|
|||
|
Penulis : Steven Agustinus
Senin, 17-Maret-2008
Keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi merupakan masalah yang dialami oleh hampir setiap orang yang tinggal di Jakarta. Jika kita memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, maka seharusnya ada masa-masa di mana kita memang harus bekerja, tapi ada juga masa-masa di mana kita bisa menikmati kehidupan dalam keluarga.
Seperti yang dialami oleh kebanyakan orang, saya melihat justru hal yang berkebalikan lah yang terjadi. Kebanyakan orang di Jakarta bangun pagi-pagi benar untuk berangkat ke kantor, lalu pulang setelah larut malam, sehingga mereka tidak bisa menikmati kehidupan berkeluarga yang sehat dan seimbang. Sebagai contoh: pasangan suami isteri yang bekerja biasanya tidak akan bekerja di satu perusahaan yang sama, kecuali itu adalah perusahaan mereka sendiri. Secara otomatis, lokasi tempat kerja dan aktivitas pekerjaan pasti akan berbeda, dan sebagai akibatnya, waktu untuk bertemu dan berkomunikasi secara ideal pun akan semakin minim. Sementara, komunikasi yang ideal seharusnya adalah komunikasi yang membahas tentang ‘kita’ – pasangan suami isteri itu sendiri. Untuk bisa memiliki kualitas komunikasi yang mendalam, dibutuhkan waktu dan tempat khusus. Komunikasi tidak akan pernah terbangun jika waktu yang ada sangat singkat atau dilakukan sambil mengerjakan hal yang lain (misalkan ngobrol sambil menyetir mobil atau sambil menonton televisi). Belum lagi jika pasangan suami isteri tersebut telah memiliki anak; ketika mereka berangkat kerja, si anak masih tidur dan ketika mereka pulang kerja, si anak sudah bersiap untuk tidur. Secara otomatis kualitas hubungan antara orangtua dan anak akan terhambat dan tidak bisa bertumbuh dengan baik. Kondisi seperti ini tidak bisa disebut sebagai keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi, karena ada ketimpangan yang terjadi. Karena itu, bicara tentang keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi berarti berbicara tentang waktu yang secara spesifik bisa kita pakai untuk menikmati komunikasi dengan anggota keluarga yang ada, dengan kualitas yang mendalam. Ada beberapa faktor yang dapat membuat seseorang disebut sebagai ‘workaholic’ (gila kerja). Yang pertama yaitu faktor psikologi atau mental; ada beberapa orang yang memang suka bekerja keras dan biasanya mereka rela mengorbankan kehidupan sosial demi bisa meraih sesuatu. Biasanya sejak kecil mereka telah menerima nilai-nilai tertentu yang menyebabkan mereka tumbuh menjadi seorang pekerja keras, pekerja yang giat dan terfokus sepenuhnya pada pekerjaan. Sebetulnya memiliki fokus yang besar pada pekerjaan dan mencurahkan seluruh energi kita di dalamnya adalah hal yang baik. Tapi jika hal tersebut sampai mengorbankan kehidupan sosial dan berkeluarga kita, itu tidak bisa lagi dikatakan baik –- ada efek negatif di dalamnya.Jika pasangan kita memiliki kecenderungan yang sama dengan kita (yang notabene workaholic), tidak akan ada keluhan apapun dari pasangan kita mengenai kendala dalam berkomunikasi. Tapi jika kita mempunyai anak, besar kemungkinan bahwa anak kitalah yang akan mulai mengeluh – ini sebetulnya merupakan sinyal bahwa kita mulai melampaui batasan-batasan kerja yang wajar. Lalu, alasan lain mengapa seseorang menjadi workaholic adalah karena sejak kecil ia mengalami perlakuan-perlakuan yang menyakitkan sehingga membuatnya merasa tertolak; dan dengan demikian merasa perlu melakukan pembuktian bahwa ia sanggup meraih dan mewujudkan sesuatu. Dari kondisi hati yang terluka itulah ia memfokuskan seluruh hidupnya untuk bekerja keras sedemikian rupa demi meraih kesuksesan seperti yang diharapkan. Sebagai akibatnya, meskipun pada akhirnya ia meraih kesuksesan – bergelimang harta dan mendapatkan fasilitas yang sebelumnya tidak pernah ia nikmati – ia beresiko kehilangan kehidupan pribadi dan keluarganya. Alternatif untuk menjaga keseimbangan hidup Di tengah padatnya lalu lintas Jakarta yang mengharuskan orang berangkat pagi-pagi benar dan pulang larut malam, ada beberapa alternatif yang bisa