What Are My Talents And Strengths ? By Adjie
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Anda

What Are My Talents And Strengths ? By Adjie
adjie

Apa sesungguhnya anugerah, bakat-bakat dan kekuatan kita ? Pernah memikirkan pertanyaan di atas ? Syukurlah kalau sudah. Kalaupun belum pernah, maka paling tidak saat membaca coretan ini, maka Anda sedang diingatkan kembali untuk memikirkan pertanyaan di atas.

Tentu tak saja, pertanyaan di atas diangkat tak semata untuk jadi bahan pemikiran, lalu berhenti di dalam pikiran. Ada harapan lebih jauh agar pertanyaan di atas bisa tak hanya membuat Anda diam sejenak. Harapan lebih jauhnya adalah membuat Anda terusik, menjadi tak nyaman, seperti merasakan tak nyamannya selilit di sela gigi usai makan malam Anda.

Usai membuat Anda tak nyaman, maka semoga pertanyaan di atas juga menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu, apapun itu. Ketika ini bisa terwujud, maka pesan penting pertanyaan di atas sungguh sudah sampai. Jenis pertanyaan yang menggerakkan inilah yang saya suka. Saya sering menyebutnya sebagai empowering questions atau resilient question !

Tapi memang tak penting sekedar memberi sebutan atas jenis pertanyaan di atas. Jauh lebih penting adalah sungguh mendapatkan manfaat darinya. Ia baru sungguh menjadi pertanyaan yang memberdayakan kalau jelas dengannya kita sungguh bergerak untuk makin memberdaya diri. Jenis tanya di atas akan sungguh menjadi pertanyaan yang membangkitkan kalau Anda sungguh bangkit dari diam Anda dan bergerak melakukan sesuatu. Sayangnya, itu memang tak mudah dilakukan.

Walau tampak sederhana, saat membacanya kembali saya sempat terdiam dan malu sendiri. Saya terdiam, karena tiba-tiba saja berlintasan banyak hal seputar pertanyaan itu. Saya juga tertawa sendiri, karena tiba-tiba ingatan saya melayang pada sejumlah gambar saat saya memfasilitasi banyak pelatihan.

Tentu saya tertawa kecut. Betapa tidak, pada banyak kesempatan menjadi fasilitator pelatihan maka sudah tak terhitung saya berulang kali mengingatkan banyak kawan-kawan peserta pelatihan untuk menggali dan mengenali kekuatan dan kelebihan kita. Juga dalam posisi sebagai praktisi bidang rekrutmen, saya sering bertanya pada banyak kandidat tentang bagaimana mereka melihat kelebihan dan kekuatan mereka.

Terutama pada peserta pelatihan, saya mengingatkan arti penting pemahaman diri yang lebih komprehensif itu. Dengan mengenali kekuatan dan kelemahan diri, maka kita akan makin mudah mengarahkan sumber daya yang ada, menjadikannya alat untuk mengejar apa yang kita mau. Mengenali kelebihan diri akan membantu kita untuk memikirkan cara terbaik memanfaatkan kelebihan yang ada untuk menggapai cita-cita.

Mengenali kekurangan tentu juga ada manfaatnya. Paling tidak kita jadi tersadar apa saja pekerjaan rumah yang harus segera digarap agar kita berkembang makin optimal. Mengetahui kekurangan tak harus menjebak kita menjadi lupa pada apa yang jadi kelebihan. Justru dengan menyeimbangkan pemahaman tentang kelebihan dan kekurangan yang ada, maka kita menjadi lebih adil dalam melihat dan menilai diri sendiri. Anda bisa percaya diri sekaligus mengembangkan sikap rendah hati. Anda percaya diri dengan segala kekuatan dan kelebihan. Namun tetap rendah hati demi menyadari bahwa pada akhirnya toh kita masih punya sisi gelap yang jadi kekurangan

Wacana akhir-akhir ini memang banyak mengulas isu di atas, terutama terkait dengan ke arah mana fokus perhatian hendak di arahkan. Yang utama tentu munculnya pandangan ahli yang coba mengedepankan gagasan tentang berfokus pada kelebihan. Ini gagasan luar biasa, sebagaimana dikembangkan dengan pendekatan appreciative inquiry. Namun saya memang tak hendak membuat dikotomi mendukung satu pandangan tertentu. Yang hendak saya angkat lebih pada kepentingan praktis tentang bagaimana kita menjawab tanya di atas, yang lalu dengannya kita memiliki landasan yang kuat untuk terus bergerak mengejar yang kita mau.

