Misi : Membangun Kekayaan Mental Manusia Indonesia Demi Kehidupan Yang Lebih Bernilai
Slogan : Bosan kita menderita ! Saatnya Bersama ! Bangun Indonesia !
   Tell A Friend  |  Contact Us  |  Sitemap
 
 
 
Talk Show: Andrie Wongso Smart Motivation Setiap Hari Senin. Jam 07.05 WIB - 08.00 WIB (Live Interaktif Motivation). Jam 15.05 WIB - 16.00 WIB (Siaran Ulang). Di Radio SMART FM: Jakarta 95.9 FM, Makasar 101.1 FM, Palembang 101.8 FM, Banjarmasin 101.1 FM, Balikpapan 97.8 FM, Medan 101.8 FM, Semarang 93.4 FM, Ral FM Manado 102,65 FM, Smart FM Surabaya 88,9 FM Jangan lupa dengarkan setiap hari kapsul-kapsul Wisdom & Motivation.
Kalender Januari 2009
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Baca Juga
• Agoeng Widyatmoko
  Senin, 18-Juni-2007
  10:21:35 WIB
Jangan Takut Untung
• Agoeng Widyatmoko
  Senin, 29-Oktober-2007
  11:52:23 WIB
Jangan Remehkan Peluang Sekecil Apapun
• Agoeng Widyatmoko
  Rabu, 12-Desember-2007
  09:25:17 WIB
Kkn - kekoncoan Itu Wajib
• Agoeng Widyatmoko
  Selasa, 04-September-2007
  11:59:11 WIB
Carilah Masalah
Shopping Product
Poster Motivasi - Berani Menghadapi Masalah
Medium - Size 37.5 x 26.5 cm

Kita boleh mengharapkan semua urusan berjalan lancar tetapi jauh lebih baik bila kita siap mental dan berani menghadapi setiap masalah.

 
View Shopping Product
Entrepreneur Corner
Selasa, 11-Maret-2008; 16:34:56 WIB
Atur Doong Keuangan Kita...
( 0 Komentar ) - Klik Profil Penulis
Rating Artikel :
Oleh : Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)

Seorang teman pernah mengeluh kepada saya. Ia mengatakan ada atau tidak ada proyek-kebetulan dia bergerak di bidang usaha jasa-selalu saja tak punya uang banyak untuk ditabung. Bahkan, ia mengaku sering tekor karena harus bayar ini dan itu. Usaha dia adalah di bidang jasa desain grafis yang notabene persaingannya sangat ketat. Karena itu, saya sangat maklum jika ia kadang sering tidak kebagian proyek desain dalam seminggu. Akhirnya, ia hanya nganggur jika sepi order. Target dia sebenarnya tak muluk-muluk. Ia hanya butuh minimal dua proyek-senilai tertentu yang diukur berdasar kebutuhan hidup dia dan anak istri serta dua orang asisten-dalam seminggu. Tapi, entah kenapa, menurut dia, pendapatnya selalu habis sebelum ditabung. Kalaupun ada yang ditabung, hanya sedikit jumlahnya.

Hal ini barangkali pernah dialami oleh sebagian orang yang mengawali dunia usaha. Saya pun demikian. Pada awal menjalankan sebuah bisnis yang kini saya tekuni, masalah serupa saya temui. Apalagi, usaha saya memang tergolong jenis usaha keluarga dan melibatkan teman-teman dekat. Pada awal usaha, saat mendapat proyek besar, uang selalu saja habis untuk ini dan itu. Apalagi, kalau sudah mendapat "ikan besar" alias proyek yang bernilai cukup untuk menghidupi beberapa rekan dan keluarganya. Istilahnya, kalau sudah senang, lupa segalanya. Lupa harus bayar listrik, telepon, internet, transportasi, dan lain sebagainya.

Karena itu, saya sangat memahami apa yang dialami oleh rekan tersebut. Dan, saya pun mencoba men-sharing-kan pengalaman saya saat menghadapi kejadian serupa. Semoga, hal ini juga bisa berlaku dan bermanfaat bagi Anda semua.

Yang pertama, pertegas pengaturan keuangan kita. Kedua, pisahkan uang usaha dan uang pribadi. Dan yang utama, jangan mudah tergoda.

