|
Melihat Kepentingan Apa Yang Kita Makan Pitoyo Amrih
Sampai saat ini saya
masih merasa kesulitan untuk menemukan cara yang pas bila saja suatu
ketika saya harus bernegosiasi dengan anak saya yang masih berumur enam
tahun, ketika dia mengajak saya untuk mampir makan di restoran cepat
saji yang hampir selalu ada di setiap mall-mall di kota besar. Dengan sajian khas berupa burger, kentang atau fried-chicken.
Terutama bagi anak-anak, cita rasa menu mereka memang mengundang
selera. Dan hampir selalu menawarkan gift-gift paket mainan menarik
yang selalu baru.
Kira-kira
bentuk penjelasan seperti bagaimana yang harus saya sampaikan kepada
anak saya? Apakah karena makanan-makanan itu tidak memiliki nilai gizi
yang optimum bagi pertumbuhan? Ataukah karena harga makanan itu yang
sebenarnya tidak sepadan bagi nilai tambah kesehatan bagi tubuh kita
(dalam arti bahwa kalau ‘hanya' butuh makan, harga segitu masih membuka
banyak kemungkinan untuk mendapatkan makanan yang jauh lebih bermanfaat
bagi tubuh)? Ataukah mencoba memberi penjelasan bahwa yang dikatakan
diiklan-iklan itu sebenarnya tidak selalu mencerminkan keadaan
sesungguhnya, bahwa apa yang disampaikan di iklan adalah dalam rangka
persuasi untuk sekedar membeli produk mereka?
"..kalau
begitu,..mereka bohong dong, Pa..?" kata anak saya menimpali. Sampai di
sini, kembali saya tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk
memberi penjelasan lebih lanjut secara logis. Mungkin urusan dunia ini
-baca : urusan orang dewasa- sudah terlalu rumit bagi usianya. Kita
sebagai orang tua tidak bisa lagi membuat potret kejadian-kejadian yang
begitu abu-abu di tengah-tengah kita, menjadi sebuah kepolosan
hitam-putih sehingga dengan jujur dapat kita jelaskan kepada anak-anak
kita apa yang sebenarnya terjadi.
Kembali
pada urusan makan. Apa yang saya coba utarakan dengan ilustrasi cerita
saya bersama anak saya di atas adalah, bagaimana kita sebagai manusia
ini, dari kurun waktu ke waktu semakin tidak efisien. Secara teori kita
mengerti apa itu efisiensi, berusaha menggagas bagaimana
meningkatkannya, dalam kehidupan ekonomi, bisnis, dunia usaha. Tapi
lihatlah, bila gambaran besar itu kita tarik di kepala kita, secara
kolektif kita justru semakin tidak efisien.
Kita
coba tarik secara ekstrim. Dahulu sekali, dalam masyarakat tradisional,
urusan makan memakan akan selalu menghasilkan sampah organik, yang bila
dibuang ditimbun di tanah akan selalu terurai, membusuk dan memutar
kembali siklus ekosistem rantai makanan kehidupan. Sehingga bisa
dikatakan tak ada sampah yang terbuang untuk kepentingan perut manusia.
Tapi lihatlah sekarang. Informasi yang ada di kota Jakarta misalnya, saat ini rata-rata satu warga Jakarta
menghasilkan dua kilogram sampah setiap harinya! Dan sedihnya, sekitar
51% dari sampah itu adalah sampah non-organik. Sampah yang tidak bisa
diproses kembali. Kebanyakan berupa plastik dan kertas pembungkus
makanan! Hmm, lagi-lagi urusan perut!
Kita
coba renungi, untuk urusan perut ini, dan demi mengimbangi kemajuan
teknologi bagi manusia yang menjadi super sibuk ini, banyak ditawarkan
solusi-solusi. Maunya demi efisiensi, tapi berkembang menjadi sesuatu
hal yang seperti saya utarakan di atas. Karena kesibukan manusia,
dicipatakan solusi makanan cepat saji, sehingga dibuat wadah plastik,
sendok plastik sekali pakai, bungkus plastik. Demi sebuah alasan
higienis, dibuat pembungkus-pembungkus makanan yang bisa mengisolasi
makanan dari pengaruh mikroorganisme lingkungan. Dengan konsekuensi
justru pembungkus ini tidak bisa diurai ketika menjadi sampah.
Demi
memanjakan manusia yang sudah diburu tuntutan kehidupan, dibuatlah
banyak macam ragam jenis makanan dengan variasi rasa dan harga.
Muncullah kebiasaan orang beli ini beli itu hanya sekedar ingin
merasakan, menyisakan sebagian besar makanannya untuk dibuang. Juga
menjadikan manusia mengeluarkan uang jauh lebih banyak dari sekedar
manfaat untuk mengatasi rasa lapar, dan memberi nutrisi dan gizi yang
cukup bagi tubuh.
Ada
baiknya kita mulai mencoba merubah apa dan bagaimana kita makan. Tidak
sekedar memenuhi rasa lapar, tapi juga melihat pentingnya. Kita coba
tularkan kebiasaan ini kepada anak-anak kita dan orang-orang disekitar
kita. Saya mendengar bahwa rata-rata usia cenderung semakin muda atas
mulai munculnya gejala penyakit gula, kolesterol tinggi, asam urat.
Mungkin juga karena kebiasaan pola makan kita...
11 Juli 2008
Pitoyo Amrih
www.pitoyo.com
Bersama Memberdayakan Diri dan Keluarga
|