Sekian waktu
lamanya, banyak orang yang sering berbicara tentang komitmen tanpa
mengetahui arti dari komitmen itu sendiri. Dari kamus Webster saya
mendapatkan beberapa kata yang kemudian saya rangkai menjadi definisi
dari komitmen.
Komitmen
adalah suatu pengambilan keputusan yang kita lakukan karena mempercayai
seseorang atau suatu institusi tertentu, sehingga dengan rela hati kita
menjadikan tujuan bersama yang sudah disepakati sebagai prioritas dalam
hidup kita.
Jadi,
kalau saya bisa menggarisbawahi tentang komitmen, yang pertama, harus
didasarkan pada sebuah pengambilan keputusan yang kita lakukan dengan
kerelaan hati atau dengan kesadaran sepenuhnya - bukan karena paksaan
maupun intimidasi. Yang kedua, harus didasarkan pada saling mempercayai
antara pihak-pihak yang berkaitan, dan harus ada tujuan bersama yang
kita tetapkan sehingga kita bisa merasakan apa yang disebut sebagai "sense of accomplishment." Komitmen
adalah suatu janji yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih, di mana
masing-masing pihak berjanji untuk mengerjakan apa yang menjadi
bagiannya dan menjadikannya prioritas utama. Dari hal ini dapat
disimpulkan bahwa loyalitas sebetulnya merupakan hasil dari komitmen.
Sebuah komitmen akan bisa terus bertahan jika ada kepercayaan di antara
kedua belah pihak. Dalam level individual, sebelum seseorang memutuskan
untuk menikahi kekasihnya, baik pihak pria maupun pihak wanita harus
saling mempercayai terlebih dahulu.
Ketika kepercayaan timbul dan
mereka merasa nyaman dengan keberadaan satu sama lain, barulah komitmen
bisa terbentuk dalam wujud sebuah lembaga pernikahan. Jadi,
jika dalam level pribadi komitmen dapat terus mengalami pertumbuhan
(dan seiring dengan masing-masing pihak saling mempercayai satu sama
lain loyalitas pun ikut bertumbuh), demikian pula halnya dengan
perusahaan. Dalam sebuah perusahaan, kita sebagai karyawan akan bisa
menunjukkan komitmen ketika kita merasa nyaman bekerja di perusahaan
yang bersangkutan.
Perusahaan pun pasti akan tetap meng-hire
kita sebagai karyawan jika perusahaan merasa nyaman dengan keberadaan
kita. Nah, apabila kita menghendaki agar komitmen yang ada bisa terus
bertumbuh dan rasa saling percaya menjadi semakin kuat, masing-masing
pihak harus terus menjaga integritasnya. Dari pihak kita sebagai
karyawan, kita perlu memberikan hasil kerja yang terbaik, karena di
situlah integritas kita dipertaruhkan. Dari pihak perusahaan,
perusahaan juga perlu memberikan gaji yang selayaknya dan (mungkin)
beberapa tunjangan tertentu yang akan bisa dinikmati oleh karyawan.
Selama masing-masing pihak mengerjakan apa yang menjadi bagiannya,
integritas masing-masing pihak pun akan terus bertumbuh dan rasa saling
percaya akan terus terbangun.
Selain
itu, komunikasi juga menjadi hal yang sangat menentukan. Untuk
membangun rasa percaya yang lebih tinggi sehingga komitmen menjadi
semakin kuat, dibutuhkan jalur komunikasi yang bagus di antara
pihak-pihak yang terlibat. Di satu sisi, pemimpin harus bisa
mengkomunikasikan apa yang menjadi tujuan atau sasaran yang ingin
dicapai oleh perusahaan dan apa langkah-langkah yang perlu diambil; di
sisi yang lain, karyawan juga harus bisa mengkomunikasikan kepada
pemimpin hal-hal yang dirasa menghambat atau mengganjal, sehingga
masing-masing pihak akan bisa menjaga komitmennya dengan baik.Komitmen
adalah sesuatu yang sangat penting, apalagi jika kita hidup dalam
sebuah komunitas di mana komitmen menjadi sesuatu yang sangat esensial.
