“Raihlah tempat teratas. Berdaya upayalah sebaik – baiknya. Jadilah yang terbaik; jangan puas dengan tempat kedua.”
Retorika semangat untuk berusaha sebaik – baiknya, untuk menjadi yang terbaik. Akan tetapi, retorika mengkhianati realitas. Retorika tidak realistis. Tidak pernah ada yang sempurna. Coba dan ralat adalah kondisi manusia, kondisi kita. Kita telah mencoba segala penyamaran, segala penyangkalan. Kita telah mencoba seakan – akan mempunyai segala – galanya. Akan tetapi, dengan segala dalih dan kepura – puraan, kita tahu bahwa prestasi kita tidak pernah dapat memenuhi impian kita. Kita tidak pernah dapat menjadi sempurna.
Seperti halnya semua kecenderungan kita, perfeksionisme mempunyai akar – akar yang lebih dalam, yang tidak tersingkap. Kadang – kadang perfeksionisme menunjukkan suatu rasa takut yang tersembunyi. Misalnya, secara tidak sadar mungkin kita berpikir, “Jika saya tidak sempurna, orang – orang tidak akan mempercayai saya.” Atau, “Jika saya tidak sempurna, saya tidak akan dapat maju.”Atau mungkin ada logika segalanya, atau bukan apa – apa yang tersembunyi di bawah gagasan- gagasan saya yang muncul ke permukaan : “Jika saya tidak sempurna, maka saya ini orang gagal.” Atau barangkali bisikan suara dari masa lampau saya sampai di telinga saya, “Jika saya tidak mengerjakan sesuatu yang sempurna, apa yang akan dikatakan oleh Bapak atau Ibu ?” Mungkin juga keterdorongan saya untuk mencapai kesempurnaan hanyalah cara saya untuk mendapatkan persetujuan. Dan ini sudah mulai dalam masa kanak – kanak, dengan Bapk dan Ibu.
Tentu saja obsesi terhadap kesempurnaan itu tidak dapat ditangkal atau disembuhkan jika orang tidak menjadi sadar akan kondisi dan belenggu yang diakibatkan. Kondisi manusia adalah kondisi lemah. Kita semua adalah tipe orang coba dan ralat, pembuat kesalahan betul – betul. Binatang – binatang buas dan unggas telah dilengkapi dengan naluri atau insting yang sempurna. Burung gereja selalu membangun sarangnya yang mudah dikenali dengan sempurna, untuk yang pertama kali sekalipun. Akan tetapi, kita manusia, yang hanya dianugerahi insting yang sangat terbatas tetapi diberi bakat kecerdasan yang sangat berharga, harus maju melalui coba dan ralat. Kita cenderung membuat perhitungan – perhitungan yang salah. Proses kita menjadi dewasa adalah proses.
Kebahagiaan manusia dalam perkara ini meminta kita untuk menghadapi dan menerima kebenaran. Kita cenderung berbuat salah. Kita belajar dengan coba dan ralat. Kegagalan tidak pernah merupakan kegagalan mutlak dan terakhir. Melainkan merupakan pengalaman belajar semata – mata. Kegagalan satu – satunya yang real adalah kegagalan yang tidak menjadi kesempatan bagi kita untuk memetik pelajaran. Menurut kata arif kunoyang telah dikutip, jikalau dan bilamana kita belajar tertawa pada diri kita sendiri, kita tidak akan pernah berhenti dihibur. Kemungkinan – kemungkinannya tidak terbatas.
Sebagai tambahan kebenaran pokok ini, kita adalah orang – orang yang bekerja sama, bukan orang – orang yang bersaing. Kita semua ada di dalamnya bersama – sama. Kita masing – masing harus belajar dari pengalaman orang lain. Anda tidak harus mengembalikan percobaan – percobaan orang lain yang gagal. Seluruhnya adalah bagian dari nasihat arif : “Belajarlah dari kesalahan – kesalahan orang lain. Anda tidak akan mempunyai cukup waktu untuk melakukan semua kesalahan seorang diri.” Ketika para penemu yang tersohor menghasilkan model (temuan) mereka yang pertama, mereka tentu tahu bahwa orang lain akan memperbaiki desain dan strukturnya. Tiap angkatan lebih maju daripada angkatan sebelumnya, tetapi itu hanya karena angkatan tersebut berdiri di atas pundak angkatan sebelumnya tadi.
Jika kesempurnaan adalah cita – cita yang menyiksa, pertumbuhan terhambat. Pertumbuhan melihat hidup sebagai proses dan selama proses itu ketrampilan – ketrampilan lambat laun berkembang. Waktu dan latihan adalah hakiki. Sebenarnya, bila kita sudah tahu seninya, pertumbuhan selangkah demi selangkah jauh lebih menyenangkan daripada seketika sampai. Bagaimana jika seandainya Anda dihadapkan pada pilihan ini : Anda sampai di dua pintu. Satu pintu ditandai “Kesempurnaan seketika” dan pintu yang lain ditandai “Pertumbuhan selangkah demi selangkah.” Manakah pintu yang Anda pilih untuk Anda lalui ? --- (Anda silakan menentukan pilihan Anda sendiri)
Suatu cara yang baik untuk memilih pertumbuhan ialah berhasrat bergembira daripada mencapai kesempurnaan. Dan inilah kejutannya. Jika Anda berhasrat atau bertujuan bergembira, Anda akan melakukan pekerjaan yang lebih baik daripada jika Anda bertekad untuk membuat pekerjaan itu sempurna. Sebaliknya, berhasrat mencapai kesempurnaan akan menjadi beban berat, menegangkan dan menghancurkan semangat. Hasil akhirnya akan berupa barangkali kekecewaan. Dan kekecewaan selalu berlanjut dengan keinginan untuk meletakkan segala sesuatu, meninggalkan segala – galanya.
------------
Disarikan dari beberapa sumber
Agung Widyatmoko
085710143410
Bagikan ke teman Anda, Share & Be Happy!
|
|
Baca juga artikel lainnya dari Agung Widyatmoko
|
 |
Airmu Mengalir Sampai Jauh
|
 |
Bermesra Dengan Tanggal Tua
|
 |
Siapakah Hero Kita
|
 |
Siap Cepat Dia Dapat
|
 |
Rahasia Itu Akan Membunuhmu
|
|
|
| Artikel Selanjutnya : |
 |
Katakan Saja Tidak !
(Artikel Anda) -
Rabu, 06 Februari 2008
|
 |
Bertumbuh Atau Membusukkah Kita ?
(Artikel Anda) -
Kamis, 07 Februari 2008
|
 |
Garis Kehidupan
(Artikel Anda) -
Jumat, 08 Februari 2008
|
 |
Menunggu Bola Dan Mengejar Bola - Jagalah Keseimbangannya!
(Artikel Anda) -
Senin, 11 Februari 2008
|
 |
Marilah Berbagi Kepada Sesama
(Artikel Anda) -
Selasa, 12Februari 2008
|
|
| Baca juga artikel sebelumnya : |
 |
Sikap Produktif - Bagaimana?
(Artikel Anda) -
Senin, 04 Februari 2008
|
 |
Miracle Of Love
(Artikel Anda) -
Minggu, 03 Februari 2008
|
 |
Belajar Dari Penjual Koran
(Artikel Anda) -
Jumat, 01 Februari 2008
|
 |
Maling Di Rumahku
(Artikel Anda) -
Kamis, 31 Januari 2008
|
 |
Ulang Tahun Yang Berkesan
(Artikel Anda) -
Kamis, 31 Januari 2008
|
|
|