|
Chairul Tanjung Team Andriewongso.com
Apa jadinya jika seorang calon dokter gigi justru merambah
bisnis televisi? Jika ingin tahu jawabannya, lihatlah sosok Chairul Tanjung,
pebisnis asli pribumi yang kini namanya berkibar dengan Grup TransTV dan
Trans7. Berkat kesulitan ekonomi yang menderanya, ternyata hal tersebut justru
menjadi bekal mengasah ketajaman insting bisnisnya.
Saat kuliah di Fakultas Kedokteran gigi Universitas Indonesia,
pada periode tahun 1980-an, ia memang harus memenuhi kebutuhan kuliahnya
sendiri. Meski terlahir dari keluarga yang cukup berada, karena perubahan
keadaan politik, keluarganya terpaksa menjalani kehidupan seadanya. Dari rumah
yang tergolong besar, mereka harus menjualnya, dan menyewa sebuah losmen
sempit.
Namun, ternyata, kesulitan ini justru membuat Chairul
membulatkan tekadnya untuk kembali berjuang meraih kesuksesan," Saya
bercita-cita jadi orang besar." Maka, lepas dari SMA Boedi Utomo Jakarta, ia
pun masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi UI. Kesulitan biaya kuliah membuatnya
harus kreatif mencari dana untuk meneruskan sekolahnya. Maka, kelahiran Jakarta,
18 Juni 1962 ini pun lantas memulai bisnis kecil-kecilan. Mulai dari berjualan
buku kuliah stensilan, kaos, sepatu, dan aneka barang lain di kampus dan kepada
teman-temannya. Dari modal usaha itu, ia berhasil membuka sebuah toko peralatan
kedokteran dan laboratorium di daerah Senen Raya, Jakarta.
Sayang, karena sifat sosialnya - yang sering memberi fasilitas kepada rekan
kuliah, serta sering menraktir teman - usaha itu bangkrut.
Namun, rupanya, menjadi pebisnis telah memikat hatinya.
Walau bangkrut, ia justru langsung mencoba usaha lain, kali ini di bidang
kontraktor. Meski juga kurang berhasil, ia merasa mendapat pelajaran banyak hal
dari bisnis-bisnis yang pernah ditanganinya. Dari bekal pengetahuan itu, ia
memberanikan mendirikan CV pertamanya pada tahun 1984 dan menjadikannya PT pada
tahun 1987. Dari PT bernama Pariarti Shindutama itu, ia berkongsi dengan dua
rekannya mendirikan pabrik sepatu. Kepiawaiannya menjaring hubungan bisnis
langsung membuat sepatu produksinya mendapat pesanan sebanyak 160 ribu pasang
dari pengusaha Italia. Dari kesuksesan ini, bisnisnya merambah ke industri
genting, sandal, dan properti. Namun, di tengah kesuksesan itu, rupanya ia
mengalami perbedaan visi dengan kedua rekannya. Maka, ia pun memilih
menjalankan sendiri usahanya.
Ternyata, ia justru bisa makin berkembang dengan berbagai
usahanya. Ia pun lantas memfokuskan usahanya ke tiga bisnis inti, yakni:
keuangan, properti, dan multimedia. Melalui tangan dinginnya, ia mengakuisisi
sebuah bank kecil yang nyaris bangkrut, Bank Tugu. Keputusan yang dianggap
kontoversial saat itu oleh orang dekatnya. Namun, pengalaman bangkit dari
kegagalan rupanya mengajarkannya banyak hal. Ia justru berhasil mengangkat bank
itu, - setelah mengubah namanya menjadi Bank Mega - menjadi bank papan atas
dengan omset di atas Rp1 triliun saat ini.
Selain itu, suami dari dokter gigi Ratna Anitasari ini juga
merambah bisnis sekuritas, asuransi jiwa dan asuransi kerugian. Kemudian, di
bisnis properti, ia juga telah membuat sebuah proyek prestisius di Kota
Bandung, yang dikenal dengan Bandung
Supermall. Dan, salah satu usaha
yang paling melambungkan namanya yaitu bisnis televisi, TransTV. Pada bisnis
pertelevisian ini, ia juga dikenal berhasil mengakuisisi televisi yang nyaris
bangkrut TV7, dan kini berhasil mengubahnya jadi Trans7 yang juga cukup sukses.
Tak heran, dengan semua prestasinya, ia layak disebut
sebagai "The Rising Star". Bahkan, baru-baru ini, ia dinobatkan sebagai orang
terkaya Indonesia,
di posisi ke-18, dengan total kekayaan mencapai 450 juta dolar AS. Sebuah
prestasi yang mungkin tak pernah dibayangkannya saat memulai usaha
kecil-kecilan, demi mendapat biaya kuliah, ketika masih kuliah di UI dulu.
Hal itulah yang barangkali membuat Chairul Tanjung selalu
tampil apa adanya, tanpa kesan ingin memamerkan kesuksesannya. Selain itu,
rupanya ia pun tak lupa pada masa lalunya. Karenanya, ia pun kini getol
menjalankan berbagai kegiatan sosial. Mulai dari PMI, Komite Kemanusiaan Indonesia,
anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia
dan sebagainya. "Kini waktu saya lebih dari 50% saya curahkan untuk
kegiatan sosial kemasyarakatan," ungkapnya.
Pencapaian Chairul
Tanjung sebagai tokoh bisnis yang gemilang, dengan berbagai jenis usahanya,
telah membuat ia dinobatkan sebagai "The Rising Star". Ia mampu membuktikan,
bahwa kebangkrutan dan kegagalan, justru bisa menjadi bahan pembelajaran guna
meraih sukses yang luar biasa di kemudian hari. Dan, yang terpenting, di tengah
kesuksesannya, ia kini tak lupa berbagi, dengan menjadi pegiat berbagai urusan
sosial kemasyarakatan. Sebuah catatan kehidupan seorang Chairung Tanjung yang
bisa diteladani kita semua.
|