Makanya, Catat
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Makanya, Catat
D. Henry Basuki - Pengamat Budaya

Ketika saya pergi ke Srandil bersama Sue Wilston dan William Wong, setiap ada kata-kata yang baru pertama kali didengar melalui telinga kedua turis mancanegara itu dicatatnya dalam buku kecil.

Bilamana kita berbincang dalam bahasa Indonesia dan ada kata-kata yang baru pertama didengar oleh kedua orang tersebut, tidak segan mereka bertanya dan mencatatnya.

Dalam waktu yang relatif singkat, kedua orang yang datang dari Autralia itu dapat berbicara dengan bahasa Indonesia yang dipahami oleh kami.

Ketika rekan sekantor saya I-id menemukan hal yang baru ketika mengoperasikan komputer, U-ung menganjurkan untuk mencatat. Dengan demikian, secara lancar I-id dapat mengetikkan perintah komputer dengan benar, sehingga CPU dapat beroperasi secara maksimal.

Suatu ketika I-id tidak mencatat sehingga dia bertanya lagi pada U-ung karena lupa cara mengoperasikan suatu program. U-ung selalu mengingatkan dengan setengah berteriak: “Makanya, catat !”
Suatu perilaku yang bijaksana bagi kita untuk rajin mencatat apa yang baru diketahui, sehingga secara efisien dapat segera dipahami.

Kalau Sue dan William dalam waktu singkat dapat berbahasa Indonesia, I-id dengan cepat dapat mengoperasikan komputer dibantu instruktur U-ung.

Daya ingat otak manusia wajib diakui sangat terbatas. Kita sangat sering lupa pada sesuatu yang seharusnya diingat. Untuk itu, pekerjaan yang paling sigap dikerjakan adalah mencatat apa yang baru diketahui.
Anda boleh secara tradisionil mencatat di atas secarik kertas, atau langsung pada alat canggih seperti halnya communicator, touch screen atau handphone sekalipun.

Yang penting setiap orang harus mengakui bahwa daya ingat itu terbatas, sehingga perbuatan mencatat sangat berguna.

Bagi para ibu yang akan belanja di mall atau supermaket, sangatlah efisien kalau mencatat apa yang akan dibelinya. Pada saat memasuki ruang belanja, maka secara lancar dan cepat akan segera mengambil apa yang dibutuhkan.

Bagi para “pengembara” atau “yang suka pergi”, alangkah baiknya mencatat nama daerah atau apa saja yang baru dikenalnya. Begitu lupa, segera dibuka catatannya dan akan ingat kembali.

Jangan kita malu mencata, karena diejek, karena yang mengejek adalah orang yang menyia-nyiakan kemampuan sendiri. Tidak tertutup kemungkinan dia tidak dapat menyebutkan karena lupa atau susah menyebutkan apa yang baru didengar.

Catat, catat dan catat. Itulah pekerjaan yang sangat membantu mempermudah hidup. Informasi yang akan kita sampaikan pada pihak lain juga tidak salah.
Kita juga harus mengakui bila lupa. Jangan memberikan informasi secara ngawur, karena bisa berbahaya akibatnya di kemudian hari.
Cermat dan catatlah!