|
Tranformasi Ke Alam Bawah Sadar Seng Guan CPLHI
Dalam
berbagai kesempatan saya sering mendengar bahwa kita hanya menggunakan
10 % dari seluruh kekuatan kita, 90% lainnya tertidur di alam bawah
sadar.
Lalu
pertanyaan muncul, bagaimana kita memanfaatkan 90% lagi kekuatan kita
yang berada di alam bawah sadar? Kadang-kadang kekuatan itu muncul
dipicu oleh daya yang super kuat dari luar, sering kali kekuatan itu
menstimulasi organ-organ tubuh kita menjadi perkasa dan dalam banyak
kasus pemicu itu berasal dari Dorongan PRIMITIF, yaitu "Insting untuk mempertahankan Hidup"
Seorang nenek tiba-tiba saja mampu mengangkat TV tinggi-tinggi dan menyelamatkannya dari kobaran api dalam
bencana kebakaran atau seorang bocah yang tiba-tiba mampu melewati
pagar setinggi 2 meter ketika dikejar oleh segerombolan anjing galak
adalah bentuk contoh Pengaktifan kekuatan bawah sadar oleh insting primitif kita, insting untuk mempertahankan hidup.
Secara fisik, sering kali hal tersebut mampu memancing bangkitnya kekuatan dari alam bawah sadar kita, insting
ini segera mengaktifkan tombol-tombol dalam system pertahanan diri
ketika merasa terancam, yang segera mengumpulkan energinya dan
menjadikan diri kita menjadi kuat.
Sebenarnya
kita juga dapat mengaktifkan tombol-tombol itu secara sadar melalui
tahapan pembelajaran, kita dapat memindahkan informasi-informasi yang
ada ke alam bawah sadar, dan dijalankan di sana sehingga energi Alam
SADAR kita masih bisa kita manfaatakan untuk hal lain.
Transformasi Data Base ke dalam alam bawah sadar
Pada proses ini kita mengenal 4 tahapan :
Tahapan pertama kita sebut sebagai tahap Belenggu Kebodohan, yaitu tahapan KETIDAKSADARAN atas ketidaktahuan. Sering
kali pada tahapan ini kita merasa serba tahu, kita merasa hebat, kita
tak menyadari ketidaktahuan kita, kita tak menyadari kebodohan kita, sering
kali pada tahapan ini kita tidak mau bersinggungan dengan apa yang kita
sebut BELAJAR, kita enggan mencari tahu hal-hal di luar dari
pengetahuan kita, sampai akhirnya kita menemukan tahapan kedua.
Seperti pada saat kita pertama kali mengenal mobil, kita merasa telah mampu mengendarainya, ketika kita telah mencoba dan ternyata tidak mampu, kita akhirnya memasuki tahap kedua.
Tahapan ini merupakan tahap Awal Pembelajaran yaitu tahapan SADAR atas ketidaktahuan. Pada
saat ini kita sudah mengetahui bahwa banyak hal yang kita tidak tahu,
dan kita mulai mencari informasi dan mau mencoba terjun dalam proses
BELAJAR.
Seperti
pada saat kita tahu kita mesti belajar mengendarai mobil, kita segera
mencari guru untuk mengajari kita, kita segera melakukan serangkaian
latihan sampai kita mampu menjalankannya dan memasuki tahap ketiga.
Tahapan berikutnya adalah tahap Pengisian Kecerdasan yaitu tahapan SADAR memiliki pengetahuan.
Pada saat ini kita telah menyadari bahwa kita telah mengetahui
pembelajaran tersebut, kita mampu memanfaatkan secara sadar pengetahuan
kita dalam setiap langkah yang kita ambil.
Seperti
pada saat kita telah mampu mengendarai mobil untuk pertama kali,
perhatian kita segera tersita untuk mengkoordinasi gerakan untuk
mengeram, untuk menginjak pedal gas, untuk memindahkan gigi, melihat
kaca spion, dan semua ini lakukan dengan kesadaran untuk memastikan
mobil tersebut berjalan benar. Lalu pada saat itu semua terasa kaku, kita harus berpeluh ketika memindahkan gerakan menginjak pedal gas, ke pedal pengereman. Ketegangan
hampir menyelimuti kita dimulai pada saat mobil itu bergerak sampai
mobil itu dihentikan, sampai kita memasuki tahapan terakhir dari
pembelajaran.