Dalam keluarga, tanpa adanya komitmen, pasangan suami isteri akan
dengan mudah terlibat masalah perselingkuhan. Demikian pula dalam
sebuah perusahaan, tanpa adanya komitmen akan tercipta banyak kekacauan
yang dapat terjadi dalam perusahaan yang bersangkutan. Jika
kita melihat realita yang ada di masyarakat secara umum, kadang kala
seseorang sulit memegang atau bertahan pada komitmennya karena mereka
tidak menginginkan resiko dari komitmen itu. Ketika sepasang kekasih
memasuki pernikahan, kadang kala mereka hanya membayangkan hal-hal yang
baik dan impian-impian yang indah, tanpa melihat realita bahwa kadang
kala kita juga akan menghadapi masalah, musibah, bencana, dan hal-hal
negatif lainnya, dan ini adalah bagian yang juga harus kita lewati dari
sebuah komitmen.
Karena itu, bicara tentang komitmen, kita harus
mengingat bahwa untuk bisa bertahan dalam sebuah komitmen, kita perlu
memiliki kerelaan untuk melewati hal-hal baik maupun buruk, yang
menyenangkan maupun tidak menyenangkan bersama-sama. Komitmen
tidak bisa dijalankan secara sepihak, melainkan membutuhkan
keterlibatan dari masing-masing pihak yang ada di dalamnya - walau
tidak bisa disangkali pemutusan komitmen biasanya dilakukan oleh salah
satu pihak saja. Karenanya, jika kita ingin memastikan bahwa sebuah
komitmen akan bisa bertahan untuk jangka waktu panjang, kedua belah
pihak harus mengerjakan apa yang menjadi kewajiban masing-masing.
Tidak
jarang rasa jenuh dijadikan sebagai alasan untuk memutuskan komitmen.
Padahal, jika kita mengorek lebih dalam apa yang menjadi alasan
seseorang menjadi jenuh dan apa yang menyebabkan seseorang memutuskan
komitmen yang ia buat sendiri, persoalannya terletak pada pikiran orang
yang bersangkutan (bersifat psikologis belaka). Mengapa seseorang
menjadi jenuh? Secara psikologis penyebabnya adalah karena orang
tersebut mulai merasa apa yang ia kerjakan mulai menjadi rutinitas,
kurang ‘menantang', dan sebagainya.
Untuk menanggulangi kejenuhan
sebenarnya kita bisa melakukan hal-hal yang kreatif dalam pekerjaan,
bekerja dengan cara-cara yang berbeda, mengubah tata letak meja kita
(jika memungkinkan), mengubah tampilan pada layar komputer kita, dan
sebagainya. Meskipun kecil dan sederhana, hal-hal tersebut bisa
menolong kita untuk tidak begitu saja menjadi jenuh.
Melatih diri untuk berkomitmen
Untuk
melatih komitmen sebenarnya kita bisa memulai dari titik yang paling
sederhana, yaitu membangun komitmen diri sendiri. Melatih komitmen pada
diri sendiri sebenarnya sangat mudah, karena kita sendiri yang
menetapkan tujuannya. Sebagai contoh, kita mengambil komitmen untuk
bangun pada pukul 5 setiap pagi dan berolahraga - ini adalah tujuan
yang kita tetapkan sendiri. Yang perlu kita lakukan hanyalah terus
belajar untuk konsisten dengan keputusan dan komitmen yang kita buat.
Akan tiba saatnya ketika kita bangun, kita merasa ogah-ogahan; ini
justru merupakan sebuah latihan untuk menanggulangi kemalasan-kemalasan
yang sering kali membuat kita membatalkan komitmen kita sendiri.
