|
|||
|
Penulis : Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Rating Artikel :
Senin, 25-Pebruari-2008
Tak terbayangkan betapa berat
beban hidup ini jika manusia tak dilengkapi dengan kemampuan menghibur diri.
Lihatlah jumlah penderitaan itu, sejauh-jauh mata memandang, rasanya manusia cuma
akan melihat derita dan persoalan. Lihatlah daftar persoalan itu,
sambung-menyambung tanpa henti mulai lahir sampai mati. Tetapi jika hidup cuma
berisi penderitaan, manusia pasti tak kuat bertahan. Begitu lahir, ia pasti
akan langsung mati. Setengah dari hidup itu, pastilah berisi sang kebalikan. Maka
antara derita dan kegembiraan, pasti sama banyaknya. Inilahlah yang membuat bahkan
filsuf seperti Sartre kebingungan. Fakta
bahwa manusia bisa bertahan hidup tanpa bunuh diri itu saja baginya sudah amat mengherankan.
Ya, banyak orang tergoda untuk mati karena daftar derita yang tak ada rampung-rampungnya. Tapi fakta bahwa jauh lebih banyak orang berani hidup katimbang berani mati juga bukti yang nyata bahwa di dalam hidup, seseorang boleh bergembira kapan saja dia mau, karena kegembiraan itu jumlahnya tak terhingga dan tinggal memungut begitu saja. Salah satu pintu kegembiraan itu adalah kemampuan menghibur diri seperti yang telah saya sebutkan. Dan jujur saja, hingga saat ini, jurus menghibur ini menolong saya dari bermacam-macam persoalan. Saya tidak malu disebut sebagai suka menghibur diri atas banyak kegagalan. Jika setelah gagal saya tak boleh menghibur diri, tak akan pernah bisa saya melahirkan kolom ini. Misalnya saja ketika saya memiliki sepetak tanah, kecil saja, yang saya beli dengan menabung serupiah demi serupiah, tetapi ternyata suratnya tak juga rampung selama bertahun-tahun. Geram belaka bawaan saya setiap mengingatnya. Setiap melihat tanah ini bukannya seperti melihat harta karun, melainkan malah seperti melihat sumber kegeraman. Lalu apa yang saya lakukan? Tanah itu pelan-pelang saya buang dari pikiran. Tanah itu tetap di tempatnya, tetapi lokasi di pikiran saya telah berubah. Katimbang menatap tanah itu, saya lebih suka menatap gunung-gunung di sekitar yang terlihat dari rumah saya. Saya suka naik ke atas rumah dan menengadah melihat langit. Waa.. dunia ini luas sekali. Begitu luasnya sehingga menempatkan pikiran hanya untuk berpikir tentang tanah secuil itu sungguh merupakan ketololan. Saya mengembangkan dada seluas yang saya bisa. Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa tanah itu terlalu kecil untuk dipikirkan. Kalau perlu saya akan membeli pantai, membeli gunung dan lautan sebagai gantinya. Saya tidak tahu apakah keinginan saya ini masuk akal. Tetapi baru memikirkan keinginan ini saja hati saya sudah gembira luar biasa. Hati itu tiba-tiba terbimbing untuk menuju keumungkinan-kemungkinan yang luas tanpa batas. Hati dan pikiran itu akhirnya tidak cuma tergadai untuk soal-soal yang terlalu remeh jika badingannya adalah seluruh hidup kita. Maka setiap memandangi tanah itu, saya tidak lagi terpaku pada surat-suratnya yang hingga tulisan ini saya buat belum rampung juga, melainkan malah seperti melihat seorang yang menegur saya untuk mau terbang lebih tinggi, untuk lari lebih kencang, untuk membeli apa saja karena dunia menyediakan apa saja jika saya menginginkan. Ya, banyak sekali soal-soal sederhana yang kita biarkan menyita hampir seluruh pikran padahal ia murah sekali jika bandingannya adalah seluruh dari kehidupan. Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA |
|||
|
Komentar Anda
Pengirim : andy
:) menarik sekali isi artikelnya pak Prie, paling tidak itu adalah jalan tercepat dan termurah untuk membuat diri kita merasa senang / bahagia. memang semua sumber persoalan bersumber dari dalam pikiran kita sendiri. tergantung dari cara pandang kita melihat suatu masalah / persoalan. hidup itu gampang-gampang susah dan juga sekaligussusah-susah mudah hehehe. saya juga kerap kali dihinggapi pemikiran yang menggelisahkan akan tetapi mudah-mudahan artike bapak ini dapat sering mengingatkan saya bahwa sebenarnya "dunia ini tak sebesar daun kelor" :) thanks ya pak.
|
|||
|
|||
| ( View : 5239 | Refer : 9 | Print : 179 | Rate : 8.25 / 4 Votes ) | |||
| Artikel Selanjutnya : | |||
| • | Sponge, Clean Or Dirty ? (Artikel Tetap) - Rabu, 27-Pebruari-2008 | ||
| • | Peramalan (Artikel Tetap) - Kamis, 28-Pebruari-2008 | ||
| • | Begini Seharusnya Pelayanan Call Center (bagian 1) (Artikel Tetap) - Jumat, 29-Pebruari-2008 | ||
| • | Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan - 3 (Artikel Tetap) - Sabtu, 01-Maret-2008 | ||
| • | Kucing Yang Bertamu (Artikel Tetap) - Senin, 03-Maret-2008 | ||
| Artikel Sebelumnya : | |||
| • | Rahasia Sang Penakluk (Artikel Tetap) - Sabtu, 23-Pebruari-2008 | ||
| • | Model Kepemimpinan Menurut Fisika (bagian 3) (Artikel Tetap) - Jumat, 22-Pebruari-2008 | ||
| • | Evaluasi (Artikel Tetap) - Kamis, 21-Pebruari-2008 | ||
| • | Your Life Is Important (Artikel Tetap) - Rabu, 20-Pebruari-2008 | ||
| • | The Power Of Positive Attitude (Artikel Tetap) - Selasa, 19-Pebruari-2008 | ||
| Menu Artikel | |
| Mau Berbagi ? | |
|
|



