Misi : Membangun Kekayaan Mental Manusia Indonesia Demi Kehidupan Yang Lebih Bernilai
Slogan : Bosan kita menderita ! Saatnya Bersama ! Bangun Indonesia !
 
 
 
Dengarkan Talk Show: Andrie Wongso Success Wisdom & Motivation di Radio Sonora, Setiap Hari Selasa. Jam 07.05 WIB - 08.00 WIB (Live Interaktif Motivation). Jaringan Radio Sonora: Jakarta - FM 92.0, Surabaya - FM 98.0, Yogyakarta - FM 94.7, Palembang - FM 102.6, Pontianak - FM 96.7, Bangka - FM 101.1, Semarang 98.9 FM, Ria,Solo - FM 98.8, Serambi, Aceh - FM 90.6, Raka,Bandung - FM 98.8 - Program ini juga dapat didengarkan melalui: Indovision Channel 106, Live Streaming www.Kompas.com, Live streaming www.AndrieWongso.comJangan lupa dengarkan setiap hari kapsul-kapsul Wisdom & Motivation.

Baca Juga
• Jenny Jusuf
  Senin, 14-Januari-2008
  10:17:58 WIB
Tentang Pelecehan Dan Dilecehkan
• Jenny Jusuf
  Kamis, 03-Januari-2008
  08:19:22 WIB
Menemukan Surga
• Jenny Jusuf
  Selasa, 20-November-2007
  08:12:32 WIB
Kekuatan Sang Pemimpi
• Jenny Jusuf
  Jumat, 23-Mei-2008
  08:37:33 WIB
Refleksi Dalam Satu Halaman
Shopping Product
Sukses
Jumbo size 37.5 x 53 cm

Sebuah sukses lahir bukan karen kebetulan atau keberuntungan semata ...

 Stok Habis

 
View Shopping Product

Pembaca Setia
Artikel Anda
Jumat, 16-Mei-2008; 09:33:12 WIB
I Did The Best Already
( 0 Komentar )
Oleh : Jenny Jusuf

Save page as PDF

Jelang jam 10 malam, ketukan di pintu kamar mandi mengagetkan saya yang sedang asyik jebar-jebur. Saya mematikan keran supaya bisa mendengar dengan jelas. Di luar, Mira, seorang kawan yang membantu saya mencari kamar kos, berseru minta nomor handphone sahabat saya yang juga sepupunya. Ada urgensi dalam suaranya.

Saya menyebut 11 digit angka yang sangat saya hafal sambil bertanya-tanya dalam hati.
Belum sempat saya menanyakan apa-apa, Mira sudah mendahului menjawab.

“Papaku sudah nggak ada, Jen. Kecelakaan…”

Gayung yang siap saya siramkan ke tubuh terhenti di udara. Mendadak tangan saya –tidak, sekujur tubuh saya- kaku.

“Ya ampun, Mir…,” hanya itu yang sempat saya lisankan. Mira sudah turun kembali ke kamarnya di lantai bawah. Saya menyudahi acara mandi dengan terburu-buru, mengeringkan tubuh seadanya dan bergegas menyusulnya. Rambut yang basah saya biarkan tergerai tanpa sempat diapa-apakan.

Di bawah, Mira dan 2 orang teman duduk mengelilingi meja kayu bundar. Saya mendekati mereka tanpa bisa berkata-kata. Hati saya mencelos melihat Mira yang tidak mengeluarkan airmata sedikitpun, namun mulutnya terus komat-kamit melafalkan doa.

Saya duduk, bertukar pandang dengan teman-teman. Kami sama-sama diam. Hanya suara Mira yang terdengar lirih, mengucapkan sebaris ayat dalam kitab Mazmur.

Saya tak tahu harus berkata apa. Yang ada hanya risau yang dalam. Saya mengenal Mira dan Lisa –adiknya- saat mereka pertama kali menjejakkan kaki di Jakarta, bertahun-tahun silam. Kedekatan saya dengan sepupu mereka membuat kami jadi akrab dalam waktu singkat. Saya, Mira dan Lisa sering sekali menginap bersama dan hang out bareng, layaknya saudara sendiri.

Kini, mendengar mereka kehilangan Ayah dengan cara yang tragis, saya merasa sebagian jiwa saya ikut melayang. Entah kemana.

Mira masih komat-kamit melisankan doa dan segala kalimat untuk menenangkan diri. Saya meraih handphone untuk menelepon Lisa. Telepon tersambung. Di ujung sana, Lisa menangis histeris bahkan sebelum saya sempat berkata apa-apa.

Saya menyerahkan handphone kepada Mira. Mira berbicara dengan lembut, menenangkan adiknya.

“Nggak apa-apa ya, Lisa. Papa sudah di surga. Lisa harus kuat, ya.”

Sejurus kemudian, Mira masuk ke dalam kamar. Saya mengira ia akan menumpahkan tangis di sana, tapi tak lama kemudian ia keluar dengan bungkusan besar yang diletakkannya di atas meja.

Saya memandangi kantung plastik putih itu dalam diam. Teman-teman saya melakukan hal yang sama.

Bungkusan itu berisi 6 kotak susu, minyak goreng dan 2 bungkus besar havermut. Mira yang sudah punya firasat buruk jauh hari sebelum peristiwa itu, menghabiskan simpanan uangnya untuk berbelanja bagi sang Ayah, yang rencananya akan ia paketkan ke Jawa dalam waktu dekat. Sayang, sebelum niat itu terlaksana, Ayahnya telah mendahului menghadap Sang Kuasa.

