|
Visualisasi Atau Melamun Mariani Ng
Banyak orang mulai mempraktekkan visualisasi dengan
sengaja akhir-akhir ini. Semenjak film "The Secret" dan buku-buku senada
bermunculan, praktek visualisasi seakan menjadi mutlak mengiringi setiap
langkah mencapai apa yang diinginkan. Secara harafiah, visualisasi adalah
sebuah istilah yang berarti membayangkan, menggambarkan dengan jelas dalam
realita internal seseorang (visual=lihat/gambarkan). Namun secara umum,
visualisasi ini lebih terkait dengan imajinasi secara visual (gambar) di dalam
realita internal seseorang. Membayangkan apa yang diinginkan dengan sepenuh
hati, fokus dan berintensi. Yang menjadi pertanyaan sekarang, bagaimana
membedakan visualisasi dan melamun?
Ruben baru bangun. Matanya masih terasa berat untuk
buka sepenuhnya. Dengan badan masih berbaring di tempat tidur, dia mulai
memikirkan rencana demi rencana buat hari ini. Sebentar tampak dia
mengernyitkan alisnya sambil menerawang tak jelas .. tangannya mengelus dagu
kelihatan berpikir. Tak lama kemudian tampak senyum kembali menghias wajahnya.
Hampir 30 menit dia di situ, berbaring sambil
berpikir ... tidak jelas apa yang dipikirkan. Sang istri yang dari tadi sudah
keluar masuk kamar kini sudah rapi hendak berangkat kantor.
"Ben, kamu tidak ke kantor hari ini?", tanya Ima,
istrinya dengan heran.
"Saya sedang visualisasi, Ma", jawabnya
menerangkan. "Katanya kalau mau berhasil, kita harus bisa memvisualisasikannya".
"Setuju", timpal Ima sambil menunggu kelanjutannya.
"Saya sedang visualisasi apa yang akan saya lakukan
hari ini", lanjut Ruben.
"Hmmm ...".
"Kalau dulu presentasiku kurang bagus, sekarang
visualisasi dan tahu bagaimana agar lebih bagus lagi".
"Lalu?".
"Saya juga ingat bulan lalu tidak mencapai target,
masih terbayang persis bagaimana kecewanya saya waktu tidak mendapat bonus.
Sekarang pasti tidak akan terjadi lagi". "Saya visualisasi ...".
"Apa yang kamu visualisasikan?".
"Planning hari ini", jawab Ruben.
"Apa planningmu hari ini?", tanya Ima ingin tahu.
Yang ditanya tidak menjawab, memikirkan kembali apa
yang divisualisasi tadi. "Tentang rutinitas biasa lah seperti kemarin".
"Membayangkan bagaimana ketika saya tiba di kantor,
ngobrol gono gini dengan teman2 .. lalu ya mulai duduk dan selesaikan laporan
kemarin".
"Hmmm ... menarik. Lalu apa rencanamu hari ini?",
tanya Ima penasaran.
"Menyelesaikan laporan kemarin ... lalu kemudian ada
presentasi. Yang penting hari ini akan lebih baik dari kemarin".
"Seperti apa?"
Ruben terdiam.
"Saya pasti berhasil", jawab Ruben pelan, mulai
merasakan ada yang tidak tepat.
"Seperti apa, Ben?", Ima mengulangi pertanyaan yang
sama lagi.
Lagi-lagi Ruben terdiam.
Seperti apa?
Terbayang jelas apa yang telah dilakukan selama ini
yang tidak berbuah pada tujuan yang ingin dicapai. Tujuan yang ingin dicapai?
Hmmm .... tiba-tiba saja Ruben terdiam. Apa tujuan yang ingin dicapai? Sudah
lama tidak terpikirkan lagi, semenjak dia merasa gagal beberapa bulan lalu ..
apa yang dia tahu adalah menghindari kesalahan dan kegagalan.
Tadi pagipun dia bisa memvisualisasi dengan jelas
pengalaman demi pengalaman yang pernah dilakukan. Ketika presentasi yang
diberikan tidak berjalan mulus sesuai harapan, lalu bagaimana dia berusaha
tetap terus menjelaskan dengan terbata-bata di depan forum, bulan lalu. Dia
bisa memvisualisasi dengan jelas apa yang terjadi ketika dia tidak berhasil
mencapai target perusahaan, dan bagaimana dia menerima kenyataan itu dengan
kecewa .. kehilangan bonus.
Dari situ dia melihat dirinya kecewa, dan bertekad
bulat untuk tidak mengulanginya lagi. Visualisasi atas apa yang pernah terjadi,
pengalaman-pengalaman buruk yang pernah dilalui. Hanya sebuah tekad, yang
membuatnya kembali bersemangat untuk tidak kembali melakukan kesalahan yang
sama. Hanya sebuah tekad, yang tidak menjelaskan apa yang perlu dilakukan
berikutnya. Hanya sebuah tekad, yang tidak memerinci dengan jelas rencana ke
depan.
Visualisasi tetaplah visualisasi, membayangkan.
Namun pada cerita di atas, Ruben lebih tepat dikatakan sebagai melamun, memikirkan kembali apa yang pernah terjadi,
yang dilakukan dengan cara memutar kembali "movie of mind", video memori kita.
Otak kita memiliki dua kemampuan yang sama kuat
dampaknya dalam hal visualisasi, membayangkan apa yang pernah terjadi dan/atau
membayangkan apa yang akan terjadi. Kedua kemampuan ini memberi aspek nyata
bagi otak sebagai sesuatu yang benar-benar sedang terjadi, sehingga langsung
memberi respon secara nyata pula atas apa yang dibayangkan tersebut. Bila yang
dibayangkan negatif, otomatis akan memberi respon negatif pada pikiran dan perasaan
seseorang, dan vice versa.
Sebenarnya, visualisasi yang dimaksud orang banyak
belakangan ini adalah visualisasi atas apa yang kita inginkan, yang belum terjadi
dan kita harapkan terjadi. Dengan demikian, otak akan merekam seakan-akan
sedang mengalami dan mencapai hasil sesuai keinginan. Otak akan menganggap ini nyata
sehingga tumbuh semangat untuk segera meraihnya. Seluruh perhatian dan energi
dalam tubuh akan terfokus pada hal yang diinginkan tersebut sehingga mudah
tercapai.
Akan beda ceritanya kalau kita membayangkan apa
yang pernah terjadi. Melamun, namanya. Hal ini juga akan berdampak meningkatkan
semangat pula, hanya semangat yang muncul adalah semangat menghindari
pengalaman buruk. Pengalaman buruk yang terbayang, pengalaman buruk pula yang
akan diperoleh. As we map things, so we
become.
|