otomatis karyawan yang bersangkutan akan menunjukkan kesetiaannya.
Selain itu, saya mendapati bahwa faktor pertemanan di antara sesama karyawan juga bisa menjadi penunjang. Jika kita memiliki rekan yang selalu menyulitkan atau mencoba menjatuhkan kita, meskipun pemimpin menyukai apa yang sudah kita hasilkan, biasanya kita akan memilih untuk mencari tempat kerja lain yang atmosfirnya lebih kondusif.
Lalu, ada pula faktor X. Faktor X sebenarnya berbicara tentang
reward yang diperoleh. Ada orang-orang tertentu yang memilih untuk pindah ke perusahaan lain yang memberikan fasilitas atau kompensasi yang lebih baik. Kompensasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh perusahaan, sehingga ketika perusahaan mulai menyeleksi karyawan –mana karyawan yang merupakan ‘liabilitas’ dan mana karyawan yang merupakan ‘aset’, berdasarkan potensi dan kinerja– saran saya adalah, jangan menahan kompensasi yang patut mereka terima. Sebaliknya, berikanlah kompensasi di atas rata-rata.
Karakteristik loyalitas
Biasanya, seseorang yang mencintai pekerjaannya dengan sendirinya akan menunjukkan loyalitas. Ia rela bekerja habis-habisan –lembur dan bekerja lebih keras dari biasanya tanpa memikirkan kompensasi- karena ia menyukai pekerjaan tersebut. Berbeda dengan orang-orang yang masih berada dalam batasan ‘setia’; orang-orang seperti ini biasanya cenderung untuk terus menimbang sisi untung dan rugi bagi dirinya.
Orang-orang yang loyal seringkali memiliki karakteristik idealis, dimana ia rela melakukan apa saja demi pekerjaan yang disukai. Orang-orang semacam ini menjadi kian langka; apalagi dengan himpitan hidup dan perekonomian yang semakin sulit, pelan tapi pasti seseorang dapat kehilangan sisi-sisi idealis yang ia miliki. Namun, ketahui hal ini: di waktu-waktu mendatang, sesulit apapun kondisi yang akan kita hadapi, perusahaan akan terus mencari orang-orang yang loyal – orang-orang yang berprestasi dan setia melakukan apa yang menjadi bagiannya. Karena itu, terus jaga loyalitas yang Anda miliki; terus tingkatkan prestasi yang sudah Anda raih, maka Anda akan melihat hasil yang luar biasa.
Pastikan kita mencintai pekerjaan kita, sehingga kita rela melakukannya dengan sungguh-sungguh dan segenap hati tanpa memperhitungkan kompensasi atau imbalan. Ketika kita terus menunjukkan prestasi, imbalan atau kompensasi akan datang dengan sendirinya, mengikuti prestasi yang sudah kita munculkan.
Seringkali, seseorang rela mengompromikan loyalitas karena tekanan kebutuhan hidup – ini sudah menjadi alasan klasik. Karena desakan kebutuhan, seseorang rela mengompromikan apa yang selama ini ia yakini, bahkan sampai mengorbankan integritasnya. Akan tetapi, ada juga penyebab lain yang bukan merupakan desakan kebutuhan. Bagi orang-orang yang sudah memiliki posisi atau berada dalam level ekonomi tertentu, faktor uang/kebutuhan tidak lagi menjadi masalah berarti. Yang menjadi penyebab mereka mengompromikan loyalitas adalah karena selama ini mereka merasa tidak bisa mengekspresikan atau mengaktualisasikan diri. Ketika seseorang tidak lagi memiliki kebutuhan material yang mendesak, biasanya yang menjadi kebutuhannya adalah penerimaan. Lalu, jika kebutuhan tersebut sudah dipenuhi, ia akan memiliki kebutuhan dalam hal aktualisasi diri. Jika tidak dapat mengekspresikan atau mengaktualisasikan kreativitas seperti yang diharapkan, biasanya orang seperti ini akan mencari tempat lain yang tidak terlalu birokratis. Tapi, seandainya kita sebagai pemilik perusahaan atau pemimpin melihat karyawan yang sangat berprestasi dan setia, tidak ada salahnya kita memberi keleluasaan kepada mereka untuk mengkespresikan diri dan memunculkan kreativitas, karena ketika seseorang diberi kebebasan untuk mengaktualisasikan diri, orang tersebut akan menjadi lebih loyal.
Tidak ada salahnya perusahaan yang sudah memiliki staf HRD (Human Resources Development) mulai mengadakan pelatihan bagi HRD-nya, sehingga mereka dapat berfungsi sebagai
counselor bagi karyawan-karyawan yang ada. Dengan demikian, ketika karyawan memiliki masalah, staf HRD dapat menelusuri dan mengorek akar dari masalah tersebut. Hal itu akan menolong karyawan untuk tidak terjebak terlalu jauh dalam masalah yang mereka hadapi.
Meningkatkan level kesetiaan
Untuk dapat meningkatkan level kesetiaan ke tingkat loyalitas dalam pekerjaan, yang pertama, munculkan prestasi Anda; yang kedua, pastikan Anda mencintai pekerjaan Anda; yang ketiga, bangun kualitas hubungan yang lebih baik dengan rekan-rekan sekerja maupun dengan pemimpin/pemilik perusahaan. Ketika Anda mampu mengombinasikan ketiga hal ini, secara otomatis Anda akan dipandang sebagai orang yang loyal oleh perusahaan.
Ingat baik-baik prinsip ini: ketika perusahaan harus mengambil pilihan sulit antara mempertahankan sebagian karyawan atau merumahkan sebagian yang lain, perusahaan manapun akan memilih karyawan yang loyal, berprestasi, mencintai pekerjaannya dan rela melakukan apa saja demi dapat mengaktualisasikan diri.
~
www.kesuksesan-sejati.blogspot.com ~
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Steven Agustinus
|
 |
How To Be A Good Sales For Yourself
|
 |
Menjinakkan Orang-orang Sulit
|
 |
Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan
|
 |
Seni Membangun Hubungan
|
 |
Becoming The Winning Team
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Singa Yang Berpura-pura Sakit
(Artikel Tetap) -
Senin, 26 Mei 2008
|
 |
Ketika Aku Di Rumah Sendiri
(Artikel Tetap) -
Selasa, 27 Mei 2008
|
 |
Menjinakkan Orang-orang Sulit
(Artikel Tetap) -
Minggu, 01 Juni 2008
|
 |
Konsep Diri Positif
(Artikel Tetap) -
Senin, 02 Juni 2008
|
 |
Seperti Jenderal Di Medan Perang
(Artikel Tetap) -
Kamis, 05 Juni 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Antara Urgent Dan Important
(Artikel Tetap) -
Jumat, 23 Mei 2008
|
 |
Sukses = Kerja Keras
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Mei 2008
|
 |
Penyakit Seandainya, Harus Dimusnahkan!
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Mei 2008
|
 |
Bintang Kecil
(Artikel Tetap) -
Selasa, 20 Mei 2008
|
 |
Menarik Simpati Dengan Komunikasi Simbol
(Artikel Tetap) -
Senin, 19 Mei 2008
|
|
|