|
Bulu Ayam Haryo Ardito
Nampak seekor Ayam dengan
bulu-bulunya yang indah berjuntai berjalan-jalan di sebuah pematang sawah. Tak jauh disana nampak seorang petani yang
sedang menjemur gabah yang baru saja dipanennya.
Melihat bulir-bulir padi yang
terkumpul, Ayam yang tengah kelaparan itu berkata:"Wahai Petani, bolehkah saya
makan padi-padimu?"
Si Petani yang melihat ayam dengan
bulu-bulunya yang indah menjawabnya"Tentu saja boleh, namun apakah saya juga
boleh memiliki beberapa helai bulu-bulumu yang indah itu?"
"Oh tentu saja boleh, silahkan
ambil yang mana yang kau suka" kata si Ayam dengan mata berbinar mendengar
pujian si Petani.
Lalu, usai si Ayam makan dengan
kenyang dan puas, dilanjutkan dengan pencabutan beberapa helai bulu-bulu
indahnya oleh si Petani.
Menyadari bahwa bulu-bulunya
memiliki nilai tukar, keesokan harinya si Ayam mendatangi rumah si Petani
menawarkan bulu-bulunya, namun kali ini si Ayam menginginkan makanan yang lebih
enak dari sekedar beras. Si Petani
setuju" Baiklah, saya akan menyediakan makanan yang enak, untuk setiap tiga
puluh helai bulu-bulumu karena saya membutuhkan sebuah kemoceng untuk
membersihkan debu-debu dirumahku"
Hari demi hari berlalu, si Ayam
sangat menikmati makanan enak yang setiap hari disajikan oleh si Petani tanpa
menyadari bulu-bulunya yang kian menipis hingga makin nampak jelas kulitnya
yang putih kemerahan.
Suatu malam turun hujan sangat
deras disertai udara sangat dingin dan pagi harinya ditemukan seekor ayam tanpa
bulu terbujur kaku mati kedinginan.
Kepada peserta Die Hard Motivation
Training di sebuah perusahaan tambang di bumi Kalimantan
yang dikenal kaya raya akan minyak dan batubara, saya bertanya "Batubara disini
kapan habisnya ya?"
Dari jawaban yang bervariasi
menandakan bahwa tak ada yang tahu dengan pasti kapan habisnya, namun semuanya
setuju jika ditambang terus tiap hari, maka suatu saat pasti akan habis.
Salam
bijaksana,
Haryo Ardito – Die Hard Motivator
Ketua
Harian Asosiasi Manajemen Indonesia – DKI Jakarta
Website: www.haryoardito.com
|