kita pikirkan demi menjaga keseimbangan hidup. Alternatif pertama: cari tempat tinggal yang dekat dengan tempat kerja. Memang ada konsekuensi tertentu yang harus kita tanggung, misalkan jika lokasi kantor kita berada di pusat kota, harga-harga (baik tempat tinggal maupun kebutuhan pokok) secara otomatis menjadi lebih tinggi dibanding dengan daerah pinggiran kota. Jika alternatif ini tidak memungkinkan, alternatif kedua yang bisa kita pikirkan adalah mencari tempat kerja yang baru atau pindah kerja. Mungkin alternatif ini agak bersifat untung-untungan, tapi jika kita bisa mendapatkan tempat kerja yang lebih baik (atau bahkan membuka usaha sendiri), maka alternatif ini akan jauh lebih memudahkan. Dengan memulai usaha sendiri, kita bisa mengatur waktu atau ritme kerja kita, bahkan men-set-up kantor di dalam rumah sehingga kita tidak perlu keluar rumah sama sekali. Alternatif ketiga, manfaatkan hari Sabtu dan Minggu (atau hari libur lainnya) sebagai waktu untuk keluarga. Istilahnya, ‘membayar hutang’ kepada pasangan dan anak-anak kita sebagai ganti dari kesibukan kita dari hari Senin-Jumat. Setiap tempat kerja pasti menyediakan hari libur bagi karyawannya; pabrik-pabrik sekalipun menyediakan sehari dalam seminggu di mana buruh-buruh yang ada bisa beristirahat, atau mengadakan sistem shift. Waktu-waktu libur itu bisa kita manfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga.Untuk menghindari kemacetan pada jam pulang kantor, orang-orang seringkali memilih untuk nongkrong di mall atau cafe, dan menganggap hal tersebut sebagai ‘sarana melepas penat’ (refreshing). Hal ini dapat menimbulkan masalah yang cukup pelik jika sudah menyangkut kehidupan berkeluarga, dimana kita memiliki keluarga yang menunggu kita di rumah. Setiap orang pasti mengharapkan sebuah kehidupan keluarga yang normal, di mana satu sama lain (suami, istri, orangtua dan anak) akan bisa memiliki kualitas interaksi yang baik. Karena itu, penting sekali bagi kita untuk bisa terus mengembangkan kapasitas melalui belajar dan mulai membuat perencanaan. Kembali ke masalah nongkrong di cafe atau mall untuk menghindari kemacetan dan sebagai hiburan, menurut saya kita harus melihat kembali tujuan awal kita. Jika tujuan kita bekerja saat ini adalah untuk mengumpulkan modal, sebaiknya kita berusaha untuk menghindari cafe dan mall karena berarti akan ada pengeluaran tambahan yang harus dirogoh dari kantung kita. Alangkah baiknya jika kita bisa meminimalkan pengeluaran. Secara sederhana, istilah ‘Minus Malum’ memiliki pengertian: dari semua pilihan yang buruk, pilihlah yang paling sedikit keburukannya. Kondisi di Jakarta seringkali mempersulit kita dalam memiliki kehidupan yang ideal. Itu sebabnya kita perlu membuat perencanaan sejak dini, sehingga kalaupun kita harus bekerja keras (sampai ‘mengorbankan’ kehidupan pribadi atau keluarga), kita dapat memastikan bahwa hal itu tidak akan terjadi selamanya. Tidak jarang, kondisi pekerjaan menuntut kita untuk stand by selama 24 jam. Sebagai orangtua, kita harus belajar untuk menceritakan kepada anak-anak mengenai kondisi yang ada dan menolong mereka memahami kondisi tersebut, namun di sisi lain kita juga perlu mengkomunikasikannya kepada pasangan dan mengambil langkah-langkah sistematis. Perencanaan yang baik memiliki peranan yang sangat esensial dalam hal ini. Stres di tempat kerja Secara langsung atau tidak, stres yang kita alami di kantor pasti akan mempengaruhi kehidupan pribadi/berkeluarga kita. Ini yang menjadi salah satu kendala bagi banyak orang – kesulitan untuk menjaga keseimbangan hidup. Alasan mengapa seseorang menjadi stres atau tertekan adalah karena salah satu bandul kehidupannya tidak seimbang. Seseorang dapat menjadi stres karena terlalu larut dalam pekerjaannya, memiliki tugas yang menumpuk, dan banyak lagi. Karena itu kita perlu terus belajar menjaga keseimbangan hidup setiap hari. Contohnya, ketika kita menyadari bahwa pekerjaan kita membutuhkan konsentrasi yang lebih, alangkah baiknya jika setiap hari kita bisa berolahraga dan mengkonsumsi vitamin/suplemen. Semakin