|
Perahu Dalam Botol Prie GS
Perahu dalam botol itu adalah
mainan yang dibeli putriku saat piknik sekolah. Harganya murah saja tetapi
terasa mahal di hatiku. Benda ini kupajang di ruang kerjaku untuk setiap kali
kupandangi dengan rasa haru. Kenapa? Karena mainan itu tepat ia beli saat hatinya
sedang sedih. Teman-teman baiknya sedang
bersepakat untuk mengucilkannya. Berhari-hari ia murung dan setiap kali memandangi sekolahnya, yang terasa
cuma sikap diam teman-temannya. Piknik itu menjadi puncak dari kesepiannya. Ketika
seluruh anak-anak bersuka ria di alam bebas, anakku yang sendiri, membeli perahu dalam botol itu sebagai
temannya. Maka setiap memandangi mainan itu,
aku selalu teringat kesedihan anakku. Tepatnya, kesedihanku sendiri di masa
kanak-kanak dahulu. Lebih tepatnya lagi kesedihan siapa saja yang merasa dirinya
sedang merasa tak berharga.
Mudah sekali perasaan tak berharga itu berkembang menjadi
wabah tak cuma kepada anak-anak, tetapi siapa saja. Setelah diteliti, para
bintang film pemenang Oscar lebih panjang umurnya katimbang para bintang film
yang kalah. Saya sungguh mengerti perasaan
orang yang kalah karena aku sendiri sering mengalaminya. Masih jelas tergambar
ketika aku kalah dalam sebuah lomba sementara sang pemenang itu
adalah sahabat dekatku. Remuk redam. Aku pulang dengan mata kabur dan langkah
gontai. Setiap wajah sahabat itu bekelebat kulihat sebagai hantu. Ia
mendatangkan campuran rasa takut, luka, marah dan iri. Saking inginnya berpresatsi
lomba apa saja pernah aku ikuti. Saking seringnya aku kalah, saking seringnya
aku sakit hati, dalam hati aku berjanji. Tak sekalipun aku akan menjadi peserta lomba lagi.
Di semua lomba yang menyakitkan hati itu, aku berjanji akan menjadi juri.
Keinginan itu terkabul. Di seluruh lomba yang pernah aku ikuti
sebagai pecundang itu, aku pernah ganti
menjadi juri di kelak kemudian hari. Betapa jauh nian bedanya. Dari meja penjurian,
aku memandang dengan mata yang pasti menggentarkan para peserta. Jika aku
pura-pura menulis, peserta di depanku
itu pasti sedang menduga-duga, ada apa!
Jika aku menggeleng-gelengkan kepala sambil bermuka masam, peserta di depanku itu
pasti sudah kecut nyali. Sebaliknya jika
aku mengangguk-anggukan kepala melihat penampilannya, ia pasti berbunga-bunga.
Padahal sering, anggukan dan gelengan itu, adalah akting belaka. Aku cuma ingin
membuktikan betapa berkuasa pihak yang menilai itu dan betapa tak berdaya pihak
yang dinilai. Hanya berbeda awalan saja,
yang satu me yang lainnya di, telah membuat perbedaan hidup begitu
lebarnya.
Lihat pula pengalaman Joe Gerard, penjual mobil legendaris
itu. Ketika pertama kali mendapat penghargaan
sebagai pejual nomor satu, seluruh ruangan gemuruh oleh tepuk tangan. Tetapi
ketika setiap tahun, selama delapan tahun ia selalu berada di
urutan pertama, tepuk tangan itu berganti menjadi kedengkian. Kenapa? Karena
pihak yang harus bertepuk tangan itu adalah
pata penjual mobil seperti dirinya. Selama delapan tahun harus pertepuk tangan
untuk kemenangan pesaing, pasti bukan cuma soal yang membosankan, tetapi juga
soal yang membuat mereka marah dan kecewa.
Maka setiap memandang botol berisi perahu itu aku tak cuma
ingin memandang wajah anakku, tetapi juga memandang siapa saja yang sedang murung oleh perasaan sendirian, sial dan
tak berharga. Perasaan itu sungguh bisa
menyerang siapa saja. Ia bisa menyerang
orang-orang tua yang kesepian karena anak-anaknya telah membesar dan menjadi sangat
sibuk. Menyerang karyawan yang tidak disukai atasan dan atasan yang tertekan
oleh atasannya lagi atau atasan tertinggi yang gelisah karena masih ada pihak yang lebih tingi lagi. Sungguh, mereka adalah
orang-orang yang ingin kutemani, karena kesedihan mereka, pernah aku alami.
Prie GS
|