Di
sisi lain, hal itu juga menjadi sebuah ujian: sampai sejauh mana
komitmen kepada diri sendiri ini kita bangun. Kalau komitmen kepada
diri sendiri sudah terbangun dalam diri kita, maka komitmen kepada
orang lain, komitmen kepada keluarga, atau komitmen kepada pekerjaan
akan lebih mudah untuk dilakukan, karena kesemuanya bersifat eksternal.
Yang terpenting adalah komitmen yang bersifat internal, yang berpusat
pada diri sendiri.Jika perusahaan tidak memiliki goal,
akan sulit bagi kita untuk mengukur tingkat keberhasilan. Ada beberapa
kemungkinan yang bisa menjadi penyebab mengapa karyawan tidak memahami goal perusahaan. Penyebab pertama adalah, karena pemimpin yang kurang bisa mengkomunikasikan goal kepada karyawan-karyawannya. Penyebab lainnya adalah karena kita sebagai karyawan tidak memahami atau tidak mau tahu dengan goal yang ditetapkan oleh pemimpin.
Perusahaan
yang ingin berkembang harus memiliki tujuan dan pencapaian-pencapaian
tertentu. Kalau seorang karyawan merasa tidak ada komunikasi antara
pemimpin dengan karyawan, ada beberapa hal yang bisa menjadi
penyebabnya: pertama, karena pemimpin merasa karyawan sudah tahu atau
seharusnya tahuapa yang pemimpin inginkan. Kedua, karena pemimpin merasa sudah cukup memberitahukan apa yang menjadi goalnya.
Nah, faktor yang paling dominan dalam komunikasi adalah ‘apa yang
diharapkan oleh masing-masing pihak?' - yang akan menolong kita
membangun komunikasi dengan sehat. Jika saya adalah pemimpin dan Anda
adalah karyawan saya, maka apa yang Anda inginkan dan apa yang saya
inginkan harus sejalan dulu, baru komunikasi akan terbangun dengan
baik.
Selama apa yang saya inginkan sebagai pemimpin dan apa yang Anda
inginkan sebagai karyawan tidak sejalan, maka apa pun yang saya
sampaikan akan bisa disalahpahami. Jadi, dalam hal ini, cobalah
memahami apa yang ada dalam hati dan pikiran pemimpin Anda, karena
ketika Anda sebagai karyawan bisa memahami hati dan pikiran pemimpin,
akan jauh lebih mudah untuk bisa berkomunikasi dengan pemimpin Anda.Seseorang
yang tidak bisa memegang komitmen pada dirinya sendiri tidak mungkin
bisa memegang komitmen kepada orang lain atau institusi lain yang ruang
lingkupnya lebih besar. Jadi, untuk mencapai kesuksesan, mulailah
membangun level komitmen pada diri sendiri terlebih dulu.
Dari situ
kita bisa mengembangkan atau meningkatkan komitmen kepada ruang lingkup
yang lebih luas lagi: keluarga, pekerjaan/perusahaan, dll.Dalam
sebuah perusahaan yang memiliki tim kerja, tidak bisa dipungkiri bahwa
setiap anggota tim memiliki level komitmen yang berbeda-beda. Untuk
menyiasatinya, orang yang menjadi pemimpin tim haruslah seseorang yang
bisa memotivasi anggota-anggotanya dan memiliki kemampuan untuk
memaksimalkan kinerja dari anggota tim yang lain.
Ketika pemimpin tim
mendapati bahwa ada anggota-anggota tim yang memiliki level komitmen
yang lebih rendah, sebagai pemimpin ia harus mengambil sebuah tindakan
ekstra - entah memotivasi anggota tersebut atau menjatuhkan sangsi,
demi optimalnya kinerja tim tersebut sehingga tujuan yang ditetapkan
bisa dicapai dengan baik.
Tips untuk menjaga komitmen
Ada beberapa tips yang bisa menolong kita untuk menjaga komitmen: yang pertama, tetapkan lebih dahulu goal atau tujuan yang ingin kita capai.