Terhadap pertanyaan di atas, sedikit banyak dari kita tentu sudah tahu jawabannya. Sayapun merasa sudah tahu kelebihan dan kekurangan saya, walau tak sedikit kawan-kawan yang sering bingung ketika ditanya dengan tanya di atas.

Persoalannya adalah apakah saya SUNGGUH tahu apa kelebihan dan kekuatan yang ada ? Repot, kalau saya hanya merasa sudah tahu, namun tak sungguh tahu. Walau pada saat yang sama kita juga bisa mempertanyakan apakah kita sungguh sudah tahu terhadap apa-apa yang kita sudah tahu itu. Mengkritisi pandangan dan pemahaman kita adalah salah satu cara agar kita sungguh sadar akan apa yang kita pahami dan yakini.

Mungkin karena selama ini saya hanya merasa tahu, maka kemudian saya belum berhasil menggerakkan segala yang ada untuk kepentingan pengembangan diri saya. Mungkin karena saya lebih sering sudah merasa tahu, maka saya belum bertumbuh menjadi sebagaimana saya bisa bertumbuh. Pendek kata, pemahaman yang minim membuat saya belum berkembang optimal.

Karenanya, membaca kembali pertanyaan di atas membuat saya tersadar, dan menyediakan diri untuk membuat catatan refleksi macam ini. Kepentingannya menjadi jelas, bahwa saya ingin tahu lebih banyak. Saya ingin menggali lebih dalam apa yang sesungguhnya saya punya. Dengan begitu, jelas pula bahwa coretan ini memang lebih banyak untuk kepentingan saya pribadi. Coretan ini adalah karya SUBYEKTIF untuk EGOISME diri. Dengan begitu saya tak hendak melambungkan harapan bahwa orang lain akan belajar banyak dari sini.

Mungkin itu memang tak terlalu penting, karena yang utama buat saya adalah merubah diri saya. Toh memang atas diri sendirilah saya punya kendali. Saya tentu tak bisa mengendalikan orang di luar saya. Andalah yang punya kontrol atas ke mana Anda akan bergerak. Lihat betapa dunia kita adalah dunia masing-masing. Dalam sendirilah Anda mengendalikan kehidupan Anda masing-masing.

Masuk ke soal untuk sungguh menjawab pertanyaan di atas, nyatanya memang tak mudah bagi saya melakukannya. Ternyata itu bukan pertanyaan kelas teri yang bisa sembarang dijawab sambil lalu, terutama kalau Anda memang sungguh ingin mendapat manfaat. Lain jika Anda memang hanya iseng. Kesulitan dalam menjawab tanya di atas antara lain memang berhubungan dengan tradisi sebagian dari kita yang tak terbiasa berpikir mendalam, melakukan refleksi dan introspeksi. Akhirnya ya seperti sekarang, kita tak banyak tahu kekayaan kita. Karena tak banyak tahu, maka sering kali kita terkejut ketika orang lain yang justru banyak sibuk memanfaatkan apa yang kita punya. Itu paling tidak yang terjadi di tingkat makro. Karenanya jangan sampai ini menimpa pada soal-soal mikro personal kita.

Kesulitan lain juga berakar pada soal di mana kita mencampur adukan antara apa yang sungguh kita punya dengan apa yang ingin kita punya. Kita mencampur adukkan antara keinginan menjadi sosok tertentu dengan realita tentang siapa kita sesungguhnya hari ini. Saya juga terjebak dalam kerangkeng macam ini. Saat memikirkan apa kekuatan saya, mudah sekali saya tergoda untuk justru membuat daftar tentang hal-hal yang saya ingin saya menjadi seperti itu.

Contohnya ya seperti berikut ini. Saya tergoda dengan kata-kata sebagai berikut

  • To Create - mencipta, membuat
  • To Design - merancang
  • To Develop - mengembangkan
  • To Empower - memberdaya
  • To Lead - memimpin
  • To Serve - melayani
  • To Write - menulis

Ketika melihat detil, tampaknya yang saya tulis di atas lebih menggambarkan sosok ideal yang ingin saya kejar. Kenyataan hari ini, hal di atas belum menjadi kekuatan saya. Kekuatan adalah sesuatu yang ada pada diri kita sekarang.

Namun, saya coba melihat dari kaca mata positif. Walau masih campur aduk antara realita dengan harapan, gambaran di atas tampaknya tetap bisa menjadi informasi yang bermanfaat buat saya. Kalaupun tidak seluruhnya menggambarkan realita tentang siapa saya hari ini, namun paling tidak ia bisa menjadi gambaran tentang tokoh ideal yang saya ingin menjadi. Ia memang tidak menggambarkan posisi hari ini, namun memberi saya informasi tentang arah tujuan saya esok hari.

Menyadari kendala seperti di atas, maka sesungguhnya ini menegaskan bahwa kita membutuhkan alat bantu dan bantuan orang lain untuk memberi informasi lebih mendalam. Keterlibatan orang lain dibutuhkan, agar kita bisa memperoleh umpan balik yang seimbang. Masukan orang lain kadang terasa menyakitkan, namun itu tetap diperlukan agar kita punya wawasan lebih kaya. Informasi bahwa kita memiliki kekurangan memang tak enak didengar, namun itu penting sebagai bekal kita melangkah kelak.

Orang lain bisa sekaligus menjadi evaluator yang memvalidasi atau memberi second opinión tentang siapa kita. Bisa jadi orang lain justru lebih obyektif dalam memberikan penilaian.

" Bukankah sulit buat kita untuk melihat mata sendiri", begitu kata seorang kawan yang coba memberi pesan tentang peran orang lain dalam pemberian feedback.

Bicara dengan orang-orang terdekat mungkin akan sangat membantu kita. Mereka yang lama mengenal kita bisa jadi sumber informasi yang bermakna.

Cara dan alat lain yang bisa membantu misalnya dengan mengikuti psychological assessment, berisi rangkaian tes (psikologis) atau wawancara yang kesemuanya akan memberi informasi mengenai aspek kepribadian kita.

Begitulah, ada sejumlah cara dan pilihan yang bisa dipertimbangkan akan membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri.

Setelah mengenali dan menemukan aspek yang kita anggap kekuatan dan kekurangan kita, maka tahap berikutnya adalah mengkaji lebih dalam setiap aspek tersebut. Saya memahaminya sebagai usaha untuk lebih menanamkan kesadaran tentang kekuatan tersebut. Anda bisa melihat ke belakang, mengumpulkan informasi yang sudah membantu Anda untuk menyimpulkan bahwa apa yang Anda tulis sungguh adalah kekuatan Anda. Intinya kita diminta untuk mendalami dan menjawab pertanyaan lain : apa dasarnya jika kita mengaku bahwa kekuatan kita adalah X ? Mungkin ada bukti pengalaman yang menggambarkan itu. Barangkali ada bukti portofolio yang jadi panduan. Proses menggali dan mengevaluasi di atas akan membantu kita mengonfirmasi tentang seberapa akurat pemahaman kita terhadap apa yang jadi kekuatan kita

Jika sukses sampai di langkah ini, maka selamat buat Anda. Tapi jangan puas dan langsung berhenti dulu. Masih ada beberapa tahapan penting sebagai tindak lanjut langkah ini. Namun lebih dari sekedar mengejar target untuk cepat selesai, menikmati prosesnya sendiri tentu akan jadi pengalaman yang lebih bermakna. Dan buat saya, saat kita mulai memberanikan diri menjawab tanya di atas, maka sesungguhnya kita sudah mulai membuat langkah yang penuh makna.

Ingat proses belum selesai. Setelah ini masih ada tahapan penting lainnya

Cimanggis - December 2007