Dalam berbagai kesempatan, saya selalu menekankan pentingnya
tindakan nyata daripada sekadar rencana. Tapi, selalu saja masih banyak yang
bertanya, darimana mulainya, bagaimana caranya, dan berbagai pertanyaan
lain-yang kadang justru melemahkan semangat- yang membuat orang justru tidak
bergerak dari apa yang direncanakan. Kebanyakan, kemudian justru timbul
keraguan setelah akan melangkah. Apalagi, jika sudah melibatkan modal dalam
jumlah yang cukup banyak. Takut rugilah, takut bangkrut, takut ditipu orang,
dan berbagai macam ketakutan yang ujung-ujungnya, membuat kita ragu melangkah.
Karena itu, ada baiknya kita kembali pada niatan awal
memulai usaha. Apa sebenarnya tujuan membuka usaha. Apa yang ingin kita capai
dari usaha itu? Sekadar iseng, mengikuti tren kewirausahaan, atau memang ingin
menjadikan hal tersebut sebagai sebuah "jalan hidup"?
Jika pilihan terakhir ini yang ingin kita tuju, maka
sebenarnya, tak perlu ragu dan takut untuk memulai. Apa sebab? Coba tengok masa
ketika kita masih jadi bayi. Mungkin dulu kita tak pernah menyadari, saat kita
jatuh, kita tak pernah takut untuk belajar berdiri dan berjalan lagi. Sebab,
dalam alam bawah sadar kita, bisa berjalan sebenarnyatelah menjadi sebuah tujuan. Maka, sama juga
kita kita menanamkan jika menjadi pengusaha menjadi salah satu tujuan hidup. Jika
itu sudah menjadi keinginan yang kuat, ada baiknya kita menanamkan itu sebagai
sebuah target besar yang menantang.
Lantas, apa manfaatnya jika hal itu sudah kita jadikan
sebagai target utama? Seperti bayi yang belajar berjalan, maka apapun rintangan
dan tantangan yang dihadapi, akan segera bangkit lagi. Tapi, apakah akan
semudah itu? Tentu saja tidak. Saya pun pernah mengalami kegagalan berwirausaha
yang cukup menyakitkan. Tak hanya hitungan rupiah yang jadi sumber kekesalan,
tapi urusan pertemanan pun kadang jadi berantakan. Inilah yang kadang membuat
banyak pengusah mikro dan kecil, ciut nyali saat berhadapan dengan kenyataan.
Sekali jatuh dirasa langit sudah runtuh. Sekali gagal terasa semua seolah jadi
gelap.
Lantas, jika sudah begitu, bagaimana cara bangkit yang
paling mudah? Seperti bayi, cara paling mudah adalah dengan meraih apapun yang
ada di dekatnya, untuk digunakan bangkit lagi. Tanpa sadar, sang bayi sudah memaksimalkan
potensi yang dimiliki, baik yang ada dalam diri maupun yang ada di
sekelilingnya. Jika dimaknai, hal ini jugalah yang perlu kita lakukan saat
jatuh ketika menjalankan usaha.
Bagaimana implementasinya? Caranya bisa bermacam-macam. Dan,
tak ada rumusan yang pasti. Sebab, ibarat resep masakan. Di tangan koki yang
berbeda, meski dengan resep dan komposisi yang sama, hasilnya bisa
berbeda-beda. Nah, kali ini saya akan mengambil contoh dari "resep" sederhana
yang diceritakan seorang teman, yang dulu hingga kini-jika saya ingat-selalu
berhasil memotivasi saya.
Kala itu, ia menceritakan bagaimana ia berdagang tomat. Ia
membeli dalam jumlah besar di pasar induk, tentu dengan harga yang murah.
Kemudian, sebagian ia kemas dalam plastik yang sudah dibuat serapi mungkin.