Kedua, tetapkan/pahami langkah-langkah yang harus kita ambil untuk mencapai goal
tersebut. Buat langkah-langkah secara detil dan sistematis, karena jika
tidak, kita akan kesulitan mengevaluasi progresifitas yang telah
terjadi.
Ketiga, tetapkan tenggat waktu atau deadline untuk diri kita sendiri. Dengan menetapkan deadline,
akan lebih mudah bagi kita untuk mengetahui apakah kita berhasil
menyelesaikan langkah pertama dengan baik atau tidak. Keempat, tetapkan
‘hukuman' bagi diri kita seandainya kita tidak mengikuti
langkah-langkah yang ada atau tidak memenuhi target, dan tetapkan juga
apa yang menjadi ‘imbalan' bagi kita jika berhasil mencapai target yang
ditetapkan tersebut.
Setelah kita menetapkan reward dan punishment
bagi diri sendiri, pastikan kita tetap konsisten dengan apa yang sudah
kita tetapkan - hal ini akan menolong kita untuk berpegang pada
komitmen yang harus kita jalani. Bicara
tentang komitmen, kita berbicara tentang pengambilan keputusan, saling
mempercayai dan tujuan bersama. Ketika kita ingin terus memegang
komitmen, pertama-tama kita harus memastikan bahwa apa pun keputusan
yang akan kita ambil sudah ditimbang sisi baik maupun sisi buruknya,
sisi kewajiban maupun tanggung jawabnya. Lalu, pastikanlah kita
membangun kepercayaan satu sama lain, karena hanya dengan cara demikian
komitmen yang ada akan menjadi kekal.
Yang terakhir, dengan mengetahui goal
atau tujuan bersama yang sudah disepakati, kita akan bisa melihat bahwa
apa pun yang sudah kita putuskan sebagai sebuah komitmen akan layak
untuk diperjuangkan, karena kita dapat menikmati adanya sense of accomplishment dalam diri kita.
Tidak ada hal lain yang lebih membahagiakan seseorang yang sudah bekerja keras menjaga komitmennya selain menikmati sense of accomplishment atas apa yang sudah ia kerjakan.
Komitmen
adalah sesuatu yang sangat penting untuk mencapai kesuksesan. Tanpa
komitmen, tidak akan ada kesuksesan. Karena itu, jangan biarkan
perasaan dan pertimbangan-pertimbangan yang kita ambil karena gejolak
emosional membatalkan komitmen yang kita miliki.
~ www.kesuksesan-sejati.blogspot.com ~
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Steven Agustinus
|
 |
Bekerja Dengan Cerdas
|
 |
Menghadapi Persaingan Di Tempat Kerja
|
 |
Strategi Baru Di Tahun Yang Baru
|
 |
Menemukan Peluang Di Tengah Tantangan - 2
|
 |
Kerja Keras Vs Kerja Cerdas - 2
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Buah Pada Pohon Keberhasilan Anda
(Artikel Anda) -
Kamis, 14 Februari 2008
|
 |
Melacak Jejak Para Peak Performers
(Artikel Anda) -
Jumat, 15 Februari 2008
|
 |
Yang Muda Yang Dipercaya
(Artikel Anda) -
Sabtu, 16 Februari 2008
|
 |
Siapakah Hero Kita
(Artikel Anda) -
Senin, 18 Februari 2008
|
 |
Membeli Senyuman
(Artikel Anda) -
Rabu, 20 Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Marilah Berbagi Kepada Sesama
(Artikel Anda) -
Selasa, 12Februari 2008
|
 |
Menunggu Bola Dan Mengejar Bola - Jagalah Keseimbangannya!
(Artikel Anda) -
Senin, 11 Februari 2008
|
 |
Garis Kehidupan
(Artikel Anda) -
Jumat, 08 Februari 2008
|
 |
Bertumbuh Atau Membusukkah Kita ?
(Artikel Anda) -
Kamis, 07 Februari 2008
|
 |
Katakan Saja Tidak !
(Artikel Anda) -
Rabu, 06 Februari 2008
|
|
|