Sudahlah, Saya Maafkan
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Sudahlah, Saya Maafkan
Herman Kwok

Kalo begini gak kuat juga. Saya sudah berusaha semaksimal yang saya mampu, tapi tetap dianggap tidak serius.   demikian yang  Ayu sampaikan dalam emailnya.  Di dalam emailnya  terdapat penjelasan tentang masalah yang dihadapi. Ternyata terdapat salah persepsi mengenai pekerjaan Ayu dengan atasannya. Si atasan menyimpulkan bahwa Ayu tidak bersungguh-sungguh mengerjakan tugasnya. Padahal Ayu telah mengerjakan banyak detail yang tidak terlihat oleh atasannya hingga suatu ketika timbul keterlambatan pekerjaan yang diluar wewenangnya, ia langsung terkena damprat.    

Ayu merasa terjepit dalam situasi sulit diluar kemampuannya tapi tidak punya cukup wewenang. Saya sendiri mengenalnya cukup baik bahwa sebenarnya Ayu adalah orang yang cerdas, punya integritas serta bertanggung jawab. Bukan type orang yang suka berpura-pura sibuk. Hanya saja sedang apes sehingga dimarahi di depan orang lain. Akibat kejadian ini Ayu menjadi demotivasi sehingga memutuskan untuk menyerah dan berhenti dari pekerjaannya. Setelah mengobrol dengannya beberapa saat, saya sampaikan bahwa saya akan berbicara dengan atasannya. Sementara yang dapat dilakukannya adalah membuka pintu maaf supaya pikirannya tidak terbeban.  

Kadang-kadang lebih sulit memberi maaf daripada meminta maaf, apalagi untuk kesalahan yang  bukan kita sumbernya. Kata-kata makian yang menimpa seseorang seperti paku yang ditancapkan ke batang pohon. Walaupun paku tersebut dicabut, lubangnya tetap menganga di batang pohon tersebut.

Lima belas tahun yang lalu saya dan seorang rekan mengalami kejadian yang tidak terlupakan, diamuk oleh makian selama hampir 2 jam. Yang mengamuk adalah seorang pengusaha besar. Berdua, kami duduk di depan meja besar di ruangan kantornya  yang dingin dan dicaci-maki dengan suara yang menggelegar. Segala macam makian terlontar, dari kebun binatang hingga keluar kalimat bahwa kepala kami bisa dibeli.  Itu, adalah 2 jam terlama dalam hidup saya.

Penyebabnya adalah karena kami mengerjakan proyek yang menurutnya tidak sesuai spesifikasi. Persetujuan awal secara lisan dengannya adalah kami mengerjakan proyek dengan spesifikasi standar (kelas C), kemudian pada saat pelaksanaan, proyek diawasi anak buahnya yang meminta spesifikasi tinggi (kelas A), sehingga sering menimbulkan konflik di lapangan. Setelah peristiwa amukan itu kami menjadi dendam dan berniat membalas dengan segala cara, misalnya dengan menimpuk kantor atau mobilnya, untungnya urung dilakukan. Selama 1 tahun lebih saya terbeban oleh dendam yang menempel di kepala.

Hingga tiba pada satu peristiwa yang membuat saya berubah. Pada suatu sore dalam gerimis dan kondisi jalan licin, mobil saya menabrak mobil tentara di depan. Dengan inisiatif sendiri langsung saya hampiri tentara tersebut dan meminta maaf. Dalam hati berpikir, pasti urusannya akan menjadi panjang seperti cerita yang pernah saya dengar. Setelah itu si tentara turun dan mengamati mobilnya. Diluar dugaan sebelumnya, ia hanya menepuk bahu saya dan berpesan supaya lain kali lebih hati-hati. Tentu saja saya menjadi lega, dan  kejadian itu membuat saya belajar . Setelah beberapa saat,  saya putuskan untuk memaafkan dengan tulus pengusaha yang pernah mencaci maki saya.  Rasanya saya akan dapat mengangguk kepadanya  jika kebetulan kami bertemu sambil tersenyum.

Begitu saya memutuskan memberi maaf, saat itu juga beban kemarahan di kepala saya hilang dan  saya bahkan merasa seperti orang yang naik tingkat ke posisi yang lebih tinggi. Saya merasa lebih dewasa dan bermartabat. Suatu perasaan yang aneh, tidak terduga dan tidak ternilai.

Sudah siap untuk membuka pintu maaf? Setulus-tulusnya.

Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.



Herman Kwok

Director of SemutApi Colony

www.semutapi.com