Menciptakan Kepuasan Bagi Eksekutif
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Menciptakan Kepuasan Bagi Eksekutif
Steve Sudjatmiko - Red Piramid Change Specialist

Ketika bumi masih sangat muda, terjadi perebutan kekuasaan antara Zeus melawan ayahnya, Cronus yang telah menelan saudara-saudarinya. Istri Zeus, Methys, berhasil menipu Cronus sehingga dia memuntahkan ke5 anaknya yang dengan segera bergabung dengan Zeus. Dengan bantuan saudara-saudarinya itulah Zeus berhasil memenangkan perang maha dahsyat itu. Cronus melarikan diri sedangkan Zeus memenjarakan para Titan yang membantu Cronus. Pemimpin para Titan adalah Atlas, yang ditugaskan Zeus untuk menyangga bumi dan langit sampai selama-lamanya.

Seorang lagi yang mengalami nasib buruk dalam pekerjaannya adalah seorang hartawan bernama Sisyphus. Sisyphus dikenal sebagai orang yang paling banyak akal di dunia. Menjelang meninggalnya, dia meminta istrinya untuk tidak mengubur tubuhnya. Ketika dia akhirnya meninggal dan masuk ke Hades, neraka di legenda Yunani, dia mengadu penuh airmata pada Ratu Neraka Persephone meminta ijin untuk memarahi istrinya dan melakukan upacara penguburan mayatnya sendiri. Persephone yang berhati lembut mengijinkannya kembali ke dunia. Sisyphus yang memang tidak berniat kembali ke neraka menikmati hidupnya di dunia sampai para Dewa teringat padanya dan menyeretnya kembali ke Hades. Sebagai hukuman atas penipuannya, dia dihukum mendorong batu yang sangat besar ke puncak gunung. Setibanya di puncak gunung, batu besar itu tentu saja menggelinding ke bawah dan Sisyphus harus turun gunung untuk kembali mendorong batu itu ke atas gunung lagi sampai batu itu menggelinding lagi ke bawah dan demikianlah seterusnya. Sampai selamanya.

Ketika mendengar kisah Atlas dan Sisyphus, kita bergidik membayangkan bahwa mereka harus melakukan pekerjaan yang begitu berat, rutin dan membosankan sampai selama-lamanya. Apakah pikiran yang ada dalam benak Atlas dan Sisyphus setiap kali matahari bangkit dan mereka menghadapi hari baru? Apakah mereka akan merasakan semangat yang luarbiasa karena hari baru akan memberikan arti baru bagi pekerjaan yang begitu menjenuhkan?

Di perusahaan-perusahaan baik swasta dan BUMN, bagaikan Sisyphus dan Atlas, banyak eksekutif yang merasa bahwa hidup mereka tidak lagi "exciting". Mereka datang pagi ke kantor dengan kelelahan yang sama, menuju jam-jam kerja yang tegang yang baru berakhir ketika mereka tiba di rumah dengan letih setelah melewati macetnya jalan raya. Bahkan direktur perusahaan juga tidak luput dari kelelahan mental yang muncul dari pekerjaan yang sama setiap hari, setiap minggu dan setiap bulan.

Banyak eksekutif hijrah ke perusahaan lain untuk mendapatkan kepuasan bekerja yang hilang. Namun, pada akhirnya mereka menemukan bahwa tibanya kerutinan dan kebosanan itu tinggal masalah waktu. Cepat atau lambat mereka akan datang bagaikan banjir yang melanda. Karena itu banyak eksekutif menyerah dalam berusaha mencari sukacita dalam bekerja. "Semua pekerjaan sama saja," banyak eksekutif yang berkata demikian. Mereka akhirnya mencari arti kepuasan di lingkungan di luar pekerjaan seperti aktifitas sosial atau agama.

Bagaimana perusahaan Menciptakan Kepuasan di Lingkungan Pekerjaan Ketidak puasan merupakan masalah motivasi yang pelik dan cenderung mendekati dimensi spiritual. Tidak peduli seberapa makmur seseorang, ketidakpuasan adalah musuh yang selalu membayanginya. Nelayan, pedagang, industriawan dan tokoh keuangan, semuanya berharap untuk menjadi lebih sukses. Mereka yang hidup dari hari ke hari berusaha untuk menabung lebih banyak bagi hari-hari mendatang. Mereka yang telah memenuhi kebutuhan sehari-harinya kini menjadi haus untuk mencapai kekayaan, nama baik dan keberhasilan yang lebih spektakuler dalam hidup mereka. Makin cepat seseorang menjadi sukses, makin singkat usia kepuasan dan mereka dengan segera menceburkan diri ke dalam perjalanan mencari sukses yang lebih besar lagi.

