Jangan Percaya Modal Dengkul
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Jangan Percaya Modal Dengkul
Agoeng Widyatmoko

Saya ingat persis sebuah pepatah yang diucapkan oleh rekan saya, Kalau kamu memberi kacang, dapatnya monyet! Ucapan itu meluncur sewaktu dulu pernah kami pernah berdiskusi soal adakah usaha yang sama sekali tak perlu mengeluarkan biaya.

Sampai saat ketika obrolan selesai, tak ada kesepakatan bulat tentang usaha yang murni tak bermodal sama sekali. Bukannya mencoba menepis anggapan bahwa ada orang yang mengatakan modal dengkul pun bisa menghasilkan miliaran. Tapi, pada kenyataannya memang semua usaha pasti butuh modal. Bahkan, saat itu, anekdot yang muncul mengatakan, lah, kalau mengaku modalnya dengkul, berarti dengkul itu modal juga dong. Jadi, pasti semua usaha butuh modal. Nah!

Semua percakapan itu mengingatkan saya sewaktu jaman masih sekolah di SD, guru bahasa Jawa saya mengatakan, "Jer basuki mawa bea". Terjemahan bebasnya adalah tak ada sesuatu yang bisa didapat tanpa membutuhkan pengorbanan. Balik ke masa kini, saya jadi teringat sebuah kasus saat dulu saya getol memulai usaha dengan istri.

Suatu hari, kami datang ke sebuah pameran pariwisata di sebuah gedung di Jakarta. Inginnya sih cari-cari liburan murah meriah yang terjangkau kantong kami saat itu. Sampai di pintu depan, kami sempat kaget. Pameran yang kami kira gratisan, ternyata harus bayar. Beli tiketnya pun cukup mahal [menurut ukuran kami] yang kala itu memang iseng saja pengen datang ke pameran.

Walhasil, kami pun pikir-pikir kembali untuk masuk ke pameran tersebut. Tapi, karena kami sudah berada di sana, alias terlanjur, maka kami pun bayar tiket itu. Ada dua hal yang mendorong kami waktu itu sehingga memutuskan membayar tiket masuk. Pertama, berharap dengan hadiah kuis yang memang memberi doorprize liburan gratis. Kedua, kami berharap bisa bertemu dengan orang atau perusahaan yang bisa kami prospek untuk relasi jangka panjang ke depan.

Singkat cerita, setahun berikutnya, setelah kami mendirikan usaha, kami pun membuka-buka dokumen relasi dan kartu-kartu nama yang kami dapat dari berbagai acara. Salah satunya, dari pameran yang kami datangi dengan ongkos yang mahal kala itu.

Dari beberapa daftar perusahaan, kami pun mengirimkan proposal penawaran dan menelepon kontak yang ada dalam kartu nama tersebut. Dari sekian banyak, ternyata ada yang merespon dengan tanggapan positif. "Bisa bantu kami mengerjakan ini tidak? Waktunya jangan lama-lama, kalau oke, langsung teken surat perintah kerja, dan down payment 50% segera akan kami bayarkan!" Wow...wow... sangat mengejutkan sekaligus menggembirakan! Pancingan kami-dengan membayar sejumlah harga tiket masuk pameran-berbuah "ikan" yang tak disangka-sangka!

Pengalaman tersebut sedikit banyak menguak misteri adiluhung pepatah Jawa yang tadi saya sebut di awal. Sekaligus, menjawab pertanyaan soal modal yang sampai kini masih terus jadi perdebatan. Saya kini meyakini, modal itu memang HARUS! Kalau mau usaha, modal itu perlu. Tapi, dalam hal ini saya terjemahkan modal ini bisa bermacam-macam. Relasi yang terbina sejak lama, kemampuan artistik, kemampuan melobi, kemampuan menulis, kemampuan berbicara, banyak teman, modal kartu nama, modal cerita, modal proposal, bahkan [maaf] wajah cantik dan ganteng pun bisa jadi modal usaha. Dan, tentunya, uang pun tetap jadi modal yang tetap sakti untuk jadi pengusaha.

Intinya, maksimalkan peluang, jangan pernah meremehkan kemampuan yang kita miliki. Maka setiap saat, jika Anda jeli, menjadi pengusaha itu sangat mudah, asal punya modal! Jadi, masih percayakah Anda dengan modal dengkul?

Agoeng Widyatmoko adalah konsultan usaha kecil keluarga. Saat ini, ia mendirikan DapurTulis, sebuah usaha jasa penulisan; DapurIde, sebuah usaha jasa komunikasi; dan DapurEvent, sebuah usaha jasa penyelenggara event. Ia dapat dihubungi di 0812 895 0818