Ada
pendapat yang mengatakan bahwa suatu kepribadian yang dimiliki seseorang itu
tidak mungkin bisa diubah. Ada
juga yang mengatakan bahwa untuk mengubah karakter pribadi seseorang, akan
membutuhkan waktu sepanjang hidup orang tersebut. Di negeri China bahkan ada sebuah peribahasa
yang cukup lucu, menyatakan bahwa mengubah karakter pribadi seseorang itu,
diibaratkan seperti mengasah sebuah tongkat besi sampai menjadi sekecil jarum
jahit. Membuat sebuah jarum kecil dengan cara mengasah sebuah tongkat besi
tentu saja membutuhkan waktu lama, disamping itu juga butuh tekad, keuletan,
semangat juang, komitmen pribadi yang benar-benar tangguh; sehingga suatu saat
sebuah tongkat besi akan benar-benar menjadi sebuah jarum kecil. Yah - itulah
sebuah kenyataan sesungguhnya tentang mengubah suatu watak atau karakter
pribadi, yang memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Saya sendiri sangat tidak setuju
jika ada pendapat bahwa karakter pribadi seseorang tidak bisa berubah. Kalau
memang ternyata seseorang tidak pernah berubah karakter dirinya menjadi lebih
baik, meskipun dia telah mengikuti berbagai acara seminar ataupun
pelatihan-pelatihan pengembangan diri; maka sebenarnya bukan karena kesalahan
seminar ataupun pelatihannya, tetapi orang tersebut memang tidak mau berubah,
tidak mau meluangkan sedikit waktu dan tenaganya untuk membuatnya berubah lebih
baik. Saya yakin, bahwa suatu sikap mental atau karakter pribadi seseorang
pasti masih bisa diubah, meskipun itu tentu saja membutuhkan waktu dan usaha
yang benar-benar harus luar biasa prima. Satu hal kebenaran mendasar yang perlu
Anda pahami, yaitu: karakter pribadi ataupun sikap mental pasti bisa diubah.
Orang tidak pernah terlalu tua atau terlalu muda untuk bisa mengubah
kepribadiannya lebih positif, lebih baik; dan memulai hidup baru dengan lebih
produktif, kreatif, inovatif serta berani mengambil resiko dalam meraih
keinginan dan cita-citanya.
Seorang bayi sejak di dalam kandungan pasti sudah akan menerima banyak
sekali pengaruh, baik yang berasal dari zat gizi yang dikonsumsi oleh ibunya;
maupun dari sikap mental sang ibu selama mengandungnya. Setelah sang bayi lahir
ke dunia ini, pengaruh-pengaruh yang akan menyerangnya semakin bertambah besar
dari segi kuantitatif maupun kualitatifnya.
Semasa kita masih kanak-kanak, sampai menjadi dewasa seperti ini;
sering masih terbayang dengan jelas sekali bagaimana perjalanan hidup kita,
pertumbuhan diri kita, yang tidak pernah lepas dari pengaruh lingkungan sekitar
kita, khususnya pengaruh dari sikap orang tua kita sendiri dan orang-orang yang
sangat dekat hubungannya dengan kita. Masih segar dalam ingatkan kita,
bagaimana orang tua kita begitu sayangnya kepada kita; sehingga tanpa mereka
sadari, sikapnya yang terlalu menyayangi diri kita itu sebenarnya justru
membelenggu kebebasan kita untuk mengekspresikan jati diri kita sendiri.
Sikap orang tua yang
over
protective itulah pada gilirannya akan membelenggu jati diri kita
sesungguhnya; sehingga kita tidak bisa menjadi diri kita sendiri. Anda sendiri
tentu masih ingat, orang tua Anda seringkali melarang Anda untuk melakukan
kegiatan atau aktivitas yang Anda senangi. Jika kegiatan atau aktivitas Anda
memang berbahaya, itu bisa dimaklumi. Tetapi pada kenyataannya, seringkali
orang tua melarang anaknya melakukan sesuatu hanya sebagai suatu "kebiasaan
melarang" saja. Orang tua sering salah dalam mempersepsikan sebuah bentuk
"larangan", dengan tidak menyadari dampak negatif dari larangan-larangan itu
dikemudian hari pada si anak tersebut.