Untuk yang kemasan plastik ini, ia titip jual ke minimarket, dengan nilai
keuntuangan yang cukup besar. Kemudian, sebagian lagi, ia jual ke pasar lain
dan warung-warung yang ada di perumahan. Untuk tomat jenis ini, ia mengambil
marjin keuntungan tak terlalu besar. Sampai di sini, sepertinya semua berjalan
baik-baik dan nampak mudah dihitung berapa keuntungannya.
Tapi, ternyata, di awal usaha-bahkan hingga kini, ia
menyebut bahwa banyak sekali tomat yang tak laku dijual. Akibatnya, busuk dan
hanya bisa dibuang. Inilah yang menurutnya kurang diperhitungkan sejak awal.
Akibatnya, ia pernah rugi besar saat memulai usaha. Tapi, saat rugi itulah,
istrinya tanpa sengaja memberinya ide luar biasa. Saat stres memikirkan tomat
yang hampir pasti tinggal menunggu busuk, istrinya menyajikan jus tomat yang
segar. Ia memaksimalkan tomat yang sudah tua, untuk dibuat minuman segar.
Sejak saat itu, ia kemudian mempunyai ide untuk menjual tomat
dalam beberapa kategori. Yang sangat segar, tetap dikemas dan dijual ke
berbagai jaringan yang sudah dikenalnya. Yang segar namun relatif sudah tinggal
menunggu waktu untuk menua, dijual dengan harga sangat miring kepada para
pemilik warung makan tegal dan restoran kecil lainnya. Dan, yang terakhir
adalah kategori yang harus segera diolah. Yang terakhir ini biasanya diolah
menjadi jus segar yang dengan cara tertentu dikemas dan bisa menjadi tahan
lama. Sementara, yang lainnya diolah menjadi sambal tomat dan saus tomat.
Dengan berbagai inovasi yang diawali dari rasa kesal
karena banyak buah tomat yang siap buang, kini ia justru makin sukses dengan
usaha saus tomat rumahan dan jus segar tomat. Bagi saya, kisah unik ini menjadi
pemicu semangat kala menghadapi persoalan di bidang usaha yang saya jalani.
Inilah gambaran nyata bahwa sebenarnya ujian itu justru datang untuk membuka
pikiran kita akan adanya berbagai peluang lain. Hanya dengan hati lapang dan
pikiran terang, kita akan bisa melihat betapa peluang itu tersembunyi di
berbagai tantangan dan persoalan yang dihadapi. Jadi, sudah siapkah Anda
mengubah "tomat busuk" berupa kegagalan dan kejatuhan,jadi peluang yang menjanjikan?
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agoeng Widyatmoko - Konsultan independen usaha kecil (UKM)
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
|
 |
Jangan Remehkan Peluang Sekecil Apapun
|
 |
Jangan Takut Untung
|
 |
Ide Bisnis Datang Dari Mana Saja
|
 |
Carilah Masalah
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
15 Hari Lagi Menuju Full Tda
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 22 Februari 2008
|
 |
Untung Besar Atau Untung Berlipat?
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 04 Maret 2008
|
 |
Atur Doong Keuangan Kita...
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 11 Maret 2008
|
 |
BuatAction Plan Buat Diri Anda Sendiri
(Entrepreneur Corner) -
Sabtu, 15 Maret 2008
|
 |
Good Investment
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 24 Maret 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Butuh Modal Usaha? Gampaaang....
(Entrepreneur Corner) -
Selasa, 29 Januari 2008
|
 |
Tetaplah Bertahan Dan Tetaplah Bergerak
(Entrepreneur Corner) -
Jumat, 11 Januari 2008
|
 |
Kepada Siapa Anda Curhat Tentang Bisnis Anda?
(Entrepreneur Corner) -
Senin, 07 Januari 2008
|
 |
Jangan Kebanyakan Mimpi
(Entrepreneur Corner) -
Kamis, 03 Januari 2008
|
 |
Kkn - Kekoncoan Itu Wajib
(Entrepreneur Corner) -
Rabu, 12 Desember 2007
|
|
|