Sukses Spritual Saya
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Tetap

Sukses Spritual Saya
Prie GS

Selain soal-soal yang memalukan untuk dikenang, juga ada soal-soal yang membanggakan. Siapa saja, tak terkecuali saya. Kelakuan saya yang memalukan, pasti banyak sekali. Pernah ada suatu kali di masa kanak-kanak saya, saking laparnya, saya merebut roti yang sedang dimakan teman begitu saja. Anak itu menjerit-jerit hingga menggemparkan seluluh desa. Mestinya saya malu, tetapi kelaparan itu, mengatasi seluruh rasa yang ada.

          Makin bertambah umur saya, makin banyak saja daftar kesalahan dan aib yang saya produksi. Sekian banyak lainnya jelas tak mungkin saya ceritakan di sini karena jika seluruh aib dibuka, pasti saya tak kuat menanggungnya. Jika misalnya, daftar aib itu dibacalan di tempat umum dan digelar sebagai tontonan, saya bisa mati berdiri. Inilah kenapa ada orang yang memilih mati ketaimbang malu. Maka hukum mempermalukan itu penting pula dipikirkan untuk para koruptor selain hukuman mati.

 Tetapi selain soal-soal yang memalukan, ternyata saya juga punya sesuatu yang membanggakan setidaknya bagi diri saya sendiri. Dan kebanggaan itu, betapapun sedikitnya, saya kenang senantiasa untuk menyemangati agar saya berani melakukan kebaikan-kebaikan  serupa. Karena inilah dilemanya, perbuatan baik itu, perbuatan yang membanggakan  itu, biasanya syaratnya berat sekali. Tetapi inilah juga asyiknya, jika kita sanggup melakukannya, jika kita sanggup mengatasi keberatan-keberatannya, hadiahnya juga pantas sekali. Hadiah paling berharga adalah perasaan berharga dan itu bisa meggembirakan hati saya hingga hari ini. Saya bangga pernah  melakukan perbuatan itu. Dan dari sedikit perbuatan yang saya banggai itu, saya kutipkan saja salah satu.

Baru lulus SMA saat itu, saya menggelandang ke Jakarta dan bekarier  sebagai kartunis adalah impian terbesar saya. Pencapaian tertinggi saya adalah diterima sebagai  bagian dari ‘'gerombolan'' kartunis di lembaran bergambar Pos Kota yang waktu sedang hebat-hebatnya. Tetapi sebelumnya   saya benar-benar seorang gelandangan. Hidup serupa petani tadah hujan, jika ada hujan makan, jika kekeringan puasa.

Pada saat keadaan sedang begitu buruknya, datanglah  surat dari sebuah majalah yang meminta saya mengambil honor kartun yang dimuat di sana. Sudah tentu surat ini seperti guntur menggelegar di angkasa. Seluruh langit Jakarta rasanya bergetar oleh kegembiraan saya. Maka dengan ngutang kanan-kiri sekadar untuk bisa sampai di kantor redaksi, saya naik bus kota dengan semangat menyala-nyala. Kepada yang  sudah memberi hutangan telah saya janjikan pengembalian belipat karena saya nanti pasti pulang dalam keadaan kaya raya, pikir saya.

Maka sampailah saya di kantor redaksi majalah yang baik hati  itu, yang sekretaris redaksinya ramah  sekali. Ia paham saya ada di Jakarta, maka honor itu sengaja tidak dia dikirim agar saya datang mengambilnya.

‘'Biar sekalian kenalan,'' katanya. Saya terkesima  pada kebaiknnya. Lalu ia menyodorkan selembar kuitansi. Dasar orang susah, mata saya secepat kilat menyergap angka yang tertera di dalamnya. Ooi, untuk ukuran kemiskinan, duit itu besoaaaaar sekali. Gemetaran tangan saya. Sudah saya bayangkan, anak-anak penganggur di kampung sumpek tempat saya numpang hidup itu akan  saya traktir ketoprak sekenyangnya. Hari yang dahsyat!

Tapi sebelum kuitansi itu saya tanda tangani, sekretaris redaksi yang baik itu mengambil majalahnya  sebagai nonor bukti. Ia akan menunjukkan gambar-gambar saya yang telah dimuat. Mendapat duit, memandangi karya sendiri, patsi indah sekali. Dengan emosi saya membuka majalahnya, untuk segera mengagumi karya sendiri. Dan astaga, gambar-gambar yang terpacak itu. bukan gambar saya! Rupanya terjadi kesalahan administrasi di majalah ini; gambar orang lain, didata sebagai gambar saya. Saya gemetaran hebat,. Keringat dingin langsung merembes  di sekujur tengkuk. Jika saya tandatangani, berarti saya mencuri rezeki teman  sendiri, yang bisa jadi lebih miskin dari saya. Tetapi jika tidak, saya akan pulang jalan kaki  dan menjadi bahan tertawaan anak-anak kampung sumpek itu. Saya berdebat dengan diri sendiri keraaaaaas sekali. Dan  saya memilih keputusan kedua!  Saya memilih pulang jalan kaki melintasi Jakarta yang panas dan hampir pingsan dipanggang lapar dan lelah. Tetapi saya mengenang keputusan  itu dengan bangga.

Inilah dorongan  spritual itu. Ia menjadi  kuat sekali karena dibimbing oleh kepercayaan kita kepada nilai. Dan saya tidak malu mengaku, bahwa saya dari hari ke hari, ingin terus bernilai!