|
Komitmen Ardian Syam
Tidak perlulah kita
diskusikan lagi definisi kata itu, ya? Rasanya semua yang ikut diskusi
ini sudah tahu dengan tepat dan tidak ada ambiguitas akan makna dari
kata itu. Saya hanya ingin menyatakan bahwa inilah metode pembelajaran
yang paling efektif untuk banyak hal. Maaf,
sebelum Anda salah menangkap efektifitas metode ini untuk banyak hal,
mari kita lupakan dulu banyak hal kecuali definisi kata ini saja.
Nah,
kita masuk ke perusahaan masing-masing. Pasti ada komitmen di sana.
Antara atasan dan bawahan, juga antara perusahaan dan konsumen. Ada
kalanya berbagai hal membuat Anda kesulitan memenuhi komitmen Anda,
baik sebagai bawahan kepada atasan, maupun atas nama perusahaan kepada
konsumen. Di
sinilah pembelajaran yang saya maksud. Karena konsumen akan mengajarkan
pada perusahaan. Atau atasan akan memberikan pelajaran pada bawahan.
Pelajaran buruk! Mengapa bisa pelajaran buruk? Ya,
iya lah. Ketika konsumen tidak meninggalkan perusahaan dengan memilih
produk dari perusahaan lain, maka perusahaan menganggap, tidak ada
masalah bila kualitas produk mereka menurut karena tidak memberikan
komitmen. Begitu pula yang terjadi di benak bawahan.
Bila tidak ada punishment apapun
dari atasan terhadap performansi kerja mereka, maka mereka belajar
bahwa tidak ada masalah kalau kinerja mereka memburuk. Toh mereka tidak
kehilangan jabatan, fasilitas tidak ditarik, dan banyak kemudahan lain
yang selama ini mereka dapatkan masih tetap ada. Berarti bisa juga dilihat bahwa si atasan juga tidak punya komitmen terhadap performansi? Nah,
itu baru cerdas! Benar sekali, dugaan Anda itu. Si atasan juga berarti
memang tidak punya komitmen sedikitpun terhadap performansi. Karena
ketika dia tahu bahwa bawahannya tidak perform, tetapi dia tidak melakukan punishment apapun,
dia juga belajar bahwa performansi tersebut kemudian akan semakin
melorot.
Nah, saya yakin Anda bukan atasan yang bodoh, yang tidak tahu
bahwa performansi itu semakin lama semakin terlihat merosot. Tetapi, saya sebagai atasan tidak dapat serta merta memberikan punishment. Kan ada serangkaian aturan tentang memberi punishment di perusahaan kami. Oh ya? Serangkaian, kan? Dan benarkah Anda memang sudah mencermati seluruh rangkaian pemberian punishment? Benarkah Anda sudah membuka "kacamata kuda" Anda? Oh, mungkin maksudnya stick and carrot theory ya? Tepat sekali. Aduh, rasanya senang sekali bisa berdiskusi dengan orang secerdas Anda! Karena tadi teman Anda yang sempat berfikir bahwa punishment hanya dapat dicari di aturan tentang punishment jadi tercerahkan dengan pertanyaan Anda barusan. Kita memang sedang bicara tentang punishment tetapi tidak harus stick. Ada carrot yang kita ikat di ujung stick, dan ketika performansi menurun, mengapa tidak menjauhkan carrot tersebut dari jangkauan?
Ya, daripada kita semua berfikir bagaimana menghukum orang karena performansinya menurun, mengapa tidak menunda reward yang harusnya dia terima. Kalau perlu, batalkan! Bagi
sebagian pegawai Anda, dipindahkan ke tempat yang tidak prestisius
saja, sudah dianggap sebagai hukuman. Padahal di tempat yang tidak
prestisius tersebut, dengan kompetensi utama ataupun kompetensi
tambahan yang dia miliki, mungkin dia malah menjadi "bersinar".
Sehingga ketika dia benar-benar "bersinar" dia bahkan bisa mendapatkan reward yang lebih besar daripada yang sebelumnya Anda batalkan. Pernah terfikir begitu? Benar juga ya? Apalagi kalau "bersinar" nya dia, malah memberikan tambahan keuntungan finansial bagi perusahaan!
Astaga, betapa menyenangkan diskusi kita kali ini. Anda memang benar-benar cerdas! Nah,
sekarang kita balik lagi ke kata komitmen tadi. Ketika Anda
menandatangani komitmen dengan bawahan Anda, dan ketika performansinya
tidak sesuai dengan komitmen yang dia janjikan, maka dia akan menjawab,
bahwa bagaimana dia bisa menjual bila barang dagangan tidak Anda
siapkan di tempatnya. Ini juga komitmen Anda. Tapi, kan ketersediaan barang dagang di tempat penjualan juga melibatkan pihak lain? Ya
iyalah. Tapi Anda punya kewenangan atau bisa meminjam kewenangan atasan
untuk memastikan barang tersebut tersedia di tempat penjualan dan siap
untuk dijual?
Oh,
tentu. Saya punya posisi cukup tinggi untuk menggunakan kewenangan
termasuk meminjam kewenangan atasan saya agar barang dagang tersedia di
tempat penjualan. Apapun posisi Anda, bila Anda bukan pemilik perusahaan, maka masih ada atasan lagi, bukan? Karena Anda commit dengan
performansi, dan memang ketersediaan barang dagang di tempat
penjualanlah penyebabnya, komitmen Anda sedang dipertaruhkan! Jadi saya mengusulkan untuk menunda reward, bonus atau insentif saya? Saya percaya Anda cerdas, dan saya percaya Anda commit, serta
saya percaya Anda berani melakukan itu. Karena saya percaya bahwa Anda
sudah sangat paham bahwa komitmen Anda sekarang sedang dipertaruhkan.
Jadi?
Anda bersedia kehilangan reputasi sebagai orang yang punya komitmen,
sebagai orang yang cerdas dan berani? Anda juga rela kehilangan
reputasi sebagai orang yang jujur? Saya yakin, Anda akan menjawab:
Tidak!!!
Karena Tuhan tahu bahwa Anda orang yang punya komitmen, cerdas, berani dan jujur.
Medan - Agustus 2008 - bukakacamatakuda.blogspot.com
|