Misi : Membangun Kekayaan Mental Manusia Indonesia Demi Kehidupan Yang Lebih Bernilai
Slogan : Bosan kita menderita ! Saatnya Bersama ! Bangun Indonesia !
   Tell A Friend  |  Contact Us  |  Sitemap
 
 
 
Talk Show: Andrie Wongso Smart Motivation Setiap Hari Senin. Jam 07.05 WIB - 08.00 WIB (Live Interaktif Motivation). Jam 15.05 WIB - 16.00 WIB (Siaran Ulang). Di Radio SMART FM: Jakarta 95.9 FM, Makasar 101.1 FM, Palembang 101.8 FM, Banjarmasin 101.1 FM, Balikpapan 97.8 FM, Medan 101.8 FM, Semarang 93.4 FM, Ral FM Manado 102,65 FM, Smart FM Surabaya 88,9 FM Jangan lupa dengarkan setiap hari kapsul-kapsul Wisdom & Motivation.
Kalender Januari 2009
S M T W T F S
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31
Baca Juga
• Seng Guan
  Jumat, 20-April-2007
  14:19:48 WIB
Menjadi Bahagia?
• Seng Guan
  Minggu, 23-Maret-2008
  10:38:22 WIB
Ratapan (curiga) Anak Tiri
• Seng Guan
  Selasa, 05-Agustus-2008
  08:35:39 WIB
Hanya Empat Huruf Dan Satu Detik
• Seng Guan
  Jumat, 08-Pebruari-2008
  07:52:22 WIB
Garis Kehidupan
Shopping Product
Agenda Motivasi
Cover Semi Kulit
Foto Andrie Wongso beserta tulisan Success Is My Right
 
View Shopping Product
Artikel Anda
Jumat, 22-Pebruari-2008; 10:49:07 WIB
Golden Egg
( 2 Komentar ) - Klik Profil Penulis
Oleh : Seng Guan

Kalau Anda pernah ke kota Medan baru-baru ini, Anda mungkin pernah berjumpa dengan seorang anak lelaki penjual telur kampung, umurnya sekitar 10an tahun.

Anda mungkin akan mendengar deretan kata-kata yang selalu dilantunkannya dari hari ke hari, dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya, dari satu warung ke warung yang lain.

“ Ko, Ci, ai be nui o? Cia ye, sui ye” (dalam bahasa hokkien medan), yang artinya “Abang, Kakak, mau beli telur ayam kampung? Yang asli, yang bagus” Lantunanya kata-katanya sekilas terdengar mengiba, diulangnya berkali-kali di hampir setiap meja yang dilaluinya.

Mungkin sepintas Anda akan mengira anak tersebut sengaja minta dikasihani, atau mungkin hanya seorang “pengemis” yang berkedok sebagai penjual telur ayam kampung. Tapi sungguh di luar dugaan jawaban yang Anda akan dapatkan jika Anda memberikan sejumlah uang kepadanya atas dasar kasihan. Ia akan menjawab “Saya bukan pengemis, saya adalah penjual telur ayam kampung” dan ia akan segera berlalu dari hadapan Anda.

Anda mungkin termasuk orang yang pernah mendapat jawaban seperti itu, mungkin juga baru kali ini Anda tahu masih ada anak seperti itu. (Walau saya belum pernah mengalami hal tersebut, setidaknya itulah pengakuan beberapa orang yang pernah mencoba membeli “rasa iba-nya”)

Sebuah DVD keluaran anak Medan berdurasi sekitar 40 menit mengangkat cerita tentang anak ini, beberapa poster ditempelkan pada sejumlah tempat makan, dipromosikan secara terbatas di beberapa sudut kota Medan. Moment yang dipilih pun bertepatan pada kedatangan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 7 Pebruari yang lalu.

Film itu dibuat dengan alur yang sederhana, dimainkan oleh beberapa anak muda kota Medan dan diberi judul yang cukup menjual “Golden Egg”

Yang akan dibahas kita saat ini bukanlah seberapa bagus cerita itu digarap, seberapa bagus kesan yang ingin dibangun di sana, atau seberapa bagus karakter yang coba dimainkan, tidak juga tentang seberapa bagus audio visualnya (karena Saya tidak dalam kapasitas menilai kwalitas film tersebut), yang justru akan kita bahas adalah hal-hal sederhana yang dapat kita pelajari di sana.