1. Atur keuangan kita

Cara paling mudah untuk mengatur keuangan usaha adalah dengan menyepakati sejak awal berapa porsi uang yang akan digunakan sesuai dengan lalu lintas uang yang dibutuhkan. Bagaimana caranya? Kalau pengalaman saya, sebelum mendirikan usaha, sepakati dulu jumlah uang yang akan digunakan untuk membayar gaji, opersional perusahaan, serta berapa keuntungan yang akan digunakan mengembangkan usaha dan untuk ditabung.

Karena masih di awal mendirikan usaha keluarga, maka yang pertama dulu saya lakukan adalah membagi porsi 30:30:30:10. Porsi 30% saya ambil buat gaji yang sudah ditentukan sejak awal. Jadi, jika misalnya ada pemasukan sebesar Rp 20 juta, yang Rp 6 juta langsung dipotong di awal untuk disisihkan sebagai gaji. Kemudian, 30% disisihkan untuk operasional perusahaan seperti sewa kantor, biaya listrik, telepon, fax, transportasi, dan lain sebagainya.

Selanjutnya, yang 30 persen berikutnya digunakan untuk mengembangkan usaha. Dalam hal ini biasanya uang akan saya tabung dalam satu rekening tersendiri yang hanya untuk kepentingan usaha. Sisanya, yang sepuluh persen yakni senilai Rp 2 juta saya sisihkan untuk tabungan keluarga atau pribadi. (Bagian membagi tabungan usaha dan pribadi ini akan saya jelaskan di poin kedua nanti.)

Pola pembagian dengan struktur jumlah prosentase tersebut tidak mutlak. Namun, yang diperlukan adalah kedisplinan membagi berdasar nilai yang sudah disepakati tersebut. Dengan cara itu, ketika kita membagi nilai kontrak dengan rekanan atau relasi dan karyawan, kita akan lebih mudah mengaturnya. Yaitu, diambil dari porsi gaji yang 30% tadi.

Nah, tapi... ada tapinya... Kadang, uang gaji itu tidak cukup untuk memberi bagian pekerja kita. Biasanya, kemudian saya akan mengambil dari uang operasional. Sehingga, sisa yang 30 persen dan 10 persen sudah pasti aman. Kalau masih belum cukup juga? Ya, harus kita pikirkan ulang berapa nilai yang pantas untuk menggaji pekerja kita. Yang penting, kita tetap disiplin mengaturnya. Namun, kalau dari pengalaman saya, angka 60% biasanya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kepentingan yang berbau "bayar membayar" alias "kewajiban" sebagai seorang pengusaha. (Catatan: kalau masih ada sisa dari porsi yang 60%, maka uang tersebut langsung dimasukkan di jatah yang ditabung untuk kepentingan pengembangan saha.)

2. Pisahkan uang pribadi dan uang usaha

Biasanya, kalau usaha masih kecil, kita memang cenderung sering menyamakan antara uang yang kita terima dalam usaha dan uang untuk kepentingan pribadi. Sebab, kita biasanya menyimpan uang itu dalam satu nomor rekening. "Masih kecil, nggak usah maca-macam laah." Begitu biasanya anggapan saya waktu awal memulai usaha. Hal ini juga saya dapati dari beberapa pengusaha kecil yang mengawali merintis usaha dari bawah.

Padahal, jika kita mau berdisiplin, sejak awal harusnya kedua dana-usaha dan keluarga/pribadi-harus segera dipisah. Mengapa? Karena dengan begitu manajemen keuangan kita jauh lebih terarah. Nantinya, jika pemisahan ini jelas, kita akan tahu betul berapa dana pengembangan usaha yang bisa kita maksimalkan. Dan, kita pun bisa sadar kalau kebutuhan keuangan pribadi kita sedang berlebih ataupun kurang. Jika kita tahu persis kondisi keuangan, maka ini akan bisa mengerem kita saat banyak mendapat orderan. Sehingga, diharapkan kita cenderung tidak boros karena sudah tahu betul alokasi keuangan kita.

3. Jangan mudah tergoda

Poin ini bagi saya adalah yang utama. Dan, kalau boleh saya singkat, poin ini bisa saya sebut sebagai sebuah bentuk usaha mendisiplinkan diri. Sebab, kunci utama mengatur keuangan usaha keluarga adalah pada disiplin kita untuk mematuhi porsi prosentase yang kita atur untuk keuangan usaha dan keluarga.

Waktu saya tanya kepada rekan saya yang mengaku sulit menabung, ia memang menyebut bahwa godaan utama justru sering datang jika sedang banyak order. Barang-barang tadinya belum terlalu penting, jadi seperti "minta dibeli". Ada kalanya, saat uang masuk dalam jumlah besar, tiba-tiba kita merasa butuh ini dan itu. Pasang internet, TV kabel, entertain klien, sewa gedung yang lebih berkelas, beli baju dengan alasan agar bisa lebih pantas bertemu klien kelas atas, dan lain sebagainya.

Apakah semua keinginan tadi salah jika dipenuhi? Tidak juga. Tapi, ada satu kunci yang ingin saya sampaikan di sini. Kunci ini adalah cara "menahan godaan" yang sering diungkap oleh para perencana keuangan. Caranya yaitu dengan membedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli barang atau ingin memenuhi hasrat tertentu dengan dalih membesarkan usaha, tanyakan dulu, apakah itu merupakan kebutuhan mendesak atau keinginan yang bisa ditunda. Jawaban ini yang akan menentukan ke mana uang Anda akan digunakan.

Semoga bermanfaat dan selamat mengatur keuangan usaha Anda....

Agoeng Widyatmoko adalah seorang konsultan independen UKM dan perencana usaha keluarga. Bukunya 100 Peluang Usaha telah jadi buku best seller dan menginspirasi banyak orang untuk membuka usaha. Ia dapat dihubungi di agoeng.w@gmail.com atau SMS ke 0812 895 0818


baca berita di lintas berita | Infogue.com
Stumbleupon.com  Digg.com  Mister-Wong.com  Reddit.com  Technorati.com  ma.gnolia.com  Newsvine.com  Plugim.com  Blinkbits.com  Co.mments.com  del.icio.us  Propeller.com  Scoopeo.com  Slashdot.org  Simpy.com 
Facebook.com  Fark.com  Furl.net  Google.com  Gwar.pl Spurl.net  Sphere.com  Taggly.com  Squidoo.com  Scuttle.org 
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA

Komentar Artikel :

Belum Ada Komentar Untuk Artikel Diatas. Posting komentar Anda
           
( View : 1744 | Refer : 2 | Print : 144 | Rate : 9.00 / 2 Votes )
Artikel Selanjutnya
Buat Action Plan Buat Diri Anda Sendiri - Sabtu, 15-Maret-2008; 12:39:56
Good Investment - Senin, 24-Maret-2008; 09:55:54
Berani Saja Tidak Cukup - Rabu, 09-April-2008; 16:51:51
Bayi-bayi Bisnis - Rabu, 23-April-2008; 08:48:32
Dana Sos, Uang Penyelamat II - Selasa, 13-Mei-2008; 10:46:11
Artikel Sebelumnya
Untung Besar Atau Untung Berlipat? - Selasa, 04-Maret-2008; 08:27:06
15 Hari Lagi Menuju Full Tda - Jumat, 22-Pebruari-2008; 09:12:25
Belajar Dari Bayi Dan Tomat Busuk - Selasa, 19-Pebruari-2008; 09:28:35
Butuh Modal Usaha? Gampaaang.... - Selasa, 29-Januari-2008; 14:37:06
Tetaplah Bertahan dan Tetaplah Bergerak - Jumat, 11-Januari-2008; 08:20:29
AW Jumlah Pengunjung
Pengunjung Kemarin 3143
Pengunjung Hari Ini 117
Online 14
Pengiriman Artikel dan AW Jokes
Jika Anda ingin mengirimkan Artikel, silahkan tekan tombol dibawah ini
Layanan Informasi
Layanan pelanggan - CSO 1

Layanan pelanggan - CSO 2
Bukan untuk konsultasi pribadi
Sitemap | Contact Us | Privacy Policy Copyright © 2007, Andriewongso.com - Action & Wisdom Motivation Training, All Rights Reserved