AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Success Story
Warren Buffet Team Andriewongso.com
Bila Anda salah satu orang
yang gemar bermain saham, pastilah mengenal satu nama yang sudah sangat
terkenal di kalangan pialang saham dunia. Namanya bahkan dianggap legenda dan
telah menjadi mahaguru di dunia saham. Yah, dialah Warren Buffet. Saking sudah
melegenda, pria kelahiran Omaha, Nebraska Amerika ini dijuluki "Sage of Omaha"
atau " Oracle of Omaha" alias seorang peramal dari Omaha. Pria yang sudah
berusia 70 tahun lebih ini dianggap sebagai orang yang bisa memprediksikan
saham apa saja yang naik, dan saham apa saja yang turun. Kapan harus mengambil,
atau kapan harus menjual, semuanya seolah sudah ada dalam "pengetahuannya".
Karena itu, apa yang dikatakan tentang dunia saham, akan selalu diikuti oleh
banyak orang.
Tapi, tahukah Anda bahwa
Warren Buffet selain dikenal sebagai investor dan pebisnis ulung, juga dikenal
sebagai seorang filantrofis sejati? Seorang filantrofis adalah dermawan yang
memberikan sebagian penghasilannya untuk kepentingan sosial. Dalam hal ini, Warren benar-benar menjadi seorang yang sangat peduli
pada hal-hal yang berbau sosial. Tak tanggung-tanggung, ia mendermakan uang
yang tercatat sebagai sumbangan terbesar dalam sejarah, yakni senilai 30 miliar
dolar Amerika, kepada Yayasan Bill and Melinda Gates. Ini setara dengan sekitar
80 persenan kekayaan yang dimilikinya saat ini. Dengan sumbangan sebesar itu,
bisa dikatakan ia hanya mewariskan sedikit bagian kekayaannya pada ketiga
anaknya kelak. Dalam hal ini, Warren mempunyai sebuah ungkapan bijak, "Saya memberikan
bagian yang cukup kepada anak-anak saya sehingga mereka merasa bisa melakukan
apa saja, namun saya tidak memberikan lebih sehingga mereka merasa tidak harus
melakukan sesuatu (untuk mendapatkan yang diinginkannya)."
Inilah bentuk pendidikan
kemandirian yang dicontohkan Warren pada kita semua. Yakni, jangan sampai memanjakan
anak meski kita hidup berlebihan. Sebab, anak-anak pun sebenarnya punya
tanggung jawab masing-masing untuk kehidupannya kelak. Dan, mungkin memang hal
ini juga yang pernah ditekankan ayah Warren, Howard Buffet, yang juga seorang
pialang saham. Karena itu, sejak usia belasan tahun, Warren yang dikenal sangat cerdas di bidang matematika,
sudah mulai mencoba mandiri dengan bermain saham. Kala itu, ia membeli saham
Cities Services seharga 38.25 dolar per saham. Dan, ia segera menjualnya saat
saham itu naik menjadi 40 dolar. Sebuah keuntungan yang lumayan besar baginya
saat itu. Tapi, ia kemudian merasa menyesal,
karena dalam setahun, saham itu sebenarnya mampu mencapai nilai 200
dolar. Maka, sejak saat itulah, ia mendapat pelajaran, bahwa bermain saham
harus panjang jangka waktunya. Hal ini pulalah yang dipegang saat ia menjadi
raja saham dan membeli Berkshire Hathaway, sebuah unit usaha yang kini telah
berhasil dikembangkannya hingga punya anak usaha lebih dari 60 jenis usaha!
Meski kini diklaim sebagai
orang terkaya ketiga dunia (Forbes 2007), Warren selalu menekankan pola hidup yang sederhana.
Bahkan, sangat sederhana. Betapa tidak. Ia hidup bersahaja dengan hanya tinggal
di rumah yang nilainya cuma 31 ribu dolar yang hanya memiliki tiga kamar tidur.
Padahal, jika ia mau, dengan kekayaannya Warren bisa membeli beberapa istana sekaligus.
Tak hanya itu. Sampai kini
ia pun masih sering menyetir sendiri mobilnya. Bahkan, ketika harus bepergian,
ia tidak menggunakan pesawat jet pribadi layaknya konglomerat lain. Padahal, ia
memiliki perusahaan rental pesawat jet pribadi sebagai salah satu unit
bisnisnya. Selain menerapkan pola hidup sederhana, ia pun menerapkan manajemen
yang sangat bersahaja untuk semua bisnisnya. Ia memberi kepercayaan penuh pada
semua manajer perusahaannya. Ia hanya menulis sebuah surat setahun sekali ke CEO dari perusahaan-perusahaan
tersebut. Isinya tentang tujuan yang harus dicapai oleh perusahaan-perusahaan
tersebut. Ia memberi dua perintah kepada CEO-nya. Peraturan pertama : Jangan
sampai merugikan uang pemilik saham. Peraturan kedua: Jangan lupa peraturan
nomor satu. Hasilnya? Tidak diragukan lagi. Seperti yang dilihat banyak orang,
kekayaannya mencapai 52 miliar dolar lebih. Tapi, itu semua tak menyilaukannya.
Ia justru asyik berderma dengan tanpa berusaha memamerkan kekayaannya.
Apa yang dilakukan Warren Buffet memang tak bisa
diragukan lagi. Dirinya sudah menjadi legenda yang dihormati sebagai pengusaha
bidang saham dan aneka bisnis lainnya. Namun, satu hal yang harus kita contoh,
yaitu sikap sederhana dan kedermawanannya. Ia merasa, bahwa apa yang diraihnya
akan lebih berguna jika disumbangkan untuk orang-orang yang membutuhkan.
Semangat dan keteladanan inilah yang patut kita contoh agar sukses yang kita
raih benar-benar dapat memberi manfaat bukan hanya pada diri kita, namun juga
bagi orang di sekitar kita.