|
Nilai Kesadaran Andrie Wongso
Dikisahkan, seorang direktur
eksekutif di sebuah perusahaan multinasional berkisah tentang perjalanan
kariernya. Saat masih muda, aku bangga pada diriku sendiri yang pintar, lulus
sekolah dengan angka yang memuaskan dan bersikap angkuh pada orang-orang yang
tidak sepandai aku. Aku dulu egois sekali, mengejar karier secepat mungkin
tanpa mempertimbangkan perasaan orang-orang yang aku dahului. Yang penting
cepat sampai ke tujuan tanpa pernah menyadari bahwa kepandaian dan caraku
memenangkan perdebatan di meja rapat ternyata menyakiti teman-teman dan
seniorku sendiri. Yang penting dewan direksi senang dan puas dengan hasil
kerjaku, maka karierku pasti akan meningkat dengan pesat begitu pula dengan gaji
dan fasilitas yang bakal ku terima. Yang lainnya aku tidak peduli. Sikapku yang
hanya mementingkan diri sendiri dan tidak merasa perlu bersosialisasi, menyebabkan
aku dijauhi teman dan ketika sadar, tiba-tiba aku sendirian!
Saat kelelahan karena pekerjaan
yang menumpuk, tidak ada satu orang teman pun yang menyapaku apalagi membantu.
Ketika sakit, tidak ada yang menanyakan keadaanku apalagi menjenguk. Hidupku
begitu kering dan kesepian. Hanya ada satu orang yang menyapaku dengan senyum
yang selalu merekah di bibirnya, yaitu si Udin, cleaning service merangkap office
boy di kantorku. Sosok pemuda kampung yang ramah dan siap membantu.
Sapanya yang khas setiap bertemu,
"Selamat pagi, siang, atau sore, Pak." "Mau tambah minum apa?" atau "Apa yang
bisa saya Bantu, Pak?" Meskipun pekerjaannya berat, menyiapkan segala properti untuk
semua orang di kantor, dia selalu ringan tangan menolong orang lain yang bukan
menjadi tugasnya sehingga dia sangat disukai oleh semua orang. Bahkan saat
tidak masuk kerja karena sakit, beberapa orang kantor menyempatkan menengok dan
mengumpulkan uang membantu Udin.
Diam-diam aku iri kepada udin dan
marah kepada diriku sendiri. Iri kepada Udin? Yang cuma cleaning service? Sungguh keterlaluan! Kenyataan itu serasa
menamparku dengan keras. Selama berhari-hari aku merenung dan meneliti kembali
tujuan hidupku. Apakah aku bahagia dengan perolehan yang telah aku capai selama
ini? Apakah ini tujuan hidup yang aku inginkan? Dan banyak lagi pertanyaan yang
menggantung di benak ini. Sejak itu, aku sadar dan segera membuat rencana untuk
berusaha merubah diri menjadi lebih baik seperti yang aku inginkan. Menjadi pribadi
yang lebih menyenangkan bagi diri sendiri dan orang lain. Perubahan demi
perubahan positif pun terjadi. Sungguh luar biasa. Kesadaranku muncul karena
seorang Udin!
Pembaca yang budiman,
Pepatah bijak mengatakan "Setiap
orang bisa menjadi guru bagi orang lain" dan yang sering saya sharingkan, "Sebuah
prestasi tanpa dilandasi oleh kepribadian dan pikiran yang positif maka akan
rapuh dan mudah runtuh" adalah sangat tepat untuk menggambarkan kisah tadi.
Apalah artinya pintar jika hanya menyakiti
orang lain, bahkan teman sendiri? Karena sesungguhnya, pintar adalah berkah
dari yang Kuasa. Tetapi mampu mengelola kepintaran sehingga bermanfaat dan
membahagiakan bagi diri sendiri dan orang lain itu baru lah kebijaksanaan.
Mari mengevaluasi diri sendiri, untuk selalu
menghargai berkah yang diberikan Tuhan kepada kita.
Salam sukses luar biasa!
Andrie Wongso
|