kita bisa menjaga kesehatan, semakin rendah tingkat stres yang kita miliki. Pekerjaan boleh menumpuk, tapi karena sirkulasi darah dan hormon-hormon dalam tubuh kita bekerja secara maksimal, kita akan tetap bisa menyelesaikan pekerjaan tersebut dengan fokus yang baik sehingga tidak sampai menimbulkan stres.Dibutuhkan kerelaan untuk berkorban dalam membangun/merintis sebuah usaha yang baru –bahkan terkadang sampai mengorbankan kehidupan pribadi– agar usaha tersebut bisa berhasil. Tapi, membangun sebuah usaha selalu berbicara tentang batasan waktu; mungkin 3 tahun pertama atau 5 tahun pertama, dan setelahnya akan menjadi lebih mudah bagi kita. Kita perlu membuat perencanaan yang matang dalam hal ini. Katakanlah dalam 3 tahun pertama kita akan memfokuskan seluruh energi untuk membangun usaha. Selama seluruh anggota keluarga mendukung terealisasinya rencana kita, saya percaya mereka tidak akan mengeluh jika dalam tahun-tahun pertama itu kita memusatkan fokus pada usaha tersebut. Apalagi jika mereka mendapati bahwa di waktu-waktu senggang kita selalu memprioritaskan keluarga sehingga dapat meluangkan waktu bersama mereka, mereka pasti akan sangat berterima kasih dan menghargai seluruh jerih payah dan kerja keras kita. Masalah yang sering terjadi adalah, ketika seseorang mendapati usaha yang dijalankannya mulai berkembang, ia mulai memikirkan langkah ekspansi besar-besaran tanpa memperhitungkan konsekuensinya, sehingga tanpa ia sadari keluarganya kembali ‘menjadi korban’. Jika kita bisa melakukan ekspansi secara bertahap (sehingga kita dapat tetap memiliki waktu bersama keluarga), maka meskipun pertumbuhan usaha tampak tidak terlalu signifikan, kita tetap bisa menikmati keseimbangan hidup yang sejati. Apa gunanya menikmati ‘keberhasilan’ tapi kehilangan waktu-waktu berharga bersama keluarga dan anak-anak? Sisi ekstrim dunia kerja Saya mendapati ada 2 sisi ekstrim dalam dunia kerja: ada orang-orang tertentu yang bekerja mati-matian demi mendapatkan uang, dan ada orang-orang yang seakan-akan memanipulasi jam kerja dengan bersantai atau ngobrol, dengan anggapan bahwa pada akhir bulan mereka akan selalu menerima gaji sejumlah yang ditetapkan. Realita ini memang sangat ironis, tapi inilah yang terjadi. Orang-orang yang tidak pernah mau berkomitmen dengan pekerjaannya dan memunculkan hasil memuaskan bagi perusahaan yang ada, tidak akan pernah bisa naik ke level yang lebih tinggi dan menikmati apapun juga. Sekali waktu, orang-orang ini akan tergerus oleh persaingan yang ada. Itu sebabnya, kita sebagai para pekerja harus bekerja dengan baik dan sungguh-sungguh; bekerja keras dan bekerja dengan cerdas. Sekedar bekerja keras tanpa kecerdasan tidak akan memberikan keseimbangan hidup bagi kita. Dengan bekerja keras dan bekerja cerdas, kita akan memiliki keseimbangan dan kesuksesan pada saat yang sama.Pastikan kita menjadi seorang pekerja keras dan cerdas untuk dapat menikmati keseimbangan hidup dan meraih kesuksesan yang kita dambakan. ~ www.kesuksesan-sejati.blogspot.com ~ |
|||
|
|||
| ( View : 4184 | Refer : 3 | Print : 276 | Rate : 0.00 / 0 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Nilainya Melebihi Satu Milyar Rupiah (Artikel Tetap) - Rabu, 19-Maret-2008 | ||
| • | Benarkah Ada Keberuntungan? (Artikel Tetap) - Minggu, 23-Maret-2008 | ||
| • | Pecah Telor (Artikel Tetap) - Senin, 24-Maret-2008 | ||
| • | 36 Ji (strategy) For Happy Life - Strategy Ke-31 (Artikel Tetap) - Selasa, 25-Maret-2008 | ||
| • | Suatu Hari Ketika Ayat-ayat Cinta Ngetop Sekali (1) (Artikel Tetap) - Rabu, 26-Maret-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Tidur Di Atas Kayu Bakar Dan Mencicipi Empedu (Artikel Tetap) - Senin, 17-Maret-2008 | ||
| • | Suatu Malam Ketika Hatiku Sedih Sekali (Artikel Tetap) - Senin, 17-Maret-2008 | ||
| • | Fokus Pada Tujuan Yang Pasti (Artikel Tetap) - Senin, 17-Maret-2008 | ||
| • | Be Xo First (then You Get Rich) ! (Artikel Tetap) - Jumat, 14-Maret-2008 | ||
| • | Sudah Saatnya (Artikel Tetap) - Jumat, 14-Maret-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



