Sistem Identifikasi Melalui Gigi
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - AW Corner

Sistem Identifikasi Melalui Gigi
Team Andriewongso.com

Selama ini, banyak kejadian bencana alam atau kecelakaan yang merenggut nyawa banyak orang. Kemudian, yang jadi masalah adalah biasanya upaya identifikasi korban menjadi sulit. Sebab, tak selamanya orang selalu membawa identitas diri. Seperti kejadian tsunami di Aceh tempo hari, banyak sekali korban yang sampai saat ini masih menjadi misteri. Banyak juga keluarga yang kehilangan sanak saudara, tanpa tahu di mana keberadaannya.

Karena itu, berbagai teknologi dikembangkan untuk mengidentifikasi korban. Yang paling sederhana adalah dengan upaya mengenali sidik jari. Namun, belakangan, yang lebih canggih adalah mengenali gigi, karena biasanya gigi adalah bagian tubuh yang paling utuh jika terkena bencana.

Hanya saja, yang menjadi kendala, identitas pemilik gigi sampai saat ini masih sulit (jarang) didokumentasikan. Akibatnya, untuk mencocokkan pun agak sulit dilakukan. Meski begitu, pengembangan identifikasi melalui metode ini terus dilakukan. Salah satunya yang dikembangkan oleh para ilmuwan Jepang dari Kanagawa Dental College. Mereka berhasil mengembangkan perangkat yang mampu mempercepat proses identifikasi korban melalui gigi.



Eiko Kosuge, dokter gigi dan ahli radiologi dari universitas tersebut mengatakan bahwa perangkat komputerisasi yang dikembangkan, mampu memindai gambar gigi korban bencana alam dan mencocokkannya dengan rekaman gambar gigi korban lain yang tidak teridentifikasi. Sistem ini secara otomatis mampu membandingkan gambar gigi korban dengan beberapa rekaman gambar gigi, dan kemudian mencocokannya hanya dalam beberapa detik saja.

Sistem ini menggunakan teknologi pencocokan gambar dengan tingkat akurasi dan ketelitian yang cukup tinggi. Dengan metode yang disebut Phase-Only Correlation, maka identifikasi segera menyambungkan sebuah gambar dan mengukur tingkat kesamaan yang ada. Kecanggihan sistem ini diklaim mampu mengurangi beban kerja ahli forensik hingga 95 persen.

Penemuan ini diharapkan akan mempermudah identifikasi berbagai korban bencana. Dengan begitu, setiap mayat korban akan jelas identitas dan siapa keluarganya. Tujuannya jelas, agar keluarganya pun bisa memakamkan korban dengan cara yang layak.