Bodoh Yang Relatif Bagian 1
AW, Andrie Wongso - Action & Wisdom Motivation Training - Artikel Anda

Bodoh Yang Relatif Bagian 1
Tiny Wijaya

Manusia selalu haus akan pengakuan diri seperti pujian, sanjungan dan penghormatan yang kadang-kadang membuat si"aku" terbang tinggi hingga lupa bagaimana cara mendarat. Pada satu sisi pengakuan diri (self acknowledgement) memang memberikan suatu ganjaran yang dapat memacu kita untuk selalu mempertahankan posisi "aku" yang telah diakui tersebut. Tetapi disisi lain self acknowledgment yang tidak disertai dengan kewaspadaan malah akan menjerumuskan diri kedalam "kurungan sombong" yang justru dapat mengurangi pengakuan diri itu sendiri.

Banyak contoh yang bisa kita lihat untuk membuktikan hal itu, seperti apa yang terjadi ketika Zainuddin MZ ikut dalam kancah politik, ketika Aa Gym memutuskan berpoligami ? Akibat ketidakwaspadaannya sendiri, semua pengakuan yang dielu-elukan para pengikut ataupun penggemarnya yang notabene setia selama ini seolah memudar begitu saja, hilang ditelan kekecewaan. Terkadang memang lebih mudah meraih daripada mempertahankan apa yang telah diraih.

Pujian, sanjungan dan penghormatan sebenarnya hanyalah secuil "kesegaran" yang kita butuhkan dalam proses menjalani hidup ini. Bagaikan mata uang yang selalu mempunyai dua sisi untuk menunjukkan keabsahan nominal yang tertulis diatasnya, manusia pun demikian. Dibalik "kesegaran" tadi manusia memerlukan "pecut" berupa kritik, cemoohan atau bahkan hinaan sebagai pemacu untuk membuktikan nilai diri.

Coba kita perhatikan, bagaimana perasaan kita saat menerima pujian dan bagaimana pada saat menerima penghinaan? Pasti orang akan lebih senang dengan pernyataan "Wah, anda pintar sekali" dan tentunya berbeda rasa bila menerima pernyaan seperti ini "Bagaimana sih, kamu bodoh sekali!". Padahal kedua respon ini seharusnya dipandang memiliki esensi yang sama dalam memacu diri untuk terus belajar. Bahkan kalau boleh saya memilih, diantara lima komentar yang saya terima dari orang lain sebaiknya tiga berupa pujian dan dua berupa kritik atau cemoohan. Kenapa saya memilih demikian? Mari kita analisis bersama. (bersambung)