|
Ada Doni Tata Di Moto GP Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Bangga sekali ketika aku mendapati
DoniTata ikut balapan di MotoGP. Saya bukan ahli balap motor, juga bukan
penggemar balapan. Tetapi saya pasti penggemar siapa saja yang berprestasi. Aku
bisa begitu bahagia melihat seorang perempuan
muda, yang setelah mendapat pelatihan dari Grameen Bank, lalu menjadi menjadi
pengembang ekonomi orang miskin di desa-desa. Saya bisa belama-lama menatap gambar seorang ibu sederhana di media massa, yang telah mempelopori pembangkit listrik mikro-hidro di
desanya.
Listrik, di tangan ibu ini, menjadi begitu murahnya. Cukup
hanya dengan tenaga air dari sungai-sungai desa, dan cukup dengan gotong-royong
seluruh warganya. Seluruh desa menjadi terang benderang oleh energi yang ramah
lingkungan pula.
Maka ketika Doni Tata tampil di Sepang Malaysia, aku ikut tegang, tak peduli nomor terakhir urutan
start-nya. Aku tak peduli di manapun urutannya bahwa ia telah mendapatkan nomor
urut itu saja, telah menjadi kebanggaan bangsa dan negara. Maklum, bahkan cuma
untuk medapatkan nomor urut saja, baru satu orang yang sanggup melakukannya.
Maka kepada Doni, bukan soal kalah dan menang yang aku nanti, tetapi cukuplah
ia bisa ikut balapan ini, cukuplah sekadar ia bisa menang melawan dirinya sendiri.
Menang melawan catatan waktunya sendiri.
Tapi inilah kejahatan televisi itu. Itu sungguh tidak tahu
keteganganku. Karena siapapun juaranya tak penting bagiku, aku cuma peduli Doni
Tata. Tetapi televisi itu tak pernah menyorot hingga ke belakang. Selalu cuma
yang di depan. Jika kamera sekali waktu berbaik hati ke belakang, itupun
sekadar berhenti di lapis kedua. Lapis ketiga dan seterusnya, tak pernah
mendapat bagian. Aku menghela nafas, mengerti keadaanku, keadaan negaraku,
bahwa kekuatanku memang cuma baru di belakang. Sedang kemera, memang hanya
peduli pada para juara, kepada pihak yang ada di depan. Sedang definisi juara
bagi negaraku, baru sekadar diperbolehkan ikut balapan.
Tetapi apa peduliku. Ini soal bangsa dan negara. Maka
meskipun pembalap idolaku itu tak ada dalam gambar, aku tetap menonton televisiku,
sambil menjulurkan leher panjang-panjang, eee, kalau-kalau bisa melongok
barisan belakang. Siapa tahu leherku lebih panjang dari kamera yang sedang cuek
pada kebutuhanku itu. Usahaku sia-sia. Sampai leher ini mulur di tingkat
terjauhnya, tetap saja tak kulihat wajah Doni Tata. Satu-satunya harapan untuk
mengerti keadaan hanyanyalah tergantung pada komentator televisi negaraku, yang
ternyata juga sama bingungnya. Harapan
terakhirku tinggal running tex yang sesekali muncul, itu pun tidak selalu memuat
semua keadaan pembalap. Tidak selalu sampai ke paling belakang, ke tempat Doni
Tata sedang berperang. Makaa oo aku
berteriak gembira ketika teks itu mengabarkan, dari urutan 26, Doni sudah
menyalip satu, menjadi nomor 25. Tidak kulihat wajahnya, tetapi kurasakan
desingan mesinnya. Dari nomor 25, Doni menyalip satu lawan lagi, menjadi nomor
24 sekarang. Bukan prestasi remeh. Karena menyalip satu pembalap, setara dengan
menyalip satu negara. Luar biasa!
Cuma
kamera itu saja yang tidak juga menghargai
pencapaian ini. Padahal untuk bisa ikut di MotoGP saja sudah prestasi yang tidak
sembarang orang bisa mengikuti. Padahal
ini tidak cuma ikut, tetapi juga bisa menyalip. Padahal yang disalip tidak cuma
satu, tetapi dua. Dan kamera itu tetap saja tidak menampakkan wajah Doni Tata. Ee, bukan cuma wajahnya tidak terekam kamera, tapi tahu-tahu Doni malah
sudah tak ada di lintasan. Astaga! Inilah kejamnya kamera. Betatapun ingin aku
bangga kepada bangsa negaraku, tetapi kamera memang cuma peduli kepada pihak yang ada di
depan. Kepada para juara. Cinta ini
ternyata tak mampu merubah apa-apa, jika yang kucintai tetap ada di belakang!
|