|
Cermin Perilaku Di Jalan, Cermin Perilaku Diri Kita Pitoyo Amrih
Setiap pagi, Senin sampai Jumat, saya selalu mengantar anak saya ke sekolah. Berangkat sekitar pukul setengah tujuh dari rumah. Tidak begitu jauh sih, .. hanya sekitar empat kilometer dari rumah, melewati sekitar tujuh perempatan, lima diantaranya perempatan kecil menuju jalan besar, tanpa traffic-light. Yang bisa anda bayangkan pada jam-jam segitu tentunya begitu sibuk intensitas lalu-lalang orang berkendara, terutama para pengantar sekolah, atau pun juga para anak sekolah itu sendiri, bersepeda, dan berkendara motor.
Bagi anda mungkin tidak ada yang begitu istimewa dengan ‘ritual’ yang saya lakukan di atas, tapi sungguh, tiap pagi saya disuguhi pemandangan yang bagi saya cukup mengharukan dan selalu membuat hati saya tersentuh.
Memang dari kacamata saya, lingkungan tempat saya tinggal masihlah bisa digolongkan sebagai lingkungan pinggiran kota yang tidak terlalu besar. Perbatasan selatan kota Solo, walaupun saya rasakan memiliki kadar kesibukan yang kurang lebih sama di jam-jam sibuk, tapi bila berkendara di sini, perasaan itu tidak begitu resah memburu, dibanding bila berkendara di kota besar seperti Semarang, Surabaya, Bandung, atau bahkan Jakarta.
Pada jam intensitas lalu lintas yang tinggi, bahkan jalan raya kota Solo pun seringkali macet, walaupun tidak sampai berjam-jam tentunya. Tapi suasana macet itu terasa ringan setiap kali saya coba pandangi sorot mata dan wajah para pelaku kemacetan itu. Beda sekali dengan misal ketika saya sesekali ke Semarang, Bandung, atau bahkan Jakarta. Wajah-wajah pelaku macet di jalan itu begitu tegang, memasang muka tajam, dahi berkerut, dan hampir tak pernah saya melihat mereka tersenyum.
Inilah yang menyebabkan saya tersentuh bila saya harus membandingkan suasana jam sibuk di tempat saya tinggal dengan situasi di kota-kota besar itu. Rasa itu berawal dari perasaan betapa bersyukurnya saya diberi anugrah untuk bisa berkarya di tempat yang lebih ‘ramah’, dan betapa bersyukurnya saya ketika melihat bahwa orang-orang disekitar saya masih bisa diberi anugrah untuk bisa menikmati kehidupan.
Saya bukannya menganggap bahwa kota-kota besar itu ‘tidak ramah’. Karena di pikiran saya justru para penghuni kota besar itu adalah para pejuang. Selain berjuang terhadap keadaan yang ada, juga berjuang terhadap perasaannya sendiri atas kondisi yang ada.
Sebuah hal yang cukup berat dibandingkan apa yang saya lihat setiap pagi itu. Bapak-bapak dan ibu polisi di setiap perempatan itu masih bisa tersenyum. Saya masih melihat setiap kali ada saja orang yang rela menghentikan motornya menepi, sekedar untuk turun dan membantu sekelompok anak-anak sekolah bersepeda, untuk menyeberang jalan besar. Saya masih melihat, orang-orang yang berkendara mobil, memilih berhenti untuk memberi jalan para pengendara motor, pengguna sepeda atau pejalan kaki. Saya masih selalu mengalami kejadian dimana para pengguna jalan di perempatan kecil justru saling berhenti dan memberi tanda untuk menawarkan jalan, sambil tersenyum.
Setiap pagi itu bukannya bebas dari pelanggaran lalu-lintas. Hampir setiap hari saya juga selalu melihat pelanggaran, entah itu tidak memakai helm, ngebut, kecelakaan kecil, tapi kejadian-kejadian itu seperti tidak mempengaruhi suasana ‘nyaman’ itu. Pernah saya lihat seorang bocah berseragam sekolah ngebut, menjelang perempatan, pak polisi yang mengamatinya, cukup memberi tanda, dan memasang badan di jalan. Si anak sekolah ini pun tunduk melambat dan berhenti tepat di sebelah pak polisi. Tak ada wajah intimidasi dari pak polisi, juga tak terlihat wajah ketakutan si anak sekolah. Pak polisi justru terlihat tersenyum dan berkata sesuatu, mungkin sekedar menasehati, sambil menepuk punggung si anak sekolah. Untuk kemudian mempersilakannya jalan kembali.
Saya yakin kita semua menginginkan situasi seperti itu. Mewujudkan dan memelihara keadaan seperti itu. Dan kondisi lalu-lintas di jalan hanyalah sebuah contoh sampai dimana kemampuan kita menghargai kehidupan. Itulah mengapa baik atau buruk sebuah kondisi pelaku berlalu-lintas selalu saja membuat saya tersentuh, karena kalau kita mau jujur, perilaku kita di jalan sebenarnya adalah cermin dari perilaku diri kita sebenarnya.
3 Desember 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
|