Jadi, bagaimana perusahaan menciptakan kepuasan bagi para eksekutif yang hebat-hebat ini?

Bagi para eksekutif yang hebat, masalahnya adalah bahwa mereka telah melalui semua kebutuhan yang dasar. Dalam piramida Maslow, mereka telah mendapatkan kepuasan biologis, keamanan dan lingkungan social. Beberapa bahkan telah berulang kali menunjukkan kehandalan mereka. Keberhasilan (self-actualization) bukan lagi sebuah kepuasan bila mereka capai karena telah mereka capai berulang-ulang. Namun masih ada satu lagi kebutuhan yang akan memberikan mereka kepuasan yang konon baru ditemukan oleh Maslow pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Inilah Selflessness, kebutuhan untuk tidak hanya melayani diri sendiri.

Dalam pekerjaan, Selflessness adalah kepuasan karena melakukan hal yang mempunyai tujuan yang agung, yang berarti. Bagi mereka, tujuan yang agung memberikan tantangan yang tidak membuang waktu dan tenaga mereka secara sia-sia. Kepuasan batin mereka timbul dari memecahkan tantangan-tantangan ini menuju tercapainya tujuan besar itu.

Seorang tokoh masyarakat sangat berhasil mempertahankan para eksekutifnya karena visinya merubah Jakarta menjadi permata Asia Tenggara. Walau eksekutif2nya mendapatkan banyak tawaran untuk pindah tetapi banyak dari mereka yang bertahan karena mereka melihat bahwa tokoh ini benar-benar berusaha merubah Jakarta bukan saja menjadi kota metropolitan Indonesia tetapi menjadi kota bisnis regional.

Sebuah misi yang besar dan agung merupakan magnet bukan hanya untuk eksekutif tetapi untuk setiap orang. Seorang general manager yang bekerja di sebuah perusahaan makanan di pulau Jawa awalnya ditugaskan di bagian mie instan. Tetapi setelah dia diangkat menjadi asisten direktur dia melihat bahwa perusahaannya mampu memproduksi makanan lezat berharga murah untuk rakyat jelata. Setelah misinya didukung oleh pemilik perusahaan, dia menyerukan pada karyawannya tentang tugas mulia mereka: makanan sehat bermutu bagi rakyat biasa. Semangatnya yang menggelora dan seruannya yang inspirational menciptakan hasil yang sangat mengesankan: dalam beberapa minggu setelah misi yang baru itu disebarkan, produktifitas karyawannya meningkat drastis.

Seorang eksekutif bagian produksi sebuah perusahan otomotif di Jakarta hampir kehilangan motivasi karena terlalu banyak menggeluti masalah karyawan yang terus mempertanyakan uang makan, uang transport dan uang jasa. Kemudian pesaingnya meluncurkan mobil model baru. Sang eksekutif yang melihat kehebatan produk baru itu mengumpulkan belasan foremannya dan menyerukan bahwa misi mereka mulai saat itu adalah "membuat pembeli begitu puas sehingga mereka tidak mungkin memikirkan pilihan lain". Produktifitas dan kualitas hampir seketika meningkat dan karyawan tidak lagi mempermasalahkan segala macam uang harian. Ketika perusahaan pada akhirnya mendapatkan laba yang besar karena penjualan yang tinggi, karyawan juga mendapatkan bagian sehingga keluhan tentang keuangan itu benar-benar tuntas.

Penutup Apakah sebuah visi, misi dan tujuan yang dahsyat akan memotivasi semua eksekutif? Tentu saja tidak, tidak ada hadiah yang manjur untuk semua orang. Tetapi misi yang besar menciptakan arti hidup dan inilah yang membuat orang berbeda dengan Sisyphus dan Atlas.

Baik Sisyphus maupun Atlas mau tidak mau harus melakukan pekerjaannya. Mereka akan dihukum lebih berat lagi bila mereka tidak melakukan tugas mereka. Walau mereka merasa pekerjaan mereka sia-sia, mereka tidak punya pilihan. Tapi di dunia nyata, pilihan bagi para eksekutif makin lama makin banyak. Pergulatan untuk memperebutkan eksekutif yang mampu memberikan hasil yang nyata makin lama makin tegang. Perusahaan memiliki tugas berat di depan mata yaitu menemukan cara membuat eksekutif mereka merasa mendapatkan arti hidup pada saat mereka bertugas dalam perusahaan itu. Saat ini, jalan keluar terbaik adalah sebuah tujuan yang agung.

Steve Sudjatmiko
Red Piramid Change Specialist