|
Iklan Meditasi Itu Prie GS - Budayawan dan penulis SKETSA INDONESIA
Iklan tentang wanita yang sedang bermeditasi itu menggambarkan dengan baik derita kita pada suatu keadaan. Wanita itu sudah anggun sikapnya, sudah benar cara duduknya, pendek kata ia telah siap memasuki sikap meditasi sempurna. Kesalahannya ialah bahwa ia harus mengingat minuman teh kesukaan dan karena teh itulah rusak seluruh konsentrasinya.
Konflik itu didahului dengan stimulan yang amat menawan. Alis yang semula tenang, pelan-pelan menangkup dan bertemu. Mata yang semula damai terpejam mulai kocak kesana-kemari. Walau masih terpejam tampak bahwa wanita ini sudah jelalatan kian kemari. Semakin keras ia berusaha berkonsentrasi, semakin payah keadaan wanita ini. Akhirnya semua berantakan. Ia memilih membubarkan segalanya demi minuman teh yang menggodanya itu.
Dan beginilah sering keadaan kita. Semakin keras kita berusaha atas sesuatu, semakin putus asa saja kita dibuatnya. Semakin diminta membuang bayangan sesuatu, bayangan itu malah muncul begitu jelasnya. Begitu dilarang membayangkan gambar monyet, si monyet itu malah muncul dengan baiknya di benak kita.
Saya sendiri memiliki tabiat aneh yang hingga hari ini belum bisa saya atasi, yakni mengantuk ketika mengetik. Anehnya rasa kantuk itu selalu datang ketika jadwal mengetik menjelang. Malang benar keadaan saya itu. Karena sambil mengetik, sambil sangat ingin tertidur. Dan jika benar-benar dibiarkan, saya bisa tertidur dengan komputer menyala. Gampang sekali saya terlelap dalam keadaan seperti ini. Tapi juga pasti akan menjadi tidur yang harus dilawan karena kerja harus diselesaikan. Jadi bisa Anda bayangkan betapa sengsaranya.
Padahal ketika kerja sudah dirampungkan, komputer sudah dimatikan, sudah tidak ada lagi yang dikerjakan, jadwal tidur sudah sampai pada waktu yang diidealkan, mata malah sulit dipejamkan. Ada apa ini! Kenapa ada jenis kantuk yang datang salah waktu! Kita mengantuk di waktu kerja dan terjaga di waktu tidur. Betapa jika berkelanjutan, hidup jenis ini pasti adalah jenis hidup yang kalut.
Dalam soal ini teryata saya tidak sendiri karena begitu pulalah derita teman saya. Ia seorang pekerja keras tapi juga seorang yang amat tertib. Setelah apapun, sepenat dan sekantuk apapun akibat kerja keras seharian, ia harus berangkat tidur dengan lebih dulu membersihkan diri. Menuju peraduan dengan rapi dan wangi itulah pendidikan yang ia terima sejak mula. Tapi itu dulu! Kini ia menempuh cara yang sebaliknya.
Kenapa? Karena yang terjadi kemudian tak lebih adalah serangkaian kejengkelan. Sekantuk apapun ia akibat kerja keras seharian, jika ia hendak tidur dengan tertib, mulai dari mandi, gosok gigi dan berbaju tidur dengan rapi, kantuknya malah tak ada lagi. Jadi, setelah seharian mengantuk dan kelelahan, semalanan, ia hanya bisa terjaga dan gelojotan. ''Akhirnya saya berperilaku seperti hewan,'' katanya. Dan kerbau adalah jenis yang dipilihnya. Artinya, begitu lelah tidur, tanpa peduli kebersihan. Begitu pulang kerja dan mata begitu kantuknya, persetan kanan kiri, tak perlu melepas baju kerja dan kaos kaki, ia akan rebah di mana saja. Hasilnya, tidur serampangan itu malah membuatnya mendengkur dengan sempurna. ''Jadi ngerbau itu kemudian teknik tidur saya,'' katanya.
Serangkaian keganjilan ini membuat saya bertanya-tanya, ternyata ada jenis rezeki yang malah menjauh, justru ketika terlalu keras kita berusaha. Ada penolakan demi penolakan kita alami, jutsru tepat ketika kita amat membutuhkan. Tapi sebaliknya, kenapa ada kabar gembira yang begitu mengagetkan kedatangannya, justru ketika kita sedang tidak berharap apa-apa. Hehehe… jangan-jangan ada kalanya, terlalu berusaha adalah sebuah kekeliruan!
Prie GS
|