Tahapan
terakhir dari proses ini adalah tahap Transformasi alam bawah sadar,
yaitu SADAR atas ketidaksadaran memiliki pengetahuan kita. Kita
tidak lagi menghabiskan banyak energy dan perhatian dalam mengolah
data-data yang terekam, secara otomatis semua berjalan dengan begitu
saja, alam bawah sadar kita telah mengambil peranan dalam proses ini. Data-data
segera ditransformasi setelah mengalami PEMATANGAN melalui serangkai
aktivitas yang dilakukan berulang-ulang, rutinitas ini membentuk suatu
Kebiasaan yang dicatat dalam alam bawah sadar, yang selanjutnya
dipergunakan mengikuti kode pencatatan, mengikuti program yang telah
tersusun, tanpa harus menguras terlalu banyak energy dari kesadaran
kita.
Seperti
pada saat kita telah mahir mengendarai mobil, kita tidak lagi
memperhatikan gerakan menginjak pedal gas dan rem, kita tidak lagi
memperhatikan gerakan menyalakan lampu tangan, semua dilakukan secara
alami, kita sadar kapan harus melakukan gerakan pemindahan gigi, tapi
kita perlu lagi memperhatikan gerakan itu seperti pada saat kita
belajar pertama kali, semuanya telah diambil alih oleh Alam bawah sadar
kita. (Dan kita tetap hidup berKESADARAN)
Bayangkan,
betapa banyak energi yang dapat kita hemat, jika kita mampu memindahkan
sedikit demi sedikit date base kita ke alam bawah sadar kita, seperti
halnya saat kita mengetik, ketika tahapan itu telah tercapai, tangan
kita secara otomatis menekan tombol huruf yang ada, menerjemahkannya
dalam kata-kata tertulis.
Tapi
ada kalanya, data-data tersebut dapat dirusak oleh virus ketakutan,
ketika kita terancam secara mental, virus ini akan menyebar dalam tubuh
kita, acap kali hal ini bukan hanya membuat kita tak mampu memunculkan
kekuatan dalam alam bawah sadar, tapi juga sering mengagalkan
penggunaan akal sehat kita, dan membuat kita tidak sadar. Sebagai
contoh, lihatlah seorang ibu yang terperangkap dalam lautan api, ia
mengalami kesulitan ketika hendak membuka pintu rumah yang sudah ia lakukan ratusan bahkan ribuan kali, tangannya gementaran, dan ia bahkan tak mampu mengontrol organ-organ tubuhnya. Atau saat kita kehilangan suara ketika melihat api sedang menjalar dengan ganasnya di depan batang hidung kita.
Sebelum
saat itu menghampiri kita, maka pembelajaran harus kita lanjutkan ke
tahap berikutnya, yaitu menuju kesadaran tertinggi yaitu PENCERAHAN.
Pada
fase ini kita akan tampil lebih elegan, tahapan ini membuat kita mampu
menghadapi masalah lebih tenang, kita dapat menggunakan kekuatan alam
bawah sadar dan tidak kehilangan kendali atas alam sadarnya. Dan
tahapan ini akan tercapai saat kita telah mampu menjalankan moralitas,
konsentrasi dan kebijaksanaan (Sila, Samadhi dan Panna) secara
berkesinambungan dalam kehidupan ini.
Saat
itu, kita telah menjadi Pengemudi yang mahir, yang mampu memberdayakan
kekuatan alam bawah sadar kita, yang mampu mengemudikan diri kita dalam
jalan raya kehidupan ini, menuju ke dalam Kesadaran tertinggi yaitu PENCERAHAN, menuju sukses dunia dan Akhirat.
Salam Sukses Selalu
Seng Guan CPLHI
Regional Manager PT.Arthamas Konsulindo
PSDM Siddhi Medan
Sekretaris MBI Medan
sengguanjr@yahoo.com
|