|
Bertahan Hidup Dengan Kekurangan Yongky
Seperti biasa setiap hari selasa pagi,
dikantorku mengadakan metting Mingguan, Karena takut terlambat metting
dikantor, aku buru-buru mencegat tukang ojeg yang mangkal didekat salah
satu stasiun swasta di Jakarta Barat. Sedikit kaget dan iba, Ternyata
tukang ojeg yang aku panggil ternyata seorang tuna runggu (bisu), Aku
sempat binggung bagaimana cara memulai komunikasi dengan seorang yang
tidak bisa bicara selancar manusia normal. Akhirnya dengan bahasa tubuh
semampuku aku bisa berkomunikasi dengannya dan dia dapat
mengantarkan aku cepat dan tepat dikantor, sehingga aku tidak terlambat
metting hari itu.
Sempat
aku renungkan seorang tuna rungu, narik ojeg sangat jarang sekali. Tapi
pekerjaan itu Sangat mulia. Dan dia berjuang keras dengan tukang ojeg
yang lain
yang bicara
lancar serta komunikasi lebih baik, tidak seperti dia seorang bisu yang
mungkin sangat mempengaruh indra pendengarannya juga. Tetapi dia tidak
patah semangat dan minder, dengan Rasa percaya diri dan suatu kemauan keras dapat bertahan hidup dikota metropolitan ini.
Dengan
bahasa tubuh, dan sedikit bicara "ah uch...uch..." dia tetap yakin dapat
mengantar orang ketujuannya. Itulah yang dilakonin Tukang Ojeg bisu
yang penuh percaya diri dan meyakinkan dia bisa, layaknya seperti
seorang yang tidak mempunyai kekurangan apa-apa terhadap dirinya.
Semestinya kita harus menerima apa yang ada kekurangan dalam diri kita
Termasuk fisik, Karena Tuhan mempunyai suatu rencana yang lebih baik dan bermakna.
"Sesuatu kekurangan dalam diri baik fisik atau hal lainnya, dapat menjadi nilai lebih bagi orang lain dan Diri kita sendiri"
Yongky (Pembaca Setia www.andriewongso.com) |