Perahu Dalam Botol
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Perahu Dalam Botol
Prie GS

Perahu dalam botol itu adalah mainan yang dibeli putriku saat piknik sekolah. Harganya murah saja tetapi terasa mahal di hatiku. Benda ini kupajang di ruang kerjaku untuk setiap kali kupandangi dengan rasa haru. Kenapa? Karena mainan itu tepat ia beli saat hatinya sedang  sedih. Teman-teman baiknya sedang bersepakat untuk mengucilkannya. Berhari-hari ia murung dan  setiap kali memandangi sekolahnya, yang terasa cuma sikap diam teman-temannya. Piknik itu menjadi puncak dari kesepiannya. Ketika seluruh anak-anak bersuka ria di alam bebas, anakku yang  sendiri, membeli perahu dalam botol itu sebagai  temannya. Maka setiap memandangi mainan itu, aku selalu teringat kesedihan anakku. Tepatnya, kesedihanku sendiri di masa kanak-kanak dahulu. Lebih tepatnya lagi kesedihan siapa saja yang merasa dirinya sedang merasa tak berharga.

          Mudah sekali perasaan tak berharga itu berkembang menjadi wabah tak cuma kepada anak-anak, tetapi siapa saja. Setelah diteliti, para bintang film pemenang Oscar lebih panjang umurnya katimbang para bintang film yang kalah. Saya sungguh mengerti perasaan  orang yang kalah karena aku sendiri sering mengalaminya. Masih jelas tergambar ketika aku kalah  dalam  sebuah lomba sementara sang pemenang itu adalah sahabat dekatku. Remuk redam. Aku pulang dengan mata kabur dan langkah gontai. Setiap wajah sahabat itu bekelebat kulihat sebagai hantu. Ia mendatangkan campuran rasa takut, luka, marah dan iri. Saking inginnya berpresatsi lomba apa saja pernah aku ikuti. Saking seringnya aku kalah, saking seringnya aku sakit hati, dalam hati aku berjanji. Tak  sekalipun aku akan menjadi peserta lomba lagi. Di semua lomba yang menyakitkan hati itu, aku berjanji akan menjadi juri.

          Keinginan itu terkabul. Di seluruh lomba yang pernah aku ikuti sebagai  pecundang itu, aku pernah ganti menjadi juri di kelak kemudian hari. Betapa jauh nian bedanya. Dari meja penjurian, aku memandang dengan mata yang pasti menggentarkan para peserta. Jika aku pura-pura menulis, peserta di  depanku itu pasti sedang  menduga-duga, ada apa! Jika aku menggeleng-gelengkan kepala  sambil bermuka masam, peserta di depanku itu pasti sudah  kecut nyali. Sebaliknya jika aku mengangguk-anggukan kepala melihat penampilannya, ia pasti berbunga-bunga. Padahal sering, anggukan dan gelengan itu, adalah akting belaka. Aku cuma ingin membuktikan betapa berkuasa pihak yang menilai itu dan betapa tak berdaya pihak  yang dinilai. Hanya berbeda awalan saja, yang satu me yang lainnya di, telah membuat perbedaan hidup begitu lebarnya. 

          Lihat pula pengalaman Joe Gerard, penjual mobil legendaris itu. Ketika  pertama kali mendapat penghargaan sebagai pejual nomor satu, seluruh ruangan gemuruh oleh tepuk tangan. Tetapi ketika setiap  tahun,  selama delapan tahun ia selalu berada di urutan pertama, tepuk tangan itu berganti menjadi kedengkian. Kenapa? Karena pihak  yang harus bertepuk tangan itu adalah pata penjual mobil seperti dirinya. Selama delapan tahun harus pertepuk tangan untuk kemenangan pesaing, pasti bukan cuma soal yang membosankan, tetapi juga soal yang membuat mereka marah dan kecewa.

          Maka setiap memandang botol berisi perahu itu aku tak cuma ingin memandang wajah anakku, tetapi juga memandang siapa saja yang  sedang murung oleh perasaan sendirian, sial dan  tak berharga. Perasaan itu sungguh bisa menyerang  siapa saja. Ia bisa menyerang orang-orang tua yang kesepian karena anak-anaknya telah membesar dan menjadi sangat sibuk. Menyerang karyawan yang tidak disukai atasan dan atasan yang tertekan oleh atasannya lagi atau atasan tertinggi yang gelisah karena masih ada pihak  yang lebih tingi lagi. Sungguh, mereka adalah orang-orang yang ingin kutemani, karena kesedihan mereka, pernah aku alami.

 
Prie GS