Berdemokrasi adalah ketika
semua orang boleh ambil bagian. Tetapi inlah resikonya: semua pihak boleh
menjadi bagian pemecah persoalan, tetapi semua pihak juga boleh menjadi bagian
dari persoalan. Apa jadinya jika soal yang kedua itulah yang sekarang sedang kita kerjakan.
Lihat saja demo rencana kenaikan BBM yang mulai muncul di
beberapa daerah itu. Sebagian di antaranya malah berakhir dengan rusuh dan
bentrokan. Ada
kantor DPRD yang rusak dan ada mahasiswa yang terluka. Apapun alasannya, inilah
faktanya: BBM belum dinaikkan tetapi korban sudah berjatuhan. Jadi, yang menjadi soal utamanya ternyata bukan kenaikan atau
penurunan sebuah harga, melainkan perilaku kita dalam mensikapi aneka persoalan
itu. Pensikapan yang keliru, sungguh cuma akan mendatangkan persoalan baru. Dan
beginilah acapkali pilihan kita: mempersoalkan soal lama dengan memunculkan
soal yang barru. Atau: soal yang dibayangkan itu belum benar-benar ada, tetapi
penolakan kita atasnya telah mendatangkan persoalan yang lebih nyata.
Sudah tentu ada persoalan di balik kenaikan harga BBM itu.
Tak ada yang tidak membebani rakyat seperti kenaikan harga-harga di jaman
ketika keadaan sedang begini berat untuk
mereka. Tetapi pasti juga ada persoalan jika kenaikan harga minyak dunia yang
menggila ini didiamkan saja. Bangsa ini harus membuat keputusan segera. Di setiap
keputsuan itu, pasti mengandung
kepahitan-kepahitan. Memang ada beberap opsi. Kenaikan BBM hanyalah salah stau
opsi. Tetapi intinya, apapun opsi yang akan dipilih, ia harus segera dipilih.
Dan apapun opsi yang dipilih, tidak ada yang benar-bebar menyenangkan. Sungguh
kita harus bersepakat soal ini.
Bahwa apakah opsi terbaiknya? Itulah pentingnya mahasiwa,
pakar dan seluruh elemen masyarakat ini memberi kontribusi. Ada kebebasan pers yang membuka peluang amat besar,
ada mimbar bebas yang menyediakan pangung terbuka di mana-mana dan ada aksi
boikot. Tetapi pasti bukan aksi perusakan
yang boleh jadi pilihan. Bukan bentrok antar pendemo dan petugas yang rakyat
tidak lagi menikmatinya. Kini, antara tujuan dan cara mencapai tujuan harus
sama pentingnya. Maka jika seorang menjadi korban oleh sebuah cara yang keliru
walaupun baik tujuannya, pengorbanan seperti itu, nyaris seperti kemubaziran. Memperjuangkan
kebaikan dengan merobohkan pagar-pagar, membakar ban-ban di jalan dan orang lain
yang membersihkan, memecahi kaca-kaca dan merusak apa saja, sulit dibayangkan sebagai
cara memperjuangkan kebaikan.
Maka yang kita takutkan di saat ini ialah, ketika kita diam-diam sekadar menjadi
bagian dari persoalan walau beratas nama kebaikan.
|