“Nggak apa-apa ya, Pa?” ucapnya lirih, “Papa sudah di surga sekarang,” kalimat itu terhembus kelu, perih, meski tak ada setitik pun airmata yang jatuh.

I did the best already,” bisiknya. Lagi-lagi dada saya sesak.

“Nggak ada yang aku sesali…” kali ini ada seuntai senyum di wajah Mira. Tipis. Matanya lekat menatapi kotak-kotak susu yang terjajar bisu. “Beneran nggak ada. I did the best already...”

Handphone saya berdering. Sepupu Mira menelepon, meminta saya menguatkan Mira dan memberitahunya untuk bersiap-siap karena sebentar lagi akan dijemput. Mira beranjak masuk ke kamar, sementara kami anak-anak kos sibuk kasak-kusuk urunan seadanya untuk membantu meringankan bebannya.

Selesai menitipkan rupiah yang tak seberapa pada seorang teman untuk diamplopi, saya meraih handphone dan beranjak keluar. Di teras yang sepi, ditemani angin malam yang membelai lembut, saya menekan sebaris angka.

Tak tersambung. Saya menunggu, kemudian menelepon lagi.

Tetap tak tersambung.

Saya termangu, memikirkan begitu banyak hal yang tiba-tiba berserabutan di otak tanpa bisa terkendali.

Ah, hidup. Berapa panjangkah?

Dengan apa saya akan mengisi lembaran hari yang terus berlalu ini? Apa yang akan saya tuliskan pada halaman-halaman bersih yang saya temui setiap pagi? Ketika esok menjelang, akankah saya mengisinya dengan sebait bahagia bersalut syukur? Ketika hari berlalu, akankah saya menengok ke belakang dan menemukan sesal?

Dan bagaimana dengan orang-orang yang saya cintai? Mereka yang mengisi hati ini setiap harinya? Mereka yang saya kasihi, meski rasa itu jarang terverbalkan?

Deru motor menyentakkan saya dari lamunan. Sepupu Mira telah datang, siap membawanya pergi. Berdua, kami menunggu Mira di teras.

Handphone saya kembali berdering. Kali ini dari nomor yang saya tunggu-tunggu sejak tadi.

“Kamu cari Papa?” suara itu bagaikan angin sejuk di telinga saya. “Kenapa?”

Konversasi itu tidak panjang. Tidak perlu bertele-tele. Tidak perlu banyak basa-basi dengan sosok yang telah saya kenal puluhan tahun. Tidak perlu kata-kata indah penuh puisi, karena kami telah saling mengerti.

Malam ini, saya hanya ingin berbagi dengannya. Memberitahu bahwa saya punya cinta untuknya. Selalu.

Di penghujung dialog, saya bisikkan 3 kata sederhana: “I love you.”

Ayah saya membalasnya dengan kalimat yang sama, meski tersirat kebingungan dalam suaranya.

Mira telah selesai berberes. Bertiga, kami bermotor menyusuri malam, menuju rumah sang sepupu yang tak jauh dari situ.

Di atas motor, tak henti-hentinya saya bersyukur. Bahwa saya masih bisa mengucapkan sayang pada orang yang saya kasihi. Bahwa kesempatan untuk memverbalkan cinta masih bisa saya nikmati. Bahwa saya masih diberi peluang untuk mengisi lembar-lembar hidup ini dengan tinta emas yang indah, dengan sebentuk rasa bernama bahagia dan syukur.

Terima kasih, Tuhan.

Tak putus saya melisankan syukur atas sebuah pelajaran berharga yang saya terima malam ini – bahwa sebagaimana kematian memisahkan kita dari kehidupan, kematian juga dapat mendekatkan kita pada kehidupan.

~ www.jennyjusuf.blogspot.com ~



Share on Facebook SocialTwist Tell-a-Friend baca berita di lintas berita | Infogue.com
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Namun, Redaksi JUGA berhak memilih komentar yang akan ditayangkan (yaitu komentar yang sesuai dan positif). Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim.
 
Belum Ada Komentar Untuk Artikel Diatas. Posting komentar Anda
           
( View : 1504 | Refer : 1 | Print : 116 | Rate : 0.00 / 0 Votes )
Artikel Selanjutnya
Mengapa &mengapa (renungan Untuk Sahabat) - Sabtu, 17-Mei-2008; 10:06:17
3 Jurus Jitu Mengelola Keseimbangan Keuangan Anda - Minggu, 18-Mei-2008; 10:17:52
Selamat Anda Telah Gagal ! - Senin, 19-Mei-2008; 09:47:58
Antusiasme, Rahasia Keberhasilan Yang Jarang Dikenal - Selasa, 20-Mei-2008; 08:09:48
Refleksi Dalam Satu Halaman - Jumat, 23-Mei-2008; 08:37:33
Artikel Sebelumnya
The Path Of Success - Kamis, 15-Mei-2008; 09:20:16
Kreativitas Adalah Hak Anda - Rabu, 14-Mei-2008; 09:08:17
Mengapa Membaca? - Senin, 12-Mei-2008; 09:42:49
It is All About Choice - Sabtu, 10-Mei-2008; 12:51:32
Do Your Best! - Kamis, 08-Mei-2008; 08:56:42
AW Jumlah Pengunjung
Total Pengunjung
(Sejak 10/10/2006)
3017033
Pengunjung Kemarin 4758
Pengunjung Hari Ini 3969
Online 88
Pengiriman Artikel dan AW Jokes
Jika Anda ingin mengirimkan Artikel, silahkan tekan tombol dibawah ini
Layanan Operator