|
Berbagi Alam Dengan Anak Cucu bagian I Pitoyo Amrih
Beberapa
kali saya amati, rupanya topik yang saat ini masih relatif hangat -selain
kejuaraan sepakbola piala Eropa- adalah masih seputar kenaikkan harga BBM.
Seperti biasa ada yang pro ada kontra. Yang kontra ada yang berusaha mengerti
kebijakan pemerintah, ada yang masih juga tak henti-henti menghujat. Ada yang sampai sekarang
tak henti-hentinya melakukan demo. Apakah demo mereka memang murni menyuarakan
teriakan rakyat kebanyakan? Entahlah.
Dalam
hal ini saya memilih untuk tidak akan larut dengan hanya berkutat pada wilayah
-kalau istilahnya 7 Habits- lingkaran kepedulian. Biarlah kenaikkan harga BBM
sebagai sebuah keputusan yang harus kita hargai karena diambil oleh penguasa
yang mendapat legitimasi rakyat. Sehingga dari sisi manapun, akan sangat kontra
produktif bila kita selalu saja menyalahkan pemerintah atas apa yang mereka
putuskan. Kritik boleh, tapi alangkah lebih baik bila saja kita juga berusaha
untuk mengambil bagian dari solusi. Bukan justru menjadi sumber masalah baru.
Itulah
mengapa saya ajak anda untuk coba -terhadap kenaikkan harga BBM ini- untuk
berkonsentrasi kepada lingkaran pengaruh kita masing-masing. Apa yang bisa kita
masing-masing lakukan terhadap kondisi ini?
Berulangkali
ilmuwan mengatakan bahwa energi mineral ada batasnya. Kalau kita coba sedikit
berteori, bila kita coba ingat-ingat jaman SMA dulu, dimana energi itu kekal.
Tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, mereka hanya berpindah dari
satu bentuk ke bentuk lainnya. Namun jangan lupa, ada sebuah besaran energi
yang disebut entropi. Besaran inilah yang ternyata membuktikan bahwa dari hari
ke hari, -walaupun energi itu kekal- kita menuju kepada sebuah keadaan dimana
energi semakin susah untuk didapat, semakin susah untuk bisa dinikmati secara
instan. Pendek kata, lama kelamaan energi itu akan langka! Butuh sebuah inovasi
teknologi-teknologi baru untuk membuatnya bisa dimanfaatkan.
Loh,
apa hubungannya? Sangat berhubungan! Sekian lama manusia hidup dari generasi ke
generasi, kita semakin memperoleh kemudahan atas hasil teknologi yang telah
diciptakan. Di satu sisi kemudahan bisa membuat efektif, tapi di sisi lain
kemudahan bisa mengaburkan penilaian kita. Ambil contoh misal seorang anak yang
dilahirkan dari keluarga kaya raya. Mungkin apa yang ada dibenaknya selalu
menganggap bahwa kehidupannya begitu mudah. Ingin mainan apa saja selalu saja
bisa terwujud. Kita lihat keinginannya selalu terpenuhi -baca: efektif-. Tapi
si anak akan semakin jauh dari kesadaran bahwa ‘semuanya ada batasnya'. Inilah
yang saya maksud sebagai ‘mengaburkan penilaian' kita.
Terbukti
bahwa, kita yang lahir tidak pernah mengenyam masa revolusi Industri di Eropa
dulu, atau masa resesi ekonomi dunia setelah PD I. Akan selalu dengan mudah
menstater mobil untuk pergi ke tempat yang memungkinkan untuk ditempuh dengan
jalan kaki. Kita akan dengan ringan membiarkan televisi tetap menyala, walaupun
tak ada orang yang menyaksikannnya.
Sebuah
keadaan yang sudah saatnya kita untuk berubah! Mobil butuh bahan bakar mineral.
Televisi menyala butuh tenaga listrik yang sebagian besar masih diperoleh dari
pembangkit tenaga berbahan bakar mineral. Tanpa kita saat ini merubah sifat
manja kita sebagai manusia yang tanpa sadar telah rakus mengkonsumsi alam jauh
di atas kebutuhan hakiki kita sebagai manusia, maka tidak heran bila energi
alam akan begitu cepat terkonsumsi meninggalkan laju kemampuan kita mencari
alternatif energi baru. Kita mungkin tidak begitu merasakan impak dari hal ini.
Tapi bayangkan reaksi berantai itu akan menimpa anak cucu beberapa generasi
setelah kita.
Bagaimana
pun, harga BBM cepat atau lambat memang harus naik. Bukan karena masalah
penghapusan subsidi atau apa, tapi ‘big picture'-nya memang energi ini semakin
langka. Dan seperti hukum supply-demand. Yang langka akan menjadi mahal.
Lihatlah
sisi baiknya. Dengan adanya ini kita seolah dipaksa. Dipaksa untuk berbagi
sumber daya alam dengan anak cucu kita...
(bersambung)
14
Juni 2008
Pitoyo
Amrih
www.pitoyo.com
Bersama
Memberdayakan Diri dan Keluarga
|