36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-19
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

36 Ji (stratetgy) For Happy Life - Strategy Ke-19
Riduan Goh ~ Wealth is Mine

~ Singkirkan Kayu dari bawah tungku

IV. Hun ~ Posisi Chaos (Kacau)
Sang Godfather dari timur

Germerlap pesta mewah nan meriah yang dihadiri sejumlah bintang dan artis terkenal, tamu-tamu kaya dan beberapa pejabat menandai semaraknya ulang tahun seorang konglomerat hitam yang sekaligus merupakan godfather di timur negeri Bunga Matahari.

Sang Godfather merupakan sosok yang sangat disegani di bagian timur negri Bunga Matahari, dia penuh wibawa dan bertangan dingin. Bisnisnya mulai dari industri barang dan jasa sehari-hari hingga industri ilegal, dari perdagangan eceran hinggal penyelundupan besar. Walau demikian usahanya tetap lancar-lancar saja, karena didukung dengan jaringan yang rapi dari tingkat lokal hingga pemerintahan pusat.

Kekuasaan yang Godfather merajarela, sementara kesenjangan sosial di bagian timur semakin besar dan menimbulkan banyak dampak sosial, mulai dari kemiskinan, madat, perjudian hingga kejahatan sosial dan kerusakan alam semakin tak terkendali. Hal ini membuat risau Sang Raja di pusat pemerintahan, sungguh tidak mudah menghadapi hal ini. Sang Raja kerap kali mengatur berbagai strategi untuk menyikapinya dan kerap kali gagal sebelum dilaksanakan karena kurangnya dukungan pejabat pelaksananya. The Godfather from the East adalah isu utama negeri Bunga Matahari.

Sungguh tidak mudah bagi Sang Raja, setiap hari waktu dan pikirannya dicurahkan bersama beberapa pejabat yang masih berwawasan yang sama untuk memecahkan masalah ini. Hingga di suatu tengah malam Sang Raja tidak dapat tidur, dengan pakaian rakyat jelata Sang Raja mengajak pengawal pribadinya berjalan menyusuri dinding luar istana. Langkah-langkah gotai mengiringi gundah hati Sang Raja yang sedang bingung.

Tepat di depan gerobak pak tua pedagang mi ayam kuah khas negri Bunga Matahari, langkah itupun terhenti, diikuti sang pengawal, Sang Rajapun duduk memesan semangkok mie ayam pinggir jalan yang tentunya menu ini tidak dijumpainya di dalam istana raja. Dengan tersenyum ramah Pak Tua dengan sigap dan pasti menambahkan kayu bakar ke dalam tungku, apipun membesar dan mie ayam khas Bunga Matahari mulai diracik dengan tangkas.
Sang Raja menyantap hidangan sederhana dengan nikmatnya dan yang mata menerawang jauh memandang bara kayu dalam tungku itu, sungguh sisi pandang yang lain di luar istana. Saat sumpit terakhir mie ayam lenyap ditelan Sang Raja, tiba-tiba Sang Raja berdiri dan menepuk keras bahu sang pengawal sambil berkata “Saya Mengerti, Saya Tahu.â€