Ada Doni Tata Di Moto GP
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Ada Doni Tata Di Moto GP
Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA

Bangga sekali ketika aku mendapati DoniTata ikut balapan di MotoGP. Saya bukan ahli balap motor, juga bukan penggemar balapan. Tetapi saya pasti penggemar siapa saja yang berprestasi. Aku bisa begitu bahagia melihat seorang perempuan muda, yang setelah mendapat pelatihan dari Grameen Bank, lalu menjadi menjadi pengembang ekonomi orang miskin di desa-desa. Saya bisa belama-lama menatap gambar seorang ibu sederhana di media massa, yang telah mempelopori pembangkit listrik mikro-hidro di desanya.

Listrik, di tangan ibu ini, menjadi begitu murahnya. Cukup hanya dengan tenaga air dari sungai-sungai desa, dan cukup dengan gotong-royong seluruh warganya. Seluruh desa menjadi terang benderang oleh energi yang ramah lingkungan pula.

Maka ketika Doni Tata tampil di Sepang Malaysia, aku ikut tegang, tak peduli nomor terakhir urutan start-nya. Aku tak peduli di manapun urutannya bahwa ia telah mendapatkan nomor urut itu saja, telah menjadi kebanggaan bangsa dan negara. Maklum, bahkan cuma untuk medapatkan nomor urut saja, baru satu orang yang sanggup melakukannya. Maka kepada Doni, bukan soal kalah dan menang yang aku nanti, tetapi cukuplah ia bisa ikut balapan ini, cukuplah sekadar ia bisa menang melawan dirinya sendiri. Menang melawan catatan waktunya sendiri.

Tapi inilah kejahatan televisi itu. Itu sungguh tidak tahu keteganganku. Karena siapapun juaranya tak penting bagiku, aku cuma peduli Doni Tata. Tetapi televisi itu tak pernah menyorot hingga ke belakang. Selalu cuma yang di depan. Jika kamera sekali waktu berbaik hati ke belakang, itupun sekadar berhenti di lapis kedua. Lapis ketiga dan seterusnya, tak pernah mendapat bagian. Aku menghela nafas, mengerti keadaanku, keadaan negaraku, bahwa kekuatanku memang cuma baru di belakang. Sedang kemera, memang hanya peduli pada para juara, kepada pihak yang ada di depan. Sedang definisi juara bagi negaraku, baru sekadar diperbolehkan ikut balapan.

Tetapi apa peduliku. Ini soal bangsa dan negara. Maka meskipun pembalap idolaku itu tak ada dalam gambar, aku tetap menonton televisiku, sambil menjulurkan leher panjang-panjang, eee, kalau-kalau bisa melongok barisan belakang. Siapa tahu leherku lebih panjang dari kamera yang sedang cuek pada kebutuhanku itu. Usahaku sia-sia. Sampai leher ini mulur di tingkat terjauhnya, tetap saja tak kulihat wajah Doni Tata. Satu-satunya harapan untuk mengerti keadaan hanyanyalah tergantung pada komentator televisi negaraku, yang ternyata juga sama bingungnya. Harapan terakhirku tinggal running tex yang sesekali muncul, itu pun tidak selalu memuat semua keadaan pembalap. Tidak selalu sampai ke paling belakang, ke tempat Doni Tata sedang berperang. Makaa oo aku berteriak gembira ketika teks itu mengabarkan, dari urutan 26, Doni sudah menyalip satu, menjadi nomor 25. Tidak kulihat wajahnya, tetapi kurasakan desingan mesinnya. Dari nomor 25, Doni menyalip satu lawan lagi, menjadi nomor 24 sekarang. Bukan prestasi remeh. Karena menyalip satu pembalap, setara dengan menyalip satu negara. Luar biasa!

Cuma kamera itu saja yang tidak juga menghargai pencapaian ini. Padahal untuk bisa ikut di MotoGP saja sudah prestasi yang tidak sembarang orang bisa mengikuti. Padahal ini tidak cuma ikut, tetapi juga bisa menyalip. Padahal yang disalip tidak cuma satu, tetapi dua. Dan kamera itu tetap saja tidak menampakkan wajah Doni Tata. Ee, bukan cuma wajahnya tidak terekam kamera, tapi tahu-tahu Doni malah sudah tak ada di lintasan. Astaga! Inilah kejamnya kamera. Betatapun ingin aku bangga kepada bangsa negaraku, tetapi kamera memang cuma peduli kepada pihak yang ada di depan. Kepada para juara. Cinta ini ternyata tak mampu merubah apa-apa, jika yang kucintai tetap ada di belakang!