|
Menghakimi Pitoyo Amrih
Sebuah pemandangan
yang memilukan. Wajah orang itu nampak penuh luka, bengkak-bengkak, dan
guratan darah di sana-sini. Saya tak tega berlama-lama memandang wajah
orang ini. Sebuah pengalaman baru malam itu yang cukup lama membuat
saya tercenung malam harinya. Beribu pertanyaan mengapa, memenuhi
kepala saya.
Kejadian
yang terjadi beberapa hari lalu. Selepas sholat tarawih, kampung
sebelah perumahan tempat saya tinggal dikejutkan oleh teriakan ‘maling'
yang menggema di ketenangan malam. Saya sendiri tidak begitu paham
bagaimana detail kejadiannya. Bagaimana sampai sang pencuri itu
mencuri. Bagaimana dia kemudian ketahuan. Bagaimana kemudian kabarnya
puluhan orang langsung ‘menyerbu'-nya. Saya hanya kebetulan lewat di
tempat kejadian ketika orang yang dicurigai mencuri itu digelandang.
Sehingga pemandangan memilukan wajah luka itu sempat terlihat oleh mata
saya di keremangan malam.
Mencuri,
dari sisi pertimbangan manapun tetaplah sebuah perbuatan yang salah.
Tapi sampai dimanakah hak kita selaku sesama manusia untuk kemudian
bebas menghakimi sang pencuri?
Dalam
keseharian kita, sebenarnya esensi kegiatan mencuri itu rentangnya
begitu lebar. Dari yang sederhana ‘sekedar' mencuri waktu, mencuri
kesempatan, mencuri hak-hak orang lain. Sampai sesuatu yang besar,
mencuri barang orang lain, korupsi, dan sebagainya. Dan dari sisi
manapun, mencuri tetap tidak bisa dibenarkan. Yang menjadi sesuatu yang
perlu kita renungkan kemudian adalah, apa yang boleh kita lakukan
dengan para pencuri? Dalam kasus di kampung sebelah saya seperti cerita
saya di atas, tentunya seharusnya konsekuensi apa bagi pencuri sudah
menjadi wilayah para penegak hukum. Tapi prakteknya, seperti juga yang
masih banyak terjadi di tempat lain, adalah praktek menghakimi sendiri.
Kita
boleh menyayangkan praktek main hakin sendiri itu, tapi bila kita coba
mau berkaca, dan jujur pada diri sendiri, bahwa sepertinya kita semua
tidak pernah bersih dari keinginan untuk cenderung selalu menghakimi
apa yang dilakukan orang lain. Kita lihat di media kita setiap hari.
Hampir selalu diisi oleh komentar-komentar yang cenderung untuk selalu
menghakimi suatu kejadian atau apa yang telah dilakukan orang lain.
Misalnya
ada indikasi tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh seseorang. Belum
juga proses hukum terjadi terhadap sang pelaku, ramai-ramai orang sudah
mengacungkan telunjuk ke wajah sang terdakwa, menilai, menghakimi. Yang
saya pikir sama menyedihkannya dengan apa yang telah dilakukan
orang-orang di kampung sebelah kompleks saya tinggal, dengan menghakimi
pencuri yang ketangkap basah itu.
Kalaupun
kemudian pengadilan sudah memutuskan seseorang bersalah, saya sampai
saat ini tetap berpendapat bahwa yang patut kita benci dan jauhi adalah
perbuatan yang dilakukan orang yang bersalah tadi, bukan terhadap
orangnya. Saya tetap percaya bahwa pada dasarnya semua manusia itu
baik. Ketika seseorang melakukan sebuah kesalahan, tentunya tidak serta
merta bahwa kesalahan itu murni seratus persen murni atas
kontribusinya. Saya masih ingat kata-kata bijak Kahlil Gibran yang
begitu dalam, bahwa ‘si terbunuh tidaklah terbebas dari kesalahan si
pembunuh, si tercuri bisa jadi berkontribusi atas apa yang dilakukan
sang pencuri'. Sebuah kalimat yang sarat makna, yang diujung
pengertiannya, saya bisa terjemahkan bahwa bagaimanapun juga tidak
seharusnya kita menghakimi seseorang. Kita boleh saja menilai orang
lain dalam rangka belajar atas apa yang orang lain tersebut lakukan
-mengambil inspirasi bila itu baik, dan menjauhi bila itu keliru-, tapi
tidak seharusnya penilaian itu berkembang menjadi sebuah sikap
menghakimi. Bahwa si A pasti salah, bahwa si B pastilah yang menjadi
dalangnya.
Kita
boleh saja menilai bahwa orang lain salah atas dasar kebenaran yang
saat ini kita pegang. Tapi akan sungguh naif kalau kita sampai
menghakimi orang lain, karena hal itu pastilah didasari pada paradigma
yang menganggap bahwa diri kita yang paling benar...
26 September 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga |
 |
|