|
Ubah Dulu Yang Di Dalam Andrie Wongso
Saat renovasi rumah, si
empunya rumah sudah merencanakan untuk memasang sebuah lukisan potret keluarga
di ruang tamu yang telah ditatanya dengan indah. Lukisan itu telah dipesannya
melalui seorang seniman pelukis wajah yang terkenal dengan harga yang tidak
murah. Tetapi, saat lukisan itu tiba di rumah dan hendak di pasang, dia merasa
tidak puas dengan hasil lukisan dan meminta si pelukis merevisiya sesuai dengan
gambar yang dibayangkan. Apa daya, setelah diperbaiki hingga ke tiga kalinya,
tetap saja ada sesuatu yang tidak disukai pada lukisan tersebut sehingga setiap
si pemilik rumah melintas ruang tamu, selalu timbul ketidakpuasan dan
kekecewaan. Itu sangatlah mengganggu pikirannya. Menjadikan dirinya tidak
senang, uring-uringan, jengkel, kecewa dan sebal dengan ruang tamunya yang
indah itu. Semua gara-gara sebuah lukisan!
Suatu hari, datang bertamu
satu keluarga sahabat ke rumah itu. Sahabat ini termasuk pengamat seni yang
disegani di lingkungannya. Saat memasuki ruang tamu, setelah bertukar sapa
dengan akrab dengan tuan rumah, tiba-tiba mereka bersamaan terdiam di depan
lukisan potret keluarga itu. Si tuan rumah buru-buru menyela, "Teman, tolong jangan
dipelototi begitu dong. Aku tahu, lukisan itu tidak seindah seperti yang aku
mau, tetapi setelah di revisi beberapa kali jadinya seperti itu, ya udah lah,
mau apalagi?" "Lho, apa yang salah dengan lukisan ini? Lukisan ini bagus
sekali, sungguh aku tidak sekedar memuji. Si pelukis bisa melihat karakter obyek
yang dilukisnya dan menuangkan dengan baik di atas kanvas, perpaduan warna di
latar belakangnya juga mampu mendukung lukisan utamanya. Betul kan bu?"
Tanyanya sambil menoleh kepada istrinya.
"Iya, lukisan ini indah dan berkarakter. Jarang-jarang kami melihat karya
yang cantik seperti ini. Kamu sungguh beruntung memilikinya", si istri
menambahkan dengan bersemangat. Kemudian mereka pun asyik terlibat diskusi
tentang lukisan itu.
Setelah kejadian itu, setiap melintas di ruang tamu dan melihat lukisan potret
keluarga itu, dia tersenyum sendiri teringat obrolan dengan sahabatnya.
Kejengkelan dan kemarahannya telah lenyap tak berbekas.
Pembaca yang budiman,
Jika sebuah lukisan tidak bisa diubah atau banyak hal lain di luar diri
kita yang tidak mampu kita rubah sesuai dengan keinginan kita atau selera kita,
maka tidak perlu menyalahkan keadaan! Karena
sesungguhnya, belum tentu lukisan atau keadaan luar yang bermasalah, tetapi
cara pandang kitalah yang berbeda. Jika
kita tidak ingin kehilangan kebahagiaan maka kita harus berusaha menerima
perbedaan yang ada.
Dengan merubah cara berpikir
kita yang di dalam, tentu kondisi diluar juga
ikut berubah.
Di kesempatan yang baik ini, saya mengucapkan, Selamat hari natal 2007 dan Tahun
Baru 2008! Mari kita pelihara semangat
dan kebahagiaan kita, bukan dengan merubah dunia sesuai dengan keinginan kita,
tetapi menerima perubahan dengan cara merubah yang ada di dalam diri kita
terlebih dulu.
Salam sukses luar biasa!!!
Andrie Wongso
|