|
Pesan Ibu Andrie Wongso
Suatu hari, tampak seorang pemuda tergesa-gesa memasuki
sebuah restoran karena kelaparan sejak pagi belum sarapan. Setelah memesan
makanan, seorang anak penjaja kue menghampirinya, "Om, beli kue om, masih
hangat dan enak rasanya", "Nggak dik, saya lapar mau makan nasi saja "kata si
pemuda menolak. Sambil tersenyum si anak pun berlalu dan menunggu di luar restoran.
Melihat si pemuda telah
selesai menyantap makanannya, si anak menghampiri lagi dan menyodorkan kuenya. Si pemuda sambil beranjak ke kasir hendak membayar
makanan berkata, "tidak dik, saya sudah kenyang". Sambil berkukuh mengikuti si
pemuda, si anak berkata, "Kuenya bisa buat oleh-oleh pulang om". Dompet yang
belum sempat dimasukan ke kantong pun dibukanya kembali, dikeluarkan 2 lembar
ribuan dan mengangsurkan ke anak penjual kue "Saya tidak mau kuenya. Uang ini anggap
saja sedekah dari saya".
Dengan senang hati
diterimanya uang itu dan bergegas dia ke luar restoran memberikannya kepada
pengemis di depan restoran. Merasa heran dan sedikit tersinggung si pemuda
menegurnya, "Hai adik kecil, kenapa uangnya kamu berikan kepada orang lain?
Kamu berjualan kan untuk mendapatkan
uang, kenapa setelah uang ada di tanganmu malah kamu berikan ke orang lain?"
"Om jangan marah ya. Ibu
saya mengajarkan kepada saya untuk mendapatkan uang dari usaha berjualan, bukan
dari mengemis. Kue-kue ini dibuat oleh Ibu saya sendiri dan Ibu pasti akan
sedih dan marah, jika saya menerima uang dari om bukan hasil menjual kue. Tadi
om bilang, uang sedekah, maka uangnya saya berikan kepada pengemis itu". Si
pemuda merasa takjub dan menganggukkan kepala tanda mengerti. "Baiklah, berapa
banyak kue yang kamu bawa? Saya borong semua untuk oleh-oleh". Si anak pun
segera menghitung dengan gembira.
Sambil menyerahkan uang si pemuda berkata, "Terima kasih dik atas pelajaran
hari ini. Sampaikan salam saya kepada ibumu". Walaupun tidak mengerti tentang
pelajaran apa yang dikatakan si pemuda, dengan gembira diterimanya uang itu
sambil berucap, "Terima kasih om. Ibu pasti akan senang sekali, hasil kerja
kerasnya dihargai dan itu sangat berarti bagi kehidupan kami".
Pembaca yang budiman,
Dari hasil didikan seorang ibu yang luar biasa, lahirlah anak yang hebat!
Walaupun mereka miskin harta tetapi mereka kaya mental! Menyikapi kemiskinan bukan
dengan mengemis dan minta belas kasihan dari orang lain tetapi dengan bekerja
keras, membanting tulang. Karena sesungguhnya, KERJA ADALAH KEHORMATAN bagi
setiap manusia!
|
 |
|