|
Sudahlah, Saya Maafkan Herman Kwok
Kalo begini gak kuat
juga. Saya sudah
berusaha semaksimal yang saya mampu, tapi tetap dianggap tidak serius. demikian
yang Ayu sampaikan dalam emailnya. Di dalam emailnya terdapat penjelasan tentang masalah yang
dihadapi. Ternyata terdapat salah persepsi mengenai pekerjaan Ayu dengan
atasannya. Si atasan menyimpulkan bahwa Ayu tidak bersungguh-sungguh
mengerjakan tugasnya. Padahal Ayu telah mengerjakan banyak detail yang tidak
terlihat oleh atasannya hingga suatu ketika timbul keterlambatan pekerjaan yang
diluar wewenangnya, ia langsung terkena damprat.
Ayu merasa
terjepit dalam situasi sulit diluar kemampuannya tapi tidak punya cukup
wewenang. Saya sendiri mengenalnya cukup baik bahwa sebenarnya Ayu adalah orang
yang cerdas, punya integritas serta bertanggung jawab. Bukan type orang yang suka
berpura-pura sibuk. Hanya saja sedang apes sehingga dimarahi di depan orang
lain. Akibat kejadian ini Ayu menjadi demotivasi sehingga memutuskan untuk
menyerah dan berhenti dari pekerjaannya. Setelah mengobrol dengannya beberapa
saat, saya sampaikan bahwa saya akan berbicara dengan atasannya. Sementara yang
dapat dilakukannya adalah membuka pintu maaf supaya pikirannya tidak terbeban.
Kadang-kadang
lebih sulit memberi maaf daripada meminta maaf, apalagi untuk kesalahan
yang bukan kita sumbernya. Kata-kata
makian yang menimpa seseorang seperti paku yang ditancapkan ke batang pohon.
Walaupun paku tersebut dicabut, lubangnya tetap menganga di batang pohon
tersebut.
Lima belas
tahun yang lalu saya dan seorang rekan mengalami kejadian yang tidak
terlupakan, diamuk oleh makian selama hampir 2 jam. Yang mengamuk adalah
seorang pengusaha besar. Berdua, kami duduk di depan meja besar di ruangan
kantornya yang dingin dan dicaci-maki
dengan suara yang menggelegar. Segala macam makian terlontar, dari kebun
binatang hingga keluar kalimat bahwa kepala kami bisa dibeli. Itu, adalah 2 jam terlama dalam hidup saya.
Penyebabnya
adalah karena kami mengerjakan proyek yang menurutnya tidak sesuai spesifikasi.
Persetujuan awal secara lisan dengannya adalah kami mengerjakan proyek dengan
spesifikasi standar (kelas C), kemudian pada saat pelaksanaan, proyek diawasi
anak buahnya yang meminta spesifikasi tinggi (kelas A), sehingga sering
menimbulkan konflik di lapangan. Setelah peristiwa amukan itu kami menjadi
dendam dan berniat membalas dengan segala cara, misalnya dengan menimpuk kantor
atau mobilnya, untungnya urung dilakukan. Selama 1 tahun lebih saya terbeban
oleh dendam yang menempel di kepala.
Hingga
tiba pada satu peristiwa yang membuat saya berubah. Pada suatu sore dalam
gerimis dan kondisi jalan licin, mobil saya menabrak mobil tentara di depan. Dengan
inisiatif sendiri langsung saya hampiri tentara tersebut dan meminta maaf.
Dalam hati berpikir, pasti urusannya akan menjadi panjang seperti cerita yang
pernah saya dengar. Setelah itu si tentara turun dan mengamati mobilnya. Diluar
dugaan sebelumnya, ia hanya menepuk bahu saya dan berpesan supaya lain kali
lebih hati-hati. Tentu saja saya menjadi lega, dan kejadian itu membuat saya belajar . Setelah
beberapa saat, saya putuskan untuk memaafkan
dengan tulus pengusaha yang pernah mencaci maki saya. Rasanya saya akan dapat mengangguk kepadanya jika kebetulan kami bertemu sambil tersenyum.
Begitu
saya memutuskan memberi maaf, saat itu juga beban kemarahan di kepala saya
hilang dan saya bahkan merasa seperti
orang yang naik tingkat ke posisi yang lebih tinggi. Saya merasa lebih dewasa
dan bermartabat. Suatu perasaan yang aneh, tidak terduga dan tidak ternilai.
Sudah siap
untuk membuka pintu maaf? Setulus-tulusnya.
Minal Aidin Wal Faidzin, Mohon Maaf Lahir
dan Batin.
Herman Kwok
Director of SemutApi Colony
www.semutapi.com
|