Contoh larangan itu, misalnya: ketika si anak ingin mandi sendiri,
dilarang dengan alasan nanti tidak bisa bersih badannya; ketika si anak mau
membeli pensil di toko sebelah rumah, juga tidak boleh sendirian, khawatir
uangnya jatuh dan hilang; saat si anak ingin menghidupkan radio sendiri, orang
tua juga tidak memperbolehkan dengan alasan cari frekuensi gelombangnya nanti
tidak bisa pas, atau khawatir anaknya kena "strum". Larangan-larangan inilah,
pada dasarnya sebenarnya adalah "tidak percaya" kepada kemampuan si anak, pada
gilirannya akan membuat si anak pada masa dewasa nanti menjadi seorang yang
juga "tidak percaya" pada dirinya sendiri. "Rasa tidak percaya diri" ini akan
terus melekat pada diri anak tersebut sampai dia dewasa nanti.
Selain bentuk larangan-larangan, banyak orang tua suka mengungkapkan
"kepasrahan yang berlebihan" terhadap kondisi yang ada pada diri mereka kepada
anak-anaknya. Contoh bentuk "kepasrahan yang berlebihan" ini bisa Anda lihat
sebagai berikut: suatu ketika lewat di depan rumahnya sebuah mobil mewah dan
tentunya harganya mahal sekali, lalu si anak berkata dengan takjub kepada orang
tuanya, "Pa-Ma, mobil itu bagus sekali ya. Coba kita punya". Orang tuanya
menjawab, "Itu bukan hak kita, nak. Mobil kita cukup yang begini saja, nggak
perlu mewah, itu bukan rezeki kita, itu rezekinya orang lain". Sewaktu
jalan-jalan melewati sebuah kompleks perumahan mewah, lagi-lagi si anak
berkata, "Mewah dan indah sekali rumah ini ya, seandainya kita juga punya",
langsung si orang tuanya menyahut, "Kita sudah diberi rezeki oleh Tuhan segini,
ya harus diterima dan disyukuri. Jangan tergiur dengan milik orang lain. Hidup
ini sudah ada yang mengatur". Begitulah kurang lebih contoh bersikap dari orang
tua yang "terlalu pasrah", "nrimo ing pandum" dengan apa yang sudah dimilikinya.
Secara tidak disadari sikap pasrah yang berlebihan dari orang tua ini
akan benar-benar meresap ke dalam pikiran si anak; dan menjadi sebuah pola
berpikir di masa depannya, nanti pada saat dia dewasa. Bersyukur atas karunia
Tuhan memang harus, tetapi terlalu pasrah atas apa yang diperolehnya merupakan
sebuah sikap yang berlebihan; karena ini akan mengembangkan sifat dan sikap
inferior di dalam diri kita, sebuah
sikap yang memandang rendah diri sendiri, tidak percaya kepada diri sendiri;
dan itu akan menghambat kesuksesan.
Masih ada lagi sikap orang tua yang juga kurang proporsional
sebenarnya, tetapi ini juga sudah menjadi kebiasaan umum. Sikap itu adalah
suatu sikap yang cenderung menakut-nakuti si anak. Suatu contoh, misalnya:
"Jangan ke lapangan itu, nanti ada ularnya". "Awas, di sungai itu ada
hantunya". "Hati-hati kalau gelap, banyak roh halusnya". "Jangan begitu, nanti
bisa salah". Dan masih banyak lagi bentuk ungkapan orang tua, yang pada
dasarnya adalah juga tidak percaya pada si anak tersebut, karena
over protective terhadap anaknya.
Pernyataan-pernyataan orang tua yang cenderung menakut-nakuti inipun
akan berdampak negatif pada perkembangan mental dan emosi si anak sampai dewasa
kelak. Pada akhirnya anak itu sampai dewasanya menjadi selalu gampang takut
untuk melakukan sesuatu, bahkan mungkin bisa menjadi suatu paranoid; suatu
bentuk ketakutan yang berlebihan dan tidak beralasan logis. Pada gilirannya, si
anak menjadi sosok pribadi yang selalu "tidak percaya diri", pribadi yang mudah
goyah pendiriannya; pribadi yang selalu "gamang" dalam menentukan sikap, yang
mana hal tersebut jelas-jelas akan menjadi penghalang dan penghambat terbesar
dalam meraih cita-citanya di masa depan. Cara pendekatan orang tua yang salah
seperti tersebut, benar-benar akan meresap ke dalam pikiran bawah sadar si
anak, yang pada akhirnya berperan membentuk karakter pribadi dan sikap
mentalnya.
