|
Penyu Atau Ayam ? Djodi Ismanto
Week
end akhir bulan ini saya pergunakan untuk berliburan dan rekreasi ke
suatu tempat wisata pantai disebelah timur kota Medan yang berjarak
kurang lebih 25 km dari pusat kota.
Jalan menuju kesana sangat bagus dan mulus dengan pemandangan alami hamparan pohon kelapa sawit di sebelah kiri dan kanan jalan.
Ada
3 lokasi pantai yang umumnya sering didatangi wisatawan , pantai
Binaria , pantai Gudang Garam dan pantai Cermin dengan lokasi yang
relatif berdekatan , namun karena pertimbangan kelengkapan sarana dan
fasilitas , saya pilih pantai terakhir , karena infrastrukturnya tidak
kalah dengan Ancol nya Jakarta, terbukti dengan dibangunnya fasilitas
Funland dan Resort Hotel oleh investor Malaysia.
Singkat
cerita , tak sedetikpun waktu yang diluangkan disana , setelah menonton
sunset dan makan malam , menjelang tengah malam saya menyempatkan diri
menyusuri tepi pantai menikmati deburan ombak selat Malaka dan kilauan
sang bintang.
Hingga disuatu tempat yang tampak sepi , saya baru
tersadar sudah berjalan terlalu jauh , dan memutuskan untuk kembali ,
nah pada saat itulah kira - kira 10 meter dari saya ada kira - kira 3
orang mengendap - endap mendekati.
Wah
. . .! Habis deh saya , demikan pikiran dalam hati , teringat di saku
masih membawa dompet dengan uang cash , serta sejumlah barang ,HP serta
jam dan lainnya. Makin "panas - dingin " lah saya , karena masing -
masing mereka menyandang parang di pinggangnya. Saat itu yang terlintas
dipikiran saya hanya nama Tuhan dan saya dalam tekanan psikologis non
judgement " Malang atau Beruntung , Aku tidak tahu " seperti kata orang
bijak.
"Dik
, kesini sebentar " salah seorang berkata sambil menarik tangan kanan
saya dan mengajak saya berjongkok , keringat dingin makin mengalir
deras mengingat cengkraman tangannya yang kuat di pergelangan tangan
saya.
Namun sungguh diluar dugaan , kemudian dengan ramah ia
memperkenalkan diri sebagai Haris Nasution , Kepling di daerah itu ,
Kepling di Medan adalah singkatan dari Kepala Lingkungan , setara
dengan ketua RW ( Rukun Warga ) atau Lurah untuk istilah di Jakarta.
Rupanya
saya salah masuk ke wilayah konservasi dan pembiakan penyu laut di
pantai tersebut , mereka ternyata sedang mengamati seekor penyu yang
hendak bertelur , kesempatan langka ini tidak saya sia - sia kan ketika
mereka menawarkan untuk ikut mengamati ,kehadiran saya tadi
dikhawatirkan menganggu sang penyu.
Dan benar saja , dari kejauhan
terlihat seekor penyu besar muncul dari laut , dengan yakin walaupun
lambat merayap menuju pantai , kira - kira 50 meter dari garis pantai
ia berhenti dan mulai menggali pasir dengan kedua kaki belakangnya.
Haris
Nasution menginformasikan saya , bahwa sang penyu menghabiskan jarak
ratusan bahkan ribuan mil dari tempat asalnya , dengan resiko ditangkap
nelayan , dimangsa ikan hiu sampai tewas dengan tubuh hancur tersambar
baling - baling kapal hanya untuk datang bertelur dipantai tersebut.
Tak
lama kemudian lubang yang dibuat penyu tercipta , ia mulai bertelur ,
takjub dan kagum persaaan saya menjadi satu , ratusan telur meluncur
deras dari sang penyu , sementara Pak Kepling mengajak saya untuk
memegang dan mengelus sang Penyu.
Sangat
luar biasa ! Walaupun " diganggu " oleh elusan tangan saya dipunggung
dan kepalanya , namun si penyu tak sedikitpun merasa terganggu , terus
saja dalam keasyikannya bertelur.
Selesai ia "memuntahkan" semua isi
perutnya , sang penyu segera menutup lubang tersebut , dan kembali "
mempersiapkan " perjalanan ratusan milnya dengan segala resikonya tanpa
ada jaminan dapat kembali kepantai tersebut dengan selamat tahun
berikutnya hanya untuk memberikan hasil yang terbaik bagi orang lain
dan keturunannya.
Dengan
parang yang tadinya saya pikir untuk " menghabisi " saya , Pak Kepling
dkk , segera menggali pasir dengan hati - hati, sebagian besar dari
ratusan telur itu dipindahkan untuk ditetaskan , sebagian dijual untuk
biaya operasional dan 5 butir diberikan sebagai oleh - oleh buat saya ,
yang akhirnya dengan segala hormat saya kembalikan lagi untuk " titip "
ditetaskan.
Dengan
harapan jika nanti sang telur menetas dan besar , saya , anak , kerabat
atau rekan - rekan pembaca sekalian mudah - mudahan dapat menyaksikan "
5 penyu milik " saya bertelur jika nanti anda kelak berkunjung ke
pantai tersebut.
Sebagai
manusia " perjalanan kita " hampir sama , mengarungi " samudra "
kehidupan dengan segala resiko , tantangan dan hambatan yang tidak
kalah hebatnya tanpa ada jaminan untuk mencapai tepian " pantai
kesuksesan".
Sikap tanpa pamrih sang penyu adalah salah satu contoh
bagaimana kita berkontribusi dan berkarya secara diam - diam tanpa
pamrih sekalipun banyak " gangguan " disekitar kita demi menghasilkan
sesuatu yang sangat berguna bagi orang lain dan keturunan.
Coba
bandingkan dengan ayam , jika ingin bertelur ia akan berkotek keras -
keras sepanjang hari , seolah memberitahukan seluruh penghuni hutan dan
kampung bahwa ia kan akan berkarya , yang kemudian ternyata cuma
bertelur satu butir dan mungkin cuma kecil bentuknya.
Dan jikapun "diganggu" saat bertelur , ayam akan mengurungkan niatnya / ngambek untuk menghasilkan telur ( baca : berkarya ).
Jadi dalam kehidupan dan berkarya ini philosofi mana yang anda pakai Penyu atau Ayam ?
Special thanks and regards to Mr. Haris Nasution & friends in Cermin beach , Serdang Bedagai , Medan
Djodiwww.pwsmedan.blogspot.com
|