Menghakimi
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Menghakimi
Pitoyo Amrih

Sebuah pemandangan yang memilukan. Wajah orang itu nampak penuh luka, bengkak-bengkak, dan guratan darah di sana-sini. Saya tak tega berlama-lama memandang wajah orang ini. Sebuah pengalaman baru malam itu yang cukup lama membuat saya tercenung malam harinya. Beribu pertanyaan mengapa, memenuhi kepala saya.

Kejadian yang terjadi beberapa hari lalu. Selepas sholat tarawih, kampung sebelah perumahan tempat saya tinggal dikejutkan oleh teriakan ‘maling' yang menggema di ketenangan malam. Saya sendiri tidak begitu paham bagaimana detail kejadiannya. Bagaimana sampai sang pencuri itu mencuri. Bagaimana dia kemudian ketahuan. Bagaimana kemudian kabarnya puluhan orang langsung ‘menyerbu'-nya. Saya hanya kebetulan lewat di tempat kejadian ketika orang yang dicurigai mencuri itu digelandang. Sehingga pemandangan memilukan wajah luka itu sempat terlihat oleh mata saya di keremangan malam.

Mencuri, dari sisi pertimbangan manapun tetaplah sebuah perbuatan yang salah. Tapi sampai dimanakah hak kita selaku sesama manusia untuk kemudian bebas menghakimi sang pencuri?

Dalam keseharian kita, sebenarnya esensi kegiatan mencuri itu rentangnya begitu lebar. Dari yang sederhana ‘sekedar' mencuri waktu, mencuri kesempatan, mencuri hak-hak orang lain. Sampai sesuatu yang besar, mencuri barang orang lain, korupsi, dan sebagainya. Dan dari sisi manapun, mencuri tetap tidak bisa dibenarkan. Yang menjadi sesuatu yang perlu kita renungkan kemudian adalah, apa yang boleh kita lakukan dengan para pencuri? Dalam kasus di kampung sebelah saya seperti cerita saya di atas, tentunya seharusnya konsekuensi apa bagi pencuri sudah menjadi wilayah para penegak hukum. Tapi prakteknya, seperti juga yang masih banyak terjadi di tempat lain, adalah praktek menghakimi sendiri.

Kita boleh menyayangkan praktek main hakin sendiri itu, tapi bila kita coba mau berkaca, dan jujur pada diri sendiri, bahwa sepertinya kita semua tidak pernah bersih dari keinginan untuk cenderung selalu menghakimi apa yang dilakukan orang lain. Kita lihat di media kita setiap hari. Hampir selalu diisi oleh komentar-komentar yang cenderung untuk selalu menghakimi suatu kejadian atau apa yang telah dilakukan orang lain.

Misalnya ada indikasi tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh seseorang. Belum juga proses hukum terjadi terhadap sang pelaku, ramai-ramai orang sudah mengacungkan telunjuk ke wajah sang terdakwa, menilai, menghakimi. Yang saya pikir sama menyedihkannya dengan apa yang telah dilakukan orang-orang di kampung sebelah kompleks saya tinggal, dengan menghakimi pencuri yang ketangkap basah itu.

Kalaupun kemudian pengadilan sudah memutuskan seseorang bersalah, saya sampai saat ini tetap berpendapat bahwa yang patut kita benci dan jauhi adalah perbuatan yang dilakukan orang yang bersalah tadi, bukan terhadap orangnya. Saya tetap percaya bahwa pada dasarnya semua manusia itu baik. Ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan, tentunya tidak serta merta bahwa kesalahan itu murni seratus persen murni atas kontribusinya. Saya masih ingat kata-kata bijak Kahlil Gibran yang begitu dalam, bahwa ‘si terbunuh tidaklah terbebas dari kesalahan si pembunuh, si tercuri bisa jadi berkontribusi atas apa yang dilakukan sang pencuri'. Sebuah kalimat yang sarat makna, yang diujung pengertiannya, saya bisa terjemahkan bahwa bagaimanapun juga tidak seharusnya kita menghakimi seseorang. Kita boleh saja menilai orang lain dalam rangka belajar atas apa yang orang lain tersebut lakukan -mengambil inspirasi bila itu baik, dan menjauhi bila itu keliru-, tapi tidak seharusnya penilaian itu berkembang menjadi sebuah sikap menghakimi. Bahwa si A pasti salah, bahwa si B pastilah yang menjadi dalangnya.

Kita boleh saja menilai bahwa orang lain salah atas dasar kebenaran yang saat ini kita pegang. Tapi akan sungguh naif kalau kita sampai menghakimi orang lain, karena hal itu pastilah didasari pada paradigma yang menganggap bahwa diri kita yang paling benar...


26 September 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga