|
Secarik Kertas Putih Timotius Hendra Haes
Selama beberapa hari headlines di surat surat kabar dan berbagai media lainnya memuat dan mengupas tentang peristiwa kontorversial ( setidaknya bagi saya ) , karena kemenangan seorang Obama yang meskipun berdarah campuran antara Afrika dan Amerika , namun dari segi warna kulit jelas sekali bahwa Obama, memang mencitrakannya sebagai orang berkulit hitam . Maka kefanatisan sebagian besar orang orang kulit putih yang lebih mengagungkan warna kulit ( seperti halnya Hitler yang menganggap kulit putih adalah superior ) , menjadi sirna seketika. Terus terang memang kekaguman akan Amerika Serikat sebagai negara superior atau adidaya, selalu dibarengi kebencian juga oleh bangsa dan negara lainnya , karena dianggap mengetengahkan double standard dalam setiap keputusan mereka, disatu pihak mereka mengagungkan HAM tetapi di segi lain masih juga terdapat disrkiminasi rasial di negara tsb. Disatu pihak menjunjung tinggi rasa kemanusiaan tetapi dipihak lain juga mengibarkan perang yang membunuh banyak jiwa.
Saya masih ingat sebuah kalimat yang saya dengar saat mengikuti pelatihan More Precious Than Gold ( dan ditempat yang sama pula, pertama kalinya saya bertemu dan mengenal sosok motvator nomor 1 Indonesia , pak Andrie Wongso) . Kalimat itu merupakan contoh yang diberikan pembawa seminar ( kalau tak salah Mr KG Lim dari Malaysia ) , bahwa pernah ada seorang anak berkulit hitam di AS yang bertanya kepada seorang penjual balon apakah kalau balon berwarna hitam, ia bisa terbang sama seperti balon berwarna lainnya, maka sang penjual balon berkata, bahwa terbang atau tidaknya balon, bukan ditentukan oleh warnanya , tetapi oleh isi yang terdapat didalamnya . Seorang Marthin Luther King Jr, 55 tahun lalu pernah bermimpi bahwa suatu saat akan melihat anak anaknya akan berdiri sejajar atau sama tinggi dengan anak anak kulit putih , saat ini terbukti bahwa salah satu "anaknya " telah berdiri bukan saja sejajar, bahkan lebih tinggi dari "anak anak lain yang berkulit putih". Ya tepatnya pada tanggal 4 Nopermber 2008, Amerika Serikat untuk pertama kalinya telah berhasil merubah citra dirinya menjadi negara yang memang demokrat ( sesuai nama partai yang diusung oleh Obama ) dimana fanatisme akan WASP ( White Anglo Saxon Protestant ) yang dulu menjadi syarat bagi terpilihnya Presiden , sudah gugur dengan sendirinya.
Beberapa tahun lalu saya pernah menginterview salah seorang karyawan yang bermasalah , saya berkata kepadanya:" Bahwa bagi saya kebenaran adalah universal, dan sebagai pimpinan saya harus adil, bahwa meskipun engkau mempunyai agama bahkan ras yang sama dengan saya , maka ketika engkau salah saya harus tetap menyatakan engkau salah tetapi meskipun
engkau berbeda ras dan agama dengan saya, maka ketika engkau benar, maka saya harus menyatakan bahwa engkau benar".
Memang sulit menerapkan hal itu, karena ketika kita berhadapan pada sebuah organisasi atau lembaga yang mengkulturkan kebenaran semata mata pada " kelompok sendiri ", maka kita akan berhadapan dengan kekuatan kekuatan yang menghalangi kita dalam mengapresiasi nilai kebenaran yang universal . Secara terus terang budaya kita di Indonesia juga masih banyak memberlakukan keberpihakan bukan pada kebenaran sebagai sesuatu yang universal, namun masih melihat kepada subyek.
Kelompok saya pasti benar , kelompok kamu pasti salah . Ini yang masih menjadi PR kita semua.
Pilpres di Amerika Serikat ikut membesarkan hati bagi kita yang bukan berkulit putih, bahwa kitapun punya hak yang sama sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa , kita berhak untuk sukses, sama seperti kalimat pak Andrie :" Success is my right " .
Sama seperti Obama dan Marthin Luther King Jr, yang berkulit hitam, maka kita mungkin juga ditakdirkan terlahir sebagai orang yang memiliki kulit berwarna , karena memang kita tidak dapat memilih untuk dilahirkan sebagai kulit putih, tetapi siapapun kita dan apapun warna kulit kita, kita semua terlahir sebagai kertas putih, dimana keindahannya ditentukan oleh apa yang tertulis dan terlukis diatasnya , pemaknaannya akan tergantung dari tulisan dan gambar apa yang ada didalamnya .
Obama bukan berkulit putih, tetapi merupakan kertas putih yang telah dihiasi oleh tulisan dan lukisan yang sangat indah.
Kita mungkin tidak menjadi Presiden, tetapi kita juga bisa berguna dan bermakna, dengan menjadi kertas putih yang tertulis dan terlukis dengan segala yang indah dan baik. Jangan biarkan " kertas putih" kehidupan kita ternodai oleh tulisan dan lukisan yang buruk.
Bukan warna kulitmu yang menentukannya , tetapi apa yang telah kau tulis dan lukis di kertas putihmu yang akan menentukannya. "Success is our right!".
|