|
Lepaskan, Bagaikan Anak Panah D. Henry Basuki - Pengamat Budaya
Anak merupakan tumpuan harapan kita. Dia
dilahirkan untuk dirawat. Sewaktu kecil perlu dilindungi walau dia memintanya.
Lain halnya bila kita ingin berlindung di bawah pohon. Kita aktif "minta"
dilindungi karena datang di bawah pohon termaksud.
Mengapa masalah perlindungan demikian ini lain
kasusnya tidak ada orang yang tahu. Katanya "khoderat"
Bila
anak mengalami ketakutan, ibu senantiasa mendekapnya. Bila memerlukan sesuatu
ibu berusaha untuk mendapatkannya. Demikian besar cinta kasih ibu serta
pengorbanan yang diberikan sebagai "titah" kehidupan. Ini merupakan kenyataan
tanpa mendiskeditkan peranan ayah yang juga tidak dapat diabaikan. Hanya
"titah"nya yang berlainan.
Bila
anak menderita sakit, orangtua berusaha membuatnya sembuh. Saya baru saja
menjumpai Suti, seorang ibu yang mempunyai anak menderita sakit sejak lahir.
Untuk pengobatannya telah menghabiskan biaya yang cukup tinggi hingga rumah
miliknya dijual sebagai pengganti biaya. Dia ingin anaknya sembuh, namun apa
mau dikata, anaknya meninggal dalam waktu yang tidak begitu lama. Dia harus
rela melepaskan anaknya karena kematian, tetapi hal itu tidak mudah. Dia
menginginkan kehidupan anaknya, sehingga tidak mudah menghilangkan
kesedihannya.
Suatu
hari saya bertemu Sumi, seorang nenek yang tidak mempunyai anak kandung. Sejak
muda dia ditemani cucu keponakan yang diasuhnya seperti anak sendiri. Kini Sumi
sudah uzur, sering menderita sakit. Dia menceriterakan kepada saya bahwa dia
sakit hati terhadap cucunya. Ketika kecil si cucu dirawat dengan susah payah,
sekarang bila Sumi sakit kurang dirawat olehnya. Dia lebih mengurus istri dan
anaknya. Dirasakan si cucu telah melupakan dirinya.
Beberapa hari sebelumnya saya juga bertemu
dengan sang cucu. Dia mengeluh mengalami kesulitan merawat neneknya.
Diceriterakan suatu hari raya Idulfitri, si nenek pernah "menghilang" ketika
cucunya sekeluarga datang. Rumahnya dikunci, kuncinya dititipkan tetangga, dan
menantilah sang cucu sekeluarga di rumah kosong hingga neneknya pulang.
Lain
halnya yang saya jumpai pada Budi, seorang ayah. Istrinya menderita sakit
sementara anak tunggalnya yang baru menikah berada di lain kota yang jaraknya
sekitar 800 km. Beberapa waktu istrinya rawat inap di rumah sakit, sang ayah
menelpon anaknya. Dia minta anaknya segera datang untuk merawat ibunya. Menurut
pendapatnya, si anak sudah lebih mementingkan istri daripada ibu yang dulu
mengusuinya. Selama anak lelakinya belum datang, batinnya sangat sedih
memikirkan anak yang menurutnya kurang ajar.
Dari
tiga kasus di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa masih ada orang yang
tidak memahami kehidupan.
Kita wajib menyadari bahwa sesuatu yang ada
suatu ketika akan hilang, karena keberadaanya juga berasal dari yang tidak ada.
Seorang ibu, ayah, dan siapa saja "tertitah"
untuk memelihara kehidupan. Dengan demikian tidak selayaknya mengharapkan balas
jasa dari mereka yang "dipelihara" kehidupannya.
Dulu
sewaktu kecil kita dirawat dan dilindungi oleh orang tua dan orang-orang yang
lebih tua. Mereka melakukan hal ini karena punya rasa cinta pada kehidupan.
Dengan demikian, para perawat hendaknya merawat dengan tulus, seperti tulusnya
matahari memberikan sinar yang diperlukan untuk kehidupan kita. Bagaikan
tulusnya bumi memberikan air untuk keperluan kita, demikian juga sebagian
"milik" kita seyogyanya diberikan kepada sesama untuk memelihara kehidupan.
Bila
kehidupan kita dipenuhi "keterikatan" yang sifatnya "menagih" balas jasa, maka
kehidupan ini terasa tidak tenang dan tidak tentram. Kita akan merasa punya
"pihutang" yang belum dibayar, Kita akan terikat oleh "pihutang" tersebut dan
bila saatnya menutup mata dan tidak
bernafas untuk selamanya, keterikatan masih belum putus. Ada kemungkinan kita
bisa menjadi "setan gentayangan" di rumah sendiri karena masih "menagih" pada
anak cucu agar "membayar" kebaikan yang kita berikan.
Lepaskanlah semua anak
kita bagaikan melepaskan anak panah. Anak yang sudah berumah tangga, punya
kewajiban terhadap istri/suami serta anak-anaknya sendiri. Dia berada pada
sasaran masa depan.
Tidak selayaknya orangtua menuntut perhatian anaknya setelah dewasa.
Walau kita punya sasaran masa depan untuk anak-anak maupun generasi penerus,
sasaran tersebut akan tepat memenuhi keinginan bila kita punya kemampuan untuk
mengarahkannya.
Takarlah kemampuan untuk melepaskan anak panah. Jaman mengalami
kemajuan dan masa depan anak-anak terwujud berdasarkan proses kehidupan manusia
itu sendiri.
Jangan inginkan anak menjadi seperti kita, mereka harus lebih baik
dari kita.
Lepaskanlah anak panah agar punya manfaat bagi
kemajuan teknologi masa depan dengan menghilangkan keterikatan kita pada
mereka. Dengan bekal keluhuran budi serta keteladanan, dia tidak akan melupakan
kita. Itulah sebabnya kita wajib bekali anak-anak dengan moral etik, budi
pekerti, pemahaman agama serta keteladanan. Sebaliknya bila kita tidak bekali
dengan keluhuran budi dan keteladan, masa depan menjadi carut marut. Bila kita
sekarang menghadapi keadaan tidak menyenangkan sebagai akibat dari perilaku
masa lampau, marilah kita tingkatkan keluhuran dan keteladanan agar masa depan
tidak semakin menyedihkan.
|