Sopir satu ini menambahkan satu lagi ilmu baru ke benak saya, yakni tentang budaya mentang-mentang. Semua bermula ketika kami sedang melewati jalan yang begitu sepi. Jarang kami berpapasan dengan lain kendaraan, bahkan sekadar penggenjot sepeda atau pejalan kaki. Tapi pengemudi ini, seorang laki-laki sederhana, selalu menyalakkan lampu sign ketika membelokkan mobilnya. Bahkan di pengkolan sederhana, ia tetap bersikeras menyalakan lampu isyaratnya. Tertib sekali.
Saya heran justru karena ketertibannya itu. Kenapa? Karena yang biasa saya jumpai adalahwatak seperti ini: mentang-mentang sepi, mentang-mentang di jalan kita sedang sendiri, kita boleh berbelok dan menikung sesuka hati. Mentang-mentang tidak ada orang, kita lalu boleh berbuat sembarangan. Sopir ini tidak. Ia tetap menyalakan lampu isyaratnya meskipun tak ada orang yang harus dia isyaratkan. Ada atau tidak ada orang, ia memenuhi kewajiban. Kita sering merasa aman dan bebas berbuat salah, cuma karena mentang-mentang tak ada orang.
Dari sinilah awal mula merajalelanya budaya mentang-mentang yang terkenal itu. Mulai dari soal membuang sampah sampaipembakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, semua bermula dari mental mentang-mentang ini. Mentang-mentang tak ada hukuman bagi kebiasaan buang sampah sembarangan, Indonesia segera menjadi negeri tong sampah terbesar di dunia. Mentang-mentang hukum dianggap tidak menakutkan, pembabatan dan pembakaran hutan tetap dikerjakan.
Mentang-mentang sedang musim bencana lalu kita berhak ramai-ramai memanfaatkan keadaan dengan sebuah percaloan.Pendek kata, budaya mentang-mentang ini bisa merambah kepada siapa saja, lintas profesi, lintas usia dan status sosial. Mau bukti? Mentang-mentang tukang becak, ia boleh melanggar rambu jalan. Yang lain berjalan ke utara becak ini boleh berjalan ke selatan sendirian. Mentang-mentang miskin,seseorang berhak melanggarperaturan atas nama kemiskinan. Buktinya bisa banyak sekali.
Sopir tua yang menemani saya di jalan sepi itu, sungguh menyadarkan atas banyaknya mental mentang-mentang yang berbahaya ini. Berbahaya jika ia telah menjadi wabah yang menyerangsemua, tak melulu cuma orang dengan kekuasaan: mentang-mentang berkuasa lalu sewenang-wenang misalnya. Atau, mentang-mentang punya posisi, lalu enak saja korupsi. Mentang-mentang wartawan ia merasa cukup menunjukkan kartu pers ketika hendak ditilang. Kartu pers yang jelas cuma untuk tugas peliputan itu, bisa berubah menjadi kartu sakti hanya demi tidak ditangkap oleh polisi, meskipun jelas-jelas telah melakukan pelanggaran.
Budaya mentang-mentang ini berbahaya karena apa saja modal yang kita punya, baik kekayaan maupun kemiskinan, baik kekuasaan maupun ketidak berdayaan, kegembiraan maupun kesedihan, ternyata sanggup dijadikan alat untuk mentang-mentang. Ada seorang oknum yang merasa punya kedudukan lalu menolak bayar parkir. Ketika ia diprotes, kemarahan malah ia semburkan. Sebaliknya, mentang-mentang iaseorang cacat,lalu merasa berhak mengemis dengan cara sembarangan.
Ia ada dalam sebuah kursi roda yang telah didesain sedemikian rupa, kursi yang telah dibentuk serupa rumah-rumahan lengkap dengan atap sebagaipenahan panas dan hujan, dilengkapitempat rokok dan minuman. Sambil tak peduli bahwa kursinya menyita badan jalan, sementara ia menunggu santunan, pengemis ini bisa merokok nikmaaaaaat sekali, persisseorang CEO sukses yang telah memilih pensiun dini.
Mentang-mentang sedang gembira, seseorang bisa bernyanyisedemikian rupa. Tertawa-tawa dan menggelar pesta tak peduli kelaparan tepat berada di balik tembok rumahnya. Tapi mentang-mentangsedang sedih, manusia di seluruh dunia hendak dia kabari. Mimik duka dipajangdi mana-mana dan setiap orang lewat rasanya hendak dipaksa memberi ucapkan duka cita. Jadi, siapapun kita, apapun keadaannya, semuamemiliki modal untuk mentang-mentang. Gairah yang secepatnya harus kita hentikan!
Prie GS
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
|
 |
Badut Ulang Tahun
|
 |
Siapa Takut Jatuh Cinta
|
 |
Teman Masa Kecilku
|
 |
Anakku Kena Jotos
|
 |
Keramaian Di Kampungku
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Komunikasi Berdasarkan Golongan Darah
(Artikel Tetap) -
Senin, 18 Desember 2006
|
 |
Hujan
(Artikel Tetap) -
Minggu, 21 Januari 2007
|
 |
Komunikasi Berdasarkan Sifat Dasar Manusia - Pasif
(Artikel Tetap) -
Selasa, 30 Januari 2007
|
 |
Dua Buah Kutub
(Artikel Tetap) -
Kamis, 01 Februari 2007
|
 |
36 Ji (36 Strategy) For Happy Life - Strategy #1
(Artikel Tetap) -
Senin, 05 Februari 2007
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Manusia Pribadi Yang Unik
(Artikel Tetap) -
Jumat, 18 Mei 2007
|
 |
Self-reflection
(Artikel Tetap) -
Selasa, 08 Mei 2007
|
 |
The Power Within You
(Artikel Tetap) -
Kamis, 22 Maret 2007
|
 |
Optimisme Dan Sukacita Dalam Hidup
(Artikel Tetap) -
Rabu, 24 Januari 2007
|
 |
Sikap Mental Yang Membuat Perbedaan
(Artikel Tetap) -
Selasa, 16 Januari 2007
|
|
|