Jenuh
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Jenuh
Nathalia Sunaidi - Penulis Buku Journey to My Past Lives

Beberapa hari belakangan ini saya merasa sangat jenuh dan kehilangan kebahagiaan dalam keseharian saya. Terlalu sibuk, begitu alasan yang saya berikan atas kejenuhan saya. Terlalu sibuk dengan jadwal terapi yang sangat padat dan talk show, sampai-sampai saya tidak punya waktu untuk membeli celana jeans! Setiap kali saya memikirkan padatnya jadwal saya seketika saya menjadi bad mood. ‘Saya ingin berjalan-jalan santai di week end bersama pacar saya’, seperti itulah keluhan di dalam hati saya. Memang terdengar sangat kekanak-kanakan tapi itulah yang saya rasakan dalam beberapa hari belakangan ini.

Sepanjang siang tadi saya memeriksa perasaan saya untuk meyakinkan apakah benar saya jenuh dan kehilangan kebahagiaan. Biasanya saya sangat menikmati aktivitas saya tapi tiba-tiba saja saya merasa murung seolah-olah tidak ada lagi kebahagiaan yang bisa saya temukan di dalam kegiatan saya. ‘Apa saya terkena depresi?’, muncul pertanyaan itu di dalam benak saya.

Saya merenungkan hal ini sepanjang siang dan sore hari. ‘Ke mana kebahagiaan saya? Kenapa tiba-tiba saya tidak bahagia?’, saya terus menanyakan hal tersebut di dalam hati. Tiba-tiba saja ketika saya sedang mandi saya menemukan jawabannya, ‘Karena saya mengkondisikan kebahagiaan saya!’, jawaban itu seperti halilintar yang menyadarkan saya. Tentu saja saya kehilangan kebahagiaan saya karena saya sendiri yang membuatnya hilang.

Saya jadi teringat sebuah bahasa program komputer. Jika Anda dekat dengan dunia komputer maka Anda pasti familiar dengan program ‘If…. Then…’. Sama seperti itu, saya mengkondisikan kebahagiaan saya dengan begitu banyak ‘If… then…’. Saya membuat program ‘If terlalu banyak terapi Then saya tidak bahagia’, ‘If tidak bersama pacar saya Then saya tidak bahagia’, ‘If di akhir minggu tidak jalan-jalan Then saya tidak bahagia’. Saya sendiri yang mempartisi ruangan kebahagiaan dalam diri saya. Ibarat sebuah rumah saya membuat begitu banyak partisi ruangan ‘Tidak Bahagia’ yang menyita ruangan ‘Bahagia’ sampai akhirnya ruangan ‘Bahagia’ saya hampir habis.

Tapi bagaimana supaya saya bisa memperluas ruangan ‘Bahagia’ saya? Tiba-tiba saja dalam perenungan saya menyadari kembali keluar masuknya nafas saya. Terbersit di pikiran saya, ‘Bukankah semestinya sangat bersyukur karena masih memiliki nafas?’ Karena itu saya memasukkan program baru di pikiran saya, ‘If masih bisa merasakan keluar masuknya nafas Then saya berlatih untuk lebih bahagia.’ Ya, saya sedang membuka partisi-partisi ruangan ‘Tidak Bahagia’ saya dan membuat kondisi ruangan ‘Bahagia’ seluas-luasnya.

Jika saja kita tidak membuat kondisi-kondisi yang membatasi kebahagiaan kita maka semua hal bisa membawa kebahagiaan dalam diri kita. Andai saja kita bisa merasakan bahagia dalam setiap tarikan dan hembusan nafas kita maka ruangan kebahagiaan kita tidak akan memiliki partisi lagi dan yang ada hanyalah kebahagiaan itu sendiri… kebahagiaan yang tak berkondisi.

Nathalia Sunaidi - - Penulis Buku Journey to My Past Lives