Contoh-contoh sikap orang tua kepada anaknya, seperti saya jelaskan di
atas tersebut, sangat berperan dalam membentuk sikap mental, jiwa kepribadian
seseorang; dan bentukan itu bisa sangat kuat pada diri seseorang karena
berlangsung dalam waktu lama sekali, puluhan tahun. Sehingga, memang untuk
mengubah suatu sikap, watak atau kepribadian seseorang adalah tidak mudah;
perlu waktu dan usaha keras untuk mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik.
Tetapi yang penting di sini adalah: watak atau kepribadian itu bisa di ubah.
Ingatlah
Aldous Huxley;
seorang pujangga besar Inggris yang mengatakan bahwa,
"Hanya ada satu sudut di alam semesta yang pasti akan bisa Anda perbaiki; itu adalah diri Anda sendiri".
Bahkan Tuhan sendiri sudah mengisyaratkan dalam firmanNya, bahwa Dia tidak akan
mengubah nasib manusia, jika manusia itu tidak mau mengubah nasibnya sendiri.
Oleh sebab itu, jika Anda ingin sukses; maka
Anda harus mau membentuk dan mengembangkan jiwa sukses itu di dalam
diri Anda sendiri. Anda harus ada keinginan sekaligus kemauan untuk menjadi
sukses. Keinginan dan kemauan untuk sukses itu sebuah pijakan; yang harus Anda
tidak lanjuti dengan suatu perencanaan matang untuk meraih sukses dan
mendapatkannya. Di dalam pelaksanaan meraih sebuah kesuksesan, Andapun harus
mempunyai sikap ulet, tahan banting, pantang menyerah. Sebab jika tidak begitu,
Anda akan mudah untuk berkata "saya gagal". Sesungguhnya sukses memang harus
direncanakan sejak awal, sebab kita lahir di dunia ini jelas-jelas tidak
langsung membawa jiwa sukses; apalagi dalam perkembangan dan perjalanan hidup
kita ini banyak sekali pengaruh negatif yang masuk ke dalam diri kita, sejak
dalam kandungan sampai dewasa ini; seperti contoh-contoh saya di atas tadi.
Salam Luar Biasa Prima!
Wuryanano
Penulis Buku Best Seller:
- The
Touch of Super Mind.
- Super
Mind for Successful Life.
- The
21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit.
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Wuryanano ( Daftar Artikel Selengkapnya )
|
 |
Mengatur Ulang Konsep Diri
|
 |
Kesadaran Pada Kewajiban Sukses
|
 |
Siapakah Penentu Sukses Anda?
|
 |
Waspadai Prinsip Masa Kini dan Prinsip Material
|
 |
Optimisme Dan Sukacita Dalam Hidup
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Buah Kelapa Yang Mematikan!
(Artikel Tetap) -
Selasa, 11 Maret 2008
|
 |
Faktor Luck Dalam Kesuksesan
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Begini Seharusnya Pelayanan Call Center (bagian 2 - Tamat)
(Artikel Tetap) -
Rabu, 12 Maret 2008
|
 |
Selimut Dalam Tidurku
(Artikel Tetap) -
Kamis, 13 Maret 2008
|
 |
Sudah Saatnya
(Artikel Tetap) -
Jumat, 14 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Model Kepemimpinan Menurut Fisika (bagian 4 Tamat)
(Artikel Tetap) -
Selasa, 04 Maret 2008
|
 |
Kucing Yang Bertamu
(Artikel Tetap) -
Senin, 03 Maret 2008
|
 |
Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan - 3
(Artikel Tetap) -
Sabtu, 01 Maret 2008
|
 |
Begini Seharusnya Pelayanan Call Center (bagian 1)
(Artikel Tetap) -
Jumat, 29 Februari 2008
|
 |
Peramalan
(Artikel Tetap) -
Kamis, 28 Februari 2008
|
|
|