Hal sederhana pertama yang muncul di benak kita adalah “Apakah film itu hanya dibuat-buat, apa memang benar masih ada orang ( bahkan anak kecil) yang memiliki karakter setegar itu?”

Kita mungkin tidak akan pernah merasakan kenikmatan sebuah mangga sebelum kita sendiri yang mencicipinya.

Sebelumnya, saya sendiri pernah menjumpai anak tersebut, sempat bertanya sedikit tentang dirinya. Ia seperti anak pada umumnya, hanya mungkin tidak seberuntung anak-anak Anda. Ia harus bekerja di malam hanya untuk membantu biaya pendidikannya sendiri di pagi hari.

Ironisnya kita, sebagai makhluk yang lebih dewasa bahkan tidak sanggup memberikan jawaban seperti yang diberikannya pada saat kita tercampak dalam kesulitan. (“Saya bukan pengemis, saya adalah penjual telur ayam kampung”)

Pada saat kita terjun ke dalam jurang derita, kita malah ingin tampil sebagai mahkluk yang paling menderita di dunia, yang perlu dikasihani, yang perlu diberi bantuan, seakan-akan itulah hak kita. Hak yang harus dituntut bahkan kalau perlu dengan kekerasan. Kita sering tampil sebagai seorang “pengemis”, bahkan lebih cenderung “pemeras”, karena kita kadang meminta dengan ngotot untuk dikasihani.

Tidak dengan anak ini, jawabannya telah menelanjangi kita. Dan mahluk berkarakter ini benar-benar ada, hadir sebagai seorang anak lelaki kecil pada UMUMnya.

Hal sederhana kedua adalah, setelah Film tersebut dipromosikan, dan menjadi buah bibir di beberapa sudut kota Medan, anak tersebut seakan jadi selebriti, dicari-cari dan ditunggu-tunggu kedatanganya, mereka juga ingin mencicipi telur kampung yang dijualnya. (Padahal mungkin saja, mereka dulu adalah termasuk orang-orang yang mencemoohkannya, meragukan keaslian telur ayam kampungnya, yang menolak untuk membelinya)

Pada saat Film sederhana ini diperbincangkan, secara ramai-ramai orang mulai “menanamkan Kebaikan” pada bocah kecil itu, masing-masing menonjolkan diri berapa banyak telur ayam kampung yang telah dibeli mereka. Seperti sebuah perlombaan, dengan moment start-nya adalah peluncuran Film itu.

Kenapa harus menunggu moment seperti itu, kalau memang hal sederhana itu dapat kita lakukan setiap saat, kapan saja dan di mana saja.

Setidaknya dengan adanya peristiwa ini kita dapat bercermin, setidaknya masih banyak “orang baik” yang mau menanamkan kebaikan.

Intinya, Tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan.

Hal sederhana ketiga adalah bahwa di Medan ternyata ada orang yang berani memulai sebuah hal baru (terlepas apakah Film tersebut dinilai bagus atau tidak), ada sekelompok anak muda yang berani untuk tampil sebagai “Yang Pertama”, karena menjadi yang pertama tidaklah mudah, perlu satu perjuangan yang luar biasa (terutama perjuangan bathin), karena menjadi yang pertama, ia harus siap menghadapi kelompok “Pencemooh” yang jumlahnya bisa sangat banyak (Kehadiran kelompok kritikus ini sebenarnya bagus untuk kemajuan, asal mereka juga harus berani memberikan input yang membangun)

Menjadi “Yang Pertama” berarti berjalan di depan, membuka jalan, dan siap mendengar kata “Oh, ternyata hal ini gampang, semua orang juga dapat melakukannya” (Saya jadi teringat dengan Telur Columbus). Percayalah, orang sebenarnnya tidak pernah tahu gampang atau sukar sebelum Anda melakukannya pertama kali.

Hal sederhana keempat adalah bahwa cerita sederhana ini dapat menggelitik banyak orang, untuk menceritakan kembali kesan-kesan positif yang didapat, setidaknya saya tergerak untuk bercerita sedikit tentang kota Medan, tentang si bocah penjual telur ayam kampung, tentang sebuah Film yang berjudul “Golden Egg”

Ini Medan Bung!

Ternyata masih banyak mengandung “Insan-insan lembut” yang berkarakter.

 

Salam Sukses Selalu
Seng Guan, CPLHI
Regional Manager PT. Arthamas Konsulindo Medan



baca berita di lintas berita | Infogue.com
Stumbleupon.com  Digg.com  Mister-Wong.com  Reddit.com  Technorati.com  ma.gnolia.com  Newsvine.com  Plugim.com  Blinkbits.com  Co.mments.com  del.icio.us  Propeller.com  Scoopeo.com  Slashdot.org  Simpy.com 
Facebook.com  Fark.com  Furl.net  Google.com  Gwar.pl Spurl.net  Sphere.com  Taggly.com  Squidoo.com  Scuttle.org 
 
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA

Komentar Artikel :

Tanggal Komentar: Minggu, 13-April-2008; 14:27:49
  Nama Pengirim Komentar : Rius Suhendra ( quatrica@yahoo.com )
  "Dear Sdr Seng Guan Thanks buat artikelnya dan dukungannya . memang setelah banyak yg nonton film golden egg banyak yg mengkritik habis dari kualitas dan segalanya , tapi ada juga yg menyukainya film sederhana ini , ada sedikit terharu dan bangga karena dari awal ide untuk membuat film ini adalah sebuah ITIKAD BAIK ingin menceritakan tentang nilai kejujuran dan bila sampai ada orang tua menyarankan anaknya melihat golden egg untuk bahan pelajaran moral dan kejujuran maka itulah kebanggaan terbesar saya dalam membuat film ini. Thanks Banget"
Tanggal Komentar: Jumat, 29-Pebruari-2008; 14:10:27
  Nama Pengirim Komentar : syafriandi ( syari.andi@yahoo.co.id )
  "Hati kita selalu tergerak begitu melihat/membaca/mendengar cerita yang menyentuh hati. Namun terkadang hal itu dimanfaatkan oleh orang, seringkali telur yang dijual adalah telur ayam kampung palsu (terlebih dahulu telur ayam ras yang dipilih kecil-kecil di putihkan. Tetapi kita tetap harus memelihara rasa."
 Komentar Lainnya
           
( View : 6892 | Refer : 1 | Print : 83 | Rate : 0.00 / 0 Votes )
Artikel Selanjutnya
Anda Gagal? Jangan Salahkan Siapa-siapa - Minggu, 24-Pebruari-2008; 10:24:08
Emosi - Senin, 25-Pebruari-2008; 08:02:53
Semua Akan Berubah - Selasa, 26-Pebruari-2008; 09:41:55
Rileks Dan Sukses - Rabu, 27-Pebruari-2008; 08:35:26
Rumah Yang Indah Dan Kokoh - Kamis, 28-Pebruari-2008; 08:31:48
Artikel Sebelumnya
Bulan Pun Tidak Mengitari Matahari Secara Langsung - Kamis, 21-Pebruari-2008; 09:16:48
Membeli Senyuman - Rabu, 20-Pebruari-2008; 08:59:40
Siapakah Hero Kita - Senin, 18-Pebruari-2008; 08:04:23
Yang Muda Yang Dipercaya - Sabtu, 16-Pebruari-2008; 10:54:57
Melacak Jejak Para Peak Performers - Jumat, 15-Pebruari-2008; 08:59:43
AW Jumlah Pengunjung
Pengunjung Kemarin 3271
Pengunjung Hari Ini 2492
Online 45
Pengiriman Artikel dan AW Jokes
Jika Anda ingin mengirimkan Artikel, silahkan tekan tombol dibawah ini
Layanan Informasi
Layanan pelanggan - CSO 1

Layanan pelanggan - CSO 2
Bukan untuk konsultasi pribadi
Sitemap | Contact Us | Privacy Policy Copyright © 2007, Andriewongso.com - Action & Wisdom Motivation Training, All Rights Reserved