|
Jenderal & Bebek Haryo Ardito - Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia - DKI Jakarta
Seorang
jenderal panglima perang beserta sisa pasukannya baru saja kembali dari medan
pertempuran. Mereka terlihat sangat
kelelahan dan nampak sebagian dari mereka terluka. Perjalanan mereka terhenti di sebuah sungai
dan mereka pun beristirahat sejenak melepas lelah sambil mengobati prajurit
yang terluka. Saat perjalanan akan dilanjutkan mereka harus menyeberangi
sungai itu, air sungai nampak tenang dan membuat sang jenderal mencari-cari lokasi
yang dianggapnya tepat untuk menyeberang.
Tak jauh dari tempat itu nampak
seorang pengembala bebek, dan sang jenderal bertanya "Hey penggembala bebek,
kami harus menyeberang sungai ini, tunjukkan disebelah mana tempat yang aman
untuk kami menyeberangi sungai ini?" Si penggembala
bebek tergopoh-gopoh berlari mendekati sang jenderal dan segera menunjukkan
arah tak jauh dari tempatnya berdiri dimana bebek-bebeknya berada.
Sang jenderal segera
menginstruksikan beberapa prajuritnya untuk menaiki kuda masing-masing dan
masuk ke sungai ditempat yang ditunjukkan oleh si penggemabal bebek. Namun apa dinyana sesampai ditengah sungai,
kuda yang berada di barisan paling depan terperosok dan penunggangnya terjatuh hingga
nyaris hanyut terbawa arus sebelum akhirnya tertolong oleh rekan-rekan prajurit
lainnya.
Sang jenderal sangat marah dan
segera memerintahkan para prajuritnya menangkap si penggembala bebek dan
bersiap untuk memenggal kepalanya. "Hey
anak muda, sungguh berani sekali kamu menyesatkan kami, hampir saja prajuritku
mati gara-gara kamu" si penggembala bebek menangis ketakutan seraya memohon
ampun, katanya terbata-bata "Ampun.. ampun.. Tuan.. sungguh saya tidak
bermaksud mencelakakan Tuan" Sang
jenderal makin geram dan berteriak "Kamu lihat sendiri, arah yang kamu
tunjukkan adalah salah, sungai disana sangat dalam dan seekor kuda telah mati
gara-gara kamu!"
"Ampun.. Tuan, ampun.. bukankah
tadi di tempat itu bebek-bebek saya berenang dengan aman?"
Kali ini sang jenderal tertegun,
sejenak berpikir lalu tersadarkan bahwa dirinya telah salah bertanya kepada
orang yang tidak tepat. Serta merta dia memerintahkan
prajuritnya untuk membebaskan si penggembala bebek itu.
salam bijaksana,
Haryo Ardito,
Ketua Harian Asosiasi Manajemen Indonesia - DKI Jakarta
Website: www.